Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Dadu Tidak Pernah Dilempar Secara Kebetulan
Ilustrasi: Dadu Tidak Pernah Dilempar Secara Kebetulan/ Sumber Foto: pinterest.com

Dadu Tidak Pernah Dilempar Secara Kebetulan

Selamat siang, Hans, bagaimana perjalananmu hari ini? Semoga menyenangkan meski agak melelahkan. Aku kirimkan tulisan. Semoga mampu mengusir kebosananmu melewati tiap-tiap palang kereta, mendengar berisik mesinnya, dan melawan dingin udara.

Hari ini aku mengawali pagi dengan baik, Hans, bangun lebih awal, menyapa Tuhanku dan melantunkan kalam-kalam indahNya. Serasa ada damai yang tidak dapat aku ungkapkan. Aku membenarkan apa yang dikatakan oleh Karl Marx, nabi dari para pemikir kiri, bahwa agama adalah desah napas keluh dari makhluk tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati, dan jiwa dari kondisi yang tak berjiwa. Ia adalah opium bagi masyarakat. Ya, agama adalah opium, Hans, yang mampu mengurangi rasa perih, nyeri, keterasingan, dan juga rasa penderitaan atas apa yang telah dunia tawarkan.

Aku seperti menjadi pemabuk ulung jika dihadapkan denganNya, Hans, aku bisa menghabiskan waktuku di sepertiga malam hanya untuk memujaNya, berkeluh kesah denganNya, aku pun menjadikanNya hakim yang paling bijak di atas muka bumi dan seluruh isinya ini, bahkan di alam yang tidak terjangkau pikir dan nalar manusia pun, aku menjadikanNya pembuat keputusan paling arif, meski aku pernah dibikin kecewa, meski aku pernah terluka oleh kepercayaan yang begitu dalam padaNya, meski aku pernah limbung oleh keputusan yang diberikanNya. Lupakan saja, aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang. Kita beralih pada pembicaraan yang membuat darahku mendidih, Hans.

Masih tentang lelaki penebar pesona, Hans, pagi itu, ketika aku mengumpulkan seluruh energi untuk menyambutnya, ia menjadi orang pertama yang menyapaku. Menelponku saat matahari masih berselimut kabut.

Kamu tahu, Hans, ia sudah mulai kembali cerewet, mendongeng tentang banyak hal, terutama tentang tulisan-tulisanku. Terus saja lelaki penuh pesona itu mengungkapkan kekagumannya tentang apa yang aku tulis.

“Aku seperti melihat Okky Madasari di setiap larik tulisanmu yang lantang bersuara tentang ketidakadilan. Kau mendobrak batasan dan melawannya lewat sastra,  aku suka itu.”

Aku menghela nafas, Hans, bertahan dari jilatan api yang coba ia kobarkan. Mulutnya yang manis berusaha mengeluarkan rayunya untuk meluluh lantahkan hatiku. Ia pikir, aku seperti kebanyakan perempuan yang mudah mabuk oleh manisnya rayuan. Ia tidak tahu, aku bisa menyumpal mulutnya dengan kebinatanganku. Ia juga belum tahu, siapa perempuan yang dihadapinya saat ini. Bukan seekor kucing yang sekali dielus akan merengek di kaki tuannya, namun seorang singa yang sekali dielus, akan melahap habis tuannya.

“Kamu menyibak kebenaran tanpa sedikitpun kebohongan. Tidak banyak perempuan berkarakter kuat sepertimu. Tulisan-tulisanmu cadas, seperti karang yang siap merobekkan perut pelaut yang berani menantangnya. Tulisanmu juga kuat menggiring para penggembala untuk hanyut dalam setiap alurnya.”

Aku tidak tahu, Hans, apakah yang ia ucapkan berasal dari kedalaman hatinya atau hanya menggantung di mulutnya saja. Tipis sekali beda antara rayuan dan kebenaran. Aku tidak ingin hanyut dalam bualannya. Aku tahu, itu adalah cara pejantan untuk menjongkokkan betinanya. Rendah, serendah-rendahnya. Hina, sehina-hinanya,. Dan aku tidak ingin itu.

Entah mengapa, Hans, aku merasa menjadi sesuatu yang asing dengan cinta, aku merasa cinta itu absurd dan omong kosong, karena semua akan bermuara pada kesakitan.

Seperti halnya denganmu, Hans, saat pertama aku memutuskan untuk menjatuhkan hatiku padamu, pada saat itu juga aku menyiapkan hati untuk berkali-kali patah. Karena aku tahu, aku laksana rumah yang tak ingin kau singgahi, meski aku tawarkan berjuta kedamaian di dalamnya. Kau telah memilih rumah lain untuk kau singgah dan menetap, meski kau sendiri tidak tahu, apakah akan kau temukan kedamaian ataukah kehampaan di sana.  

Sepertinya, aku terlalu banyak meracau, Hans, sekarang, aku kisahkan lagi tentang lelaki penebar pesona itu. Ia masih juga merayuku. Kamu tahu apa yang diucapkannya, Hans? Begini katanya:

“Kamu adalah perempuan pertama yang membuatku kehilangan akal sehat.”

“Karena itu, jauhi aku agar engkau semakin tidak kehilangan akal sehatmu.”

“Menjauhimu sama artinya aku memutus urat nadiku sendiri.”

Ia ucapkan kalimat itu dengan dalam dan penuh tekanan.

“Kau tentu masih ingat apa yang aku katakan di Parangtritis kemarin, bahwa sesuatu yang dimulai dengan percaya akan diakhiri dengan makin percaya. Itulah yang akan aku perjuangkan dan buktikan padamu, Manis.”

“Buktikan saja, siapa yang akan menang dan siapa yang akan menangis.”

“Aku sudah memulai permainan ini dengan baik dan tentu akan mengakhirinya dengan baik pula.”

“Jangan sampai kau menjadi gila karena permainan yang kau ciptakan sendiri, karena aku tidak akan bertanggungjawab untuk itu.”

“Aku lelaki dewasa, aku tidak akan meminta pertanggungjawabanmu atas apa yang aku lakukan. Aku hanya minta padamu, jadilah perempuan yang manis.”

“Shit.”

Dia benar-benar telah merusak pagiku. Segera aku tutup telepon tanpa mengatakan kalimat penutup yang manis. Omong kosong dengan semua bualannya. Ia menjadi pembual paling ulung yang pernah aku temui. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur, Hans, memandang langit-langit kamar, mencoba merangkai setiap kejadian yang kini aku alami. Dan aku sadar, dalam hidupku hanya punya dua pilihan, menjadi pecundang atau pemenang.   

Sekian, Hans, aku sudahi dulu tulisan ini. Aku tidak ingin merusak perjalananmu dengan segala keluhku ini. Biarkan aku yang menanggungnya, kau bebaskan dirimu untuk berpetualang, dengan mereguk nikmatnya puncak cinta yang kau maknai itu.

Selamat siang, Hans.

Bersambung

beras