Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Desa Susah Sinyal, Merdeka Belajar Nadiem Berpotensi Ambyar

Desa Susah Sinyal, Merdeka Belajar Nadiem Berpotensi Ambyar

beras

Kolom Anak-anak pelajar di pelosok desa belum merdeka dari keterbelakangan akses informasi, mereka mengeluh sulitnya menikmati akses sinyal dan internet.

Di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, para siswa tidak bisa mengikuti aktivitas belajar mengajar daring karena di desanya sangat susah sinyal.

Pemerintah tentu harus melihat dengan mata telanjang dan merasakan dengan hati–Akses internet sama dengan hak asasi manusia.

Berdasarkan data Kominfo tahun 2020 perluasan infrastruktur layanan jaringan 4G di daerah kawasan terluar, terdepan dan tertinggal (3T) hanya mencakup 9.622 desa/kelurahan dari keseluruhan 11.228 desa di daerah 3T.

Data tersebut menunjukkan bahwa akses internet di Indonesia masih mengalami kesenjangan yang berkait lindan dengan akses pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi.

Pendidikan merdeka belajar ala Nadiem Makarim berpotensi gagal jika tidak bisa menerjemahkan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen Pasal 31 Ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan”.

Saat ini akses internet di desa menjadi jawaban atas kebijakan merdeka belajar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) RI Nadiem Anwar Makarim.

Menurut Nadiem merdeka belajar itu, sekolah, murid dan guru mempunyai kebebasan berionovasi untuk belajar dengan mandiri dan kreatif.

Pernyataan Nadiem itu seperti melempar garam di tengah lautan, tidak ada gunanya, memberi kemerdekaan belajar tetapi di desa tidak difasilitasi insfrastruktur internet, bahkan jaringan sering darurat kalau beruntung EDGE atau H+.

Apakah konsep pendidikan macam ini, yang disebut SDM Unggul Indonesia Maju?

Bagaimana Menurut Kalian?

beras