Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Bedah Buku Sastra Rempah, Asosiasi Bawi Dayak Bicarakan Korelasi Perempuan dan Rempah

Bedah Buku Sastra Rempah, Asosiasi Bawi Dayak Bicarakan Korelasi Perempuan dan Rempah

Berita Baru, Kalimantan — Asosiasi Bawi Dayak, Budaya dan Wisata (ASBADATA) Kota Palangka Raya gelar Seminar Bedah Buku “Sastra Rempah” dengan tema “Perempuan dan Rempah” Jumat, (3/11) yang dilaksankan secara Hybrid di Sekretariat Bawi Dayak dan via Zoom Meeting.

Narasumber dalam seminar tersebut adalah Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Universitas Negeri Jakarta) dan Prof. Dr. Yetrie Ludang, M.P. (Direktur Program Pascasarjana UPR). Seminar dipimpin oleh moderator Dr. Yosita.

Dr. Misrita, S.S., M.Hum, ketua ASBADATA Kota Palangka Raya memberi sambutan pada audience. Ia mengucapkan terima kasih kepada dua narasumber yang telah menyempatkan waktu untuk mengisi seminar dan Bedah Buku “Sastra Rempah”.

“Semoga dari Seminar ini kita dapat melahirkan karya-karya sastra, terutama terkait tema perempuan dan rempah,” sambutnya.

Bedah Buku Sastra Rempah, Asosiasi Bawi Dayak Bicarakan Korelasi Perempuan dan Rempah

Pembicara pertama, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. mengawali presentasinya dengan menjelaskan buku Sastra Rempah. Ia mengatakan bahwa buku tersebut terdiri dari 4 bagian, yaitu Rempah dalam Sastra Modern, Rempah dalam Tradisi Lisan, Rempah dalam Mitos, Manuskrip dan Budaya Populer serta Rempah dalam Sastra Perjalanan.

“Buku Sastra Rempah berisi 43 tulisan yang dihasilkan oleh 64 penulis yang berasal dari Aceh sampai Papua. Sejumlah 24 artikel di antaranya dihasilkan oleh penulis perempuan yang melibatkan 34 penulis” jelas Novi.

“Buku ini diberi kata pengantar oleh Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, Ph.D.” jelas Novi.

Novi juga menceritakan pengalaman risetnya di Banyuwangi yang terfokus pada seni tradisi, ritual, dan terakhir pada pengembangan destinasi ekowisata bahari.

“Perempuan rempah hadir sebagai produsen, konsumen, dan pengelola rempah. Beragam rempah Nusantara berpotensi dimanfaatkan untuk pengobatan, kesehatan, kebugaran, kekuatan, dan pangan,” jelas Novi, ketua tim penulisan dan editor buku Sastra Rempah tersebut.

“Ibu Sunarmi salah satu produsen kopi di Banyuwangi melakukan inovasi produk dengan membuat racikan kopi rempah yang menyehatkan, menguatkan, dan memberi rasa nikmat“ ungkap Novi.

Novi menambahkan, pemasaran jamu di masa Pandemi Covid-19 cenderung mengalami kenaikan.

“Hal itu mengindikasikan kemungkinan adanya gerakan kedaulatan masyarakat atas rempah untuk keperluan sehari-hari,” pungkas Novi.

Sementata itu, pembicara kedua, Prof. Dr. Ir. Yetrie Ludang, M.P. memaparkan materinya yang berjudul “Lingkungan sebagai Sumber Obat-obatan Tradisional Suku Dayak di Kota Palangkaraya”.

Yetrie mengawali presentasinya dengan menjelaskan kondisi geografis dan sosial kependudukan masyarakat kota Palangkaraya.

Seusai diskusi interaktif antara narasumber dan peserta, acara dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata kepada pemateri oleh penyelanggara dan dilanjut foto bersama.

Iklan Demokrat
beras