Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Cipayung Probolinggo Bincang Kondisi Pesisir

Cipayung Probolinggo Bincang Kondisi Pesisir

beras

Berita Baru, Probolinggo – Di bawah rimbun pepohonan cemara yang menyejukkan mata, puluhan mahasiswa memadati Pantai Tambaksari, Pajarakan Probolinggo. Masifnya banjir rob di pesisir probolinggo menjadi alasan para mahasiswa untuk menggelar diskusi bertajuk Krisis Ekologi di Pesisir Probolinggo.

Mahasiswa-mahasiswa itu berasal dari beberapa organisasi, seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), serta beberapa mahasiswa lainnya. Tak hanya itu, lingkaran diskusi ini mendatangkan salah satu warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Probolinggo.

Kalibuntu adalah satu dari beberapa desa yang akrab dengan banjir Rob. “Kalau di desa saya sejak 1995,” ungkap Emroni Sianturi, warga Desa Kalibuntu. Ia menuturkan, biasanya banjir rob melanda dua kali dalam setahun. Tetapi di tahun 2021, dalam sebulan sudah terjadi tiga kali. Bahkan pria yang juga aktif di Komunitas Anak Pantai ini, mendedahkan bahwa di tahun 1980-an pernah ada kampung yang tenggelam.

Keresahan Emroni itu bukan tanpa sebab. Ia menengarai masifnya banjir rob disumbang oleh alih fungsi lahan di desanya. Emroni mengisahkan, lahan yang dulunya dijadikan lapangan sepak bola, kini justru menjadi tambak udang dan perumahan. Kondisi itu semakin memperparah banjir rob yang melanda desanya.

“Dulunya tambak udang tidak seluas sekarang. Bahkan kabarnya akan ada perluasan tambak udang yang sekarang masih proses negoisasi. Selain itu perumahan juga semakin banyak. Sekarang sudah ada tiga perumahan yang dibangun,” terangnya.

Apa yang diceritakan Emroni itu ditegaskan oleh Abdur Razak, Biro Advokasi PC PMII Probolinggo. “Ekologi pesisir probolinggo sedang tidak baik-baik saja hari ini. Ditandai dengan masifnya banjir rob yang setahun bahkan sebulan.”

Ia menerangkan bahwa banjir rob yang masif di pesisir Probolinggo justru disebabkan oleh penurunan muka tanah. Ia mengutip laporan utama Majalah ALFIKR, bahwa hasil penelitian yang dilakukan Heri Andreas, menyebutkan pesisir Kabupaten Probolinggo terjadi sebanyak 2-3 Cm per tahun.

Menurut Razak, penurunan tanah itu kian diperparah oleh krisis iklim dan alih fungsi lahan. Hanya saja, menurutnya, tersangka di balik masifnya banjir rob adalah penurunan tanah. Penurunan tanah, kata Razak, disebabkan oleh kompaksi alamiah dan eksploitasi air tanah.

Krisis ekologi itu, bagi Razak, tidak direspon serius oleh pemerintah. Padahal kemauan warga sebenarnya bukan itu. Menurutnya, solusi yang dilakukan mestinya, mitigasi bencana. “Pembangunan tanggul itu sekadar solusi sementara,” tegasnya.

Degradasi lingkungan di pesisir Kabupaten Probolinggo itu bagi, Saiful Dedi, Ketua PC HMI Kabupaten Probolinggo, mesti disikapi juga oleh elemen mahasiswa. Menurutnya, solusi-solusi itu bisa dilakukan dengan cara melakukan audiensi dengan pemerintah terkait. Ia menegaskan bahwa setiap permasalahan pasti berkelindan dengan kebijakan pemerintah.

beras