Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Ketua Umum DPP GMNI, Imanuel Cahyadi
Ketua Umum DPP GMNI, Imanuel Cahyadi

Buntut Tindakan Represif Aparat, DPP GMNI Tuntut Pecat Kapolres Timor Tengah Selatan



Berita Baru, Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) meminta kepada Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk memecat Kapolres Timor Tengah Utara, Nelson Filipe Diaz Quintas, pada Sabtu (30/10).

Ketua Umum DPP GMNI, Imanuel Cahyadi, menilai bahwa Kapolres sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap tindakan represifitas aparat saat aksi massa Aliansi Cipayung di depan kantor Bupati Timor Tengah Utara. “Aksi unjuk rasa sebagai bentuk penyampaian pendapat di muka publik sah dan diakui oleh Undang-Undang,” jelasnya.

Pilihan sikap Nelson Filipe Diaz Quintas yang membubarkan massa aksi dengan tindakan-tindakan kekerasan dan tidak bertanggung jawab tentu bertentangan dengan Undang-Undang. Hal tersebut, bagi Imanuel, mengindikasikan aparat kepolisian gagal dalam menjalankan tugas sebagai institusi pengayom masyarakat.

Kawan-kawan massa aksi, kata Imanuel, mengalami penganiayaan oleh aparat. Saling dorong dan pemukulan digunakan aparat kepolisian dalam membubarkan aksi massa. “Ketua Cabang GMNI, Francis Ratrigis, dipukul oleh oknum tak bertanggung jawab,” kata Imanuel. Ada juga seorang massa aksi bernama Arisandi Ufi hilang tanpa jejak. “Massa aksi akhirnya membubarkan diri setelah ditembaki dengan water cannon oleh aparat,” ungkapnya.

Untuk itu, Imanuel meminta kepada Kapolri untuk mengusut kasus ini dan memecat Kapolres Timor Tengah Selatan sebagai bentuk pertanggungjawabannya atas insiden tersebut. Imanuel menegaskan dan meminta kepada Kapolri untuk mengusut tuntas.

“Dan memecat Kapolres TTU sebagai bentuk pertanggungjawabannya atas insiden tersebut. Saya juga berharap agar rekan-rekan yang diamankan saat aksi segera dibebaskan,” tegasnya.

Ia juga berharap semiga insiden ini dapat menjadi pelajaran. Imanuel berharap kepolisian dapat menjalankan tugasnya sebagai pengayom bagi masyarakat. “Dan itu dapat ditunjukkan dengan menghindari pendekatan represif dalam menangani aksi, dan lebih mengedepankan cara-cara yang lebih manusiawi,” pungkasnya.

beras