Berita

 Network

 Partner

Anak Kecil dan Kakeknya yang Buta

Anak Kecil dan Kakeknya yang Buta

Sejak kecil aku sibuk bermain dan menangis; bermain dengan takdir dan menangis sebab nasib

Aku menjadi tidak tega, melihat kakinya yang terlalu berhati-hati melangkah menyusuri jalan sejauh puluhan kilometer. Mataku tidak bisa dialihkan, aku seperti membaca perlahan-lahan, menelanjangi setiap gerak yang menjelma ketakutan-ketakutan malam;

Tangannya menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai. Kagetku ketika memberikan ia uang lalu mengusap dada dengan air mata; “semoga menjadi amal untukmu, dan kesembuhan bagi kakekku”. Mataku mengerjap beberapa kali, menahan air mata tumpah. Anak itu melanjutkan langkahnya sembari berhati-hati menuntun kakek disebalahnya. Ada debaran cinta yang menggelembung serupa balon-balon yang lepas, menuju Tuhan; 

Harap-harap cemas pada gelagap suara anak kecil itu, meminta kasih serupa mengetuk pintu pada rumah-rumah yang sepi. Tuan pada masing-masing rumah itu memberi berbagai macam nikmat; nikmat kasih, nikmat hujatan, nikmat cercaan pun nikmat pengabaian. Anak kecil itu malah berkata “Untung kakek tidak melihat bagaimana orang-orang itu berlomba menuankan diri, menghardik atas tanganku yang pasrah meminta rizki”. Ku ulangi lagi, Bangsaat!! Bagi mereka yang gelap hati;

Berita Terkait :  Sarung Bantal untuk Bapak

Sempat pula aku melihat kakek itu merogoh sakunya. Mencari sesuatu dengan raut wajah yang takut dan kecewa; Sakunya bolong! Rupiahnya jatuh disepanjang jalan. Seratus, dua ratus, lima ratus, seribu, dua ribu hilang. Hanya tersisa sepuluh ribu yang digenggamnya hingga lecek. Yah, reduplah separuh bulan purnama!

“Ini karena aku buta, tidak bisa melihat apa-apa yang jatuh. Ini karena aku tuli, tidak bisa mendengar apa-apa yang jatuh. Aku hanyalah manusia yang merasakan detak dan sentuhan dari cucuku yan malang” itu bahasa kakek yang ku coba terjemahkan melalui wajahnya yang saat ini tertungkup di lutut, terjadi di depan toko ponsel jalan Jawa.

Anak kecil itu mengusap hidungnya, tidak berbicara apapun kepada kakeknya. Ia menghadap ke atas barangkali menahan air matanya agar tidak tumpah atau sibuk bernegosiasi dengan Tuhan perihal takdirnya yang melelahkan. 

*tulisan di atas sudah diterbitkan di majalah Niskala edisi 4 November 2019.