Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Cerita Pendek tentang Jembatan Kembar

CerpenSudah lebih dari seminggu gadis kecil itu duduk menjuntai di tepi jembatan bagian barat. Ia selalu duduk di tempat yang sama, setiap hari, setiap senja. Rambutnya hitam terurai sebahu. Wajahnya sendu. Matanya sayu. Bajunya putih lusuh. Dilihat dari ukuran tubuhnya, barangkali usianya masih sekitar 9 sampai 10 tahunan. Entah dari mana datangnya, orang-orang tak pernah tahu apa jawabannya. Orang-orang juga tak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan selain hanya diam memandang senja, kadang memandang sungai atau memandang bebatuan di bawah jembatan, atau terkadang menoleh ke kanan ke kiri, seperti mencari sesuatu, atau semacam sedang menunggu sesuatu. Tapi selepas senja, gadis kecil itu sudah menghilang. Lagi-lagi semua orang seperti tak ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Karena mungkin, orang-orang telah menganggap gadis kecil itu hanyalah sebatas anak-anak gelandangan pada umumnya.

            Tapi waktu akan selalu memberi celah kepada manusia untuk menciptakan peristiwa-peristiwa yang baru. Awalnya, berangkat dari salah satu gadis remaja yang sengaja memotret gadis kecil itu kemudian menyebarkan fotonya di media sosial dan menuliskan sedikit penjelasan tentang seorang gadis kecil yang setiap hari duduk sendirian di tepi jembatan untuk memandang senja. Dan tentu saja, di dunia maya, pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan yang tak berdasar akan selalu berkembang dengan sendirinya.

            “Apa yang sedang dipikirkannya?”

            “Apakah gadis itu tak bosan, setiap hari hanya diam memandang senja?”

            “Duh, ini sungguh picisan!”

            “Ah, mungkin dia cuma ingin mencari perhatian!”

            Setiap orang tentu mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda. Tapi status Facebook yang memiliki 3.587 suka dan 1.723 komentar itu telah berhasil menggemparkan kota di Timur Jawa. Tentu saja semakin banyak pula orang yang ingin melihat secara langsung gadis kecil itu, yang setiap hari duduk di Jembatan Kembar untuk memandang senja.

            “Ma, sepertinya dia baik,” ujar anak laki-laki kepada ibunya yang sedang mengendarai sepeda motor. Mereka berhenti tak jauh dari gadis kecil itu berada. Karena memang ketika menjelang senja, di sekitar Jembatan Kembar itu, jalanan akan menjadi sangat ramai dan macet.

            “Ah, kamu ini, dari mana kamu tahu kalau dia baik?” balas ibunya sedikit berteriak.

            “Itu dari matanya yang sayu.”

            “Haha…. Tahu apa kamu tentang mata sayu?”

            “Kata Papa sih begitu, Ma.”

            Mungkin, ketika anak laki-laki itu tak bersama ibunya, ia pasti akan menghampiri gadis kecil itu. Duduk di sampingnya, kemudian bertanya hal-hal di luar pemikiran orang dewasa. Tapi ternyata harapan tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Anak laki-laki itu hanya bisa melihat gadis kecil itu sesaat setelah motor yang ditumpanginya itu melewati batas jembatan. Sungguh hanya sebentar. Lebih sebentar dari jadwal munculnya senja. Sayang sekali.

            Hari-hari pun beranjak, minggu mengulang minggu. Tapi gadis kecil itu tak kunjung berlalu. Ia masih di sana, sendiri dengan tatapan sayu. Oh, apakah kesedihan memang selalu ditanggung sendiri? Bagaimana dengan orang-orang yang selalu melihatnya setiap hari? Kenapa tak ada satu orang pun yang menghampirinya kemudian bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Selama senja tetap bergerak, pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan terus melayang-layang bersama angin dan tak akan pernah menemukan ujungnya.

            Maka dalam cerita pendek seperti ini, akan ada satu tokoh yang lebih berperan, yang lebih menonjolkan dirinya daripada tokoh-tokoh figuran lainnya. Ia adalah seorang wanita muda, yang tengah mengandung enam purnama. Ia datang ke Jembatan Kembar hanya seorang diri. Ia datang saat senja masih indah-indahnya. Ia menunggu di salah satu jembatan bagian timur. Ia berencana menunggu sampai waktu terbenamnya matahari, yang katanya pada saat itulah gadis kecil itu akan menghilang.

            Tapi sebelum percakapan mereka terjadi, kita coba lebih dulu meloncat ke cerita sebelum gadis kecil itu muncul tiga minggu yang lalu.

            Di sebuah malam yang dingin, di bawah jembatan….

            “Apakah kita hanya ditakdirkan untuk diam dan menunggu?” tanya gadis kecil itu kepada teman-temannya. Mereka duduk melingkar. Tanpa penerangan, tanpa makanan, tanpa minuman. Setiap malam mereka berkumpul hanya dengan sepotong kenangan.

            “Memangnya kita bisa apa, Raina?” tanya anak yang lain. Ternyata nama gadis kecil itu adalah Raina.

            “Ya. Kamu tahu sendiri. Sejak awal kita dibuang ke sini, kita hanya bisa berkeliaran dan bermain di tempat ini saja. Tak ada tujuan lain selain menunggu seseorang yang akan menjadikan kita sebagai anak angkatnya.”

            “Benar. Di kehidupan kita ini, tak ada yang lebih indah selain menunggu!”

            “Ada!” tegas Raina.

            Delapan anak lainnya hanya diam ketika Raina mengeraskan suaranya.

            “Ada! Pasti ada cara lain selain menunggu! Kenapa kita tak mencoba mencari perhatian? Sampai kapan kita menunggu yang tak kunjung datang?”

            Begitulah alasan kenapa Raina memutuskan untuk muncul hanya seorang diri. Maka ketika wanita muda yang tengah mengandung itu datang menemuinya, Raina tak akan menghilang. Ia akan menyambut wanita muda itu dengan penuh harap. Sebuah harapan yang sangat diinginkan oleh jiwa yang kesepian.

            “Bukankah seharusnya kamu akan menghilang di waktu seperti ini?” tanya wanita muda itu, sesaat setelah ia duduk di samping Raina. Tapi Raina hanya diam, karena ia belum menemukan pertanyaan yang tepat untuk dijawab.

            “Namamu siapa, Dik?” Wanita itu bertanya lagi.

            Nah.

            “Raina.”

            “Nama yang bagus. Oh iya, Raina tinggal di mana?”

            “Di sini.”

            “Di sini di mana?”

            “Di bawah jembatan.”

            “Loh!”

            Wanita muda itu tampak kaget. Karena ia belum pernah melihat manusia yang tinggal di sana. Apakah gadis kecil itu hantu? Begitu pikirnya tiba-tiba. Tapi mana ada hantu yang memiliki bayangan? Ah, sungguh membingungkan! Maka wanita muda itu tak akan banyak berpikir lagi. Ia hanya ingin tahu, mengapa pada setiap senja gadis kecil itu selalu berada di sana, sehingga membuat semua orang bertanya-tanya dan sibuk membicarakannya.

            “Bolehkah saya menjadi anak Anda?” pinta Raina tiba-tiba sambil memasang wajah lesu.

            Untuk kedua kalinya, wanita muda itu kaget. Tapi ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya kembali.

            “Loh, ibu Raina ke mana?”

            “Kata Tuan Malaikat, ibu saya sudah dihukum karena telah membunuh saya.”

            Wanita muda itu tiba-tiba tersentak, kemudian pingsan. Raina tak tahu harus berbuat apa. Suasana pun menjadi lengang. Dan Raina menghilang….

            Orang-orang yang lewat mendadak berhenti dan menolongnya. Di Jembatan Kembar itu, pada senja yang telah pudar, suara ambulan mulai mendekat, menyatu bersama suara kerumunan orang-orang yang membicarakannya.

            “Tadi saya melihatnya terkapar begitu saja. Saya kira dia akan bunuh diri.”

            “Lihat, perutnya. Dia hamil!”

            “Wah, mungkin dia ditinggal kekasihnya. Makanya dia ke sini untuk bunuh diri.”

            “Jangan berburuk sangka dulu.”

            “Tapi kenapa coba, dia ke jembatan ini hanya sendirian kalau bukan untuk bunuh diri?”

            “Iya juga sih.”

            “Tapi mungkin saja dia hanya ingin mengenang kekasihnya.”

            “Tapi kenapa sampai bisa pingsan begitu?”

            “Mungkin kenangannya begitu berat.”

            “Haha… ada-ada saja!”

            Salah satu orang kemudian memotret wanita hamil yang tiba-tiba pingsan itu dan menyebarkannya di berbagai media sosial dengan memberi berbagai macam tagar (tanda pagar). Begitulah, akan menjadi heboh kembali dengan peristiwa yang baru.

            “Wah itu mantan saya.”

            “Busyet. Itu mantan saya.”

            “Dia kan, mantan saya.”

            Ucap ketiga lelaki yang melihat foto wanita itu di handphone-nya masing-masing. Tapi tentu saja mereka tak memberi komentar di kolom komentar. Mereka hanya memberi tanda suka dan menanggapinya dalam hati masing-masing.

***

            Sedangkan di rumah sakit yang dingin dan berdebu, malam telah memasang ruang. Sudah lebih dari dua jam wanita muda itu masih belum sadar juga. Ia masih terbaring di ranjang rumah sakit. Suaminya menunggu di luar ruangan dengan harapan-harapan yang mengandung unsur kebahagiaan (oh, ternyata orang-orang telah salah menilai). Tak lama kemudian, sang dokter menghampiri sang suami.

            “Selamat, Anda akan mempunyai anak kembar.”

            “Ha!? Anak kembar? Mohon dicek lagi, Dok!” Bukan bahagia, sang suami justru tampak kebingungan.

            Tapi sang dokter hanya tersenyum. Kemudian ia pun mengajak sang suami untuk melihat hasil USG. Ketika memasuki ruangan, sang suami terperangah ketika melihat perut istrinya lebih besar dari sebelumnya. Tapi ia lebih terperangah lagi ketika melihat hasil USG dan menghitung janin dalam perut istrinya. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Busyet!

            “Ini serius ada sembilan anak kembar, Dok?”

            “Sepuluh, Pak! Coba dihitung lagi.”

            Setelah menghitung kembali, sang suami hanya bisa menganga. Terdiam dengan tatapan kosong. Dalam cerita ini, tak bisa didefinisikan bagaimana wajah sang suami, apakah ia bahagia, bangga atau bahkan tidak merasakan apa-apa. Terlalu rumit. Dan ia sendiri pun tidak tahu, apakah ia harus bersyukur atau hanya duduk tersungkur.

            Sementara di alam rahim, jiwa gadis kecil yang bernama Raina itu, tentu sangat merasa bahagia. Karena tiga bulan lagi, ia akan terlahir menjadi bayi yang sempurna, juga bersama teman-teman lainnya. (*)

beras