Aksi Aktivis Perempuan di Jember Sempat Diguyur Hujan Deras

Berita Baru Jatim, Jember — Hujan mengguyur para aktivis perempuan. Namun tetap bersatu dalam menyuarakan haknya di Jantung Kota Jember, Minggu, (8/3/2020). Mereka adalah pegiat isu perempuan, gabungan dari komunitas Rumah Teduh , LBH Jentera Perempuan, dan Kopri PMII Jember mengadakan serangkaian acara untuk memperingati “International Women’s Day 2020”.

Acara tersebut diikuti oleh beberapa komunitas seni di Jember, yang memilih meyuarakan kegelisahannya lewat karya sastra seperti musikalisasi puisi dan pembacaan puisi. Tak kalah penting inti dari acara tersebut adalah memberikan ruang dialektika bagi semua perempuan yang berada di acara tersebut untuk menyampaikan berbagai problematika yang sering dialami oleh perempuan.

Momentum hari Perempuan Internasional ini untuk membangkitkan ingatkan bahwa perjuangan untuk membangun keadilan perempuan belum selesai, permasalahan penindasan masih berlanjut.

Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan 2020, ada laporan bahwa 431.471 perempuan mengalami kekerasan, dan sangat mungkin kejadian yang tidak dilaporkan masih lebih banyak. Selama 12 tahun terakhir data kekerasan melonjak hingga 792%, hampir 8 kali lipat. Dari sisi kesehatan, angka kematian Ibu pada tahun 2019 masih 305/1000 kelahiran hidup.

Berita Terkait :  Peringati IWD, Berita Baru Angkat Peran Perempuan Papua

Sadarlah bahwa perempuan itu sama sempurnanya dengan laki-laki, perempuan itu bukan nomer dua apalagi nomer sepatu. Perempuan punya potensi yang sama, perempuan punya hak yang sama, perempuan juga memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga kehidupan. Intinya tidak ada yang berbeda dengan laki-laki, intinya perempuan harus yakin dengan dirinya bahwa dirinya sama yang tugasnya hanya beribadah kepada Tuhan.- Linda Dwi Eriyanti.

Koordinator Rumah Teduh, Linda Dwi Eriyanti mengatakan tujuan diadakannya acara ini untuk memanfaatkan momen-momen seperti peringatan Hari Perempuan Internasional, anti kekerasan sebagai ajang intropeksi diri dalam melihat problem realita para perempuan yang masih tertindas.

“Setidaknya, dari komunitas ini ada temen-temen Kopri PMII Jember, Jentera Perempuan Jember dan beberapa simpatisan yang hadir di acara ini, kami ingin membangun lagi komitmen bersama bahwa masih banyak pekerjaan yang membutuhkan perhatian kita. Diantaranya adalah isu kekerasan seksual, isu partisipasi politik yang masih rendah, angka kematian perempuan masih tinggi dan masih banyak lagi.” terang Linda pada awak media.

Berita Terkait :  Surat untuk Masku Tersayang di Malaysia

Suasana Alun-Alun Kota Jember tiba-tiba dipenuhi oleh gemuruh suara perempuan-permpuan menyampaikan sepuluh poin penting yang wajib di dengar oleh semua orang sore tadi. Tidak peduli hujan deras mengguyurnya, mereka nyatanya telah siap megahdapi situasi dan kondisi cuaca buruk seperti itu. Seperti pepatah, sedia payung sebelum hujan. Benar pula, mereka telah siap dengan mantel dan juga payungnya.

Linda menegaskan “Setidaknya kami ingin menunjukkan kepada masyarakat semangat dalam memperjuangkan hak-hak asasi perempuan. Sehingga mereka bisa tahu, apasih yang diperjuangkan kok sampai hujan-hujanan seperti itu? Dan yang kita perjuangkan di sini bukan hanya kelompok perempuan tertentu saja tetapi semua perempuan.

Sementara itu, Siti Komaria selaku Devisi Advokasi di rumah Teduh dan juga merangkap sebagai bagian internal Kopri PMII Jember mengatakan bahwa, “pengawalan isu-isu gender tersebut masih minim, sehingga kami melakukan gerakan-gerakan terakit keadilan perempuan dan isu-isu gender,  meskipun hanya di bidang pengembangan wacana. Untuk pengawalan atau advokasinya masih belum terealisasi. Untuk itu kami berkoordinasi dengan lembaga-lembaga hukum seperti LBH Jentera, YPSM, ada SETAPA juga. Mungkin, untuk saat ini kita masih melakukan penyadaran invidu dan juga lingkungan sekitar”.  Pungkasnya.

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini