Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Gelar FGD “Penelusuran Perkembangan Penelitian Tradisi Lisan di Indonesia” FIB Universitas Indonesia Hadirkan Lima Narasumber

Gelar FGD “Penelusuran Perkembangan Penelitian Tradisi Lisan di Indonesia” FIB Universitas Indonesia Hadirkan Lima Narasumber

Berita Baru, Depok – FIB UI selenggarakan FGD bertema “Penelusuran Perkembangan Penelitian Tradisi Lisan di Indonesia, (23/11/2022) secara daring melalui link zoom. Para narasumber Prof. Dr. Robert Sibarani, M.Hum. (FIB USU), Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si. (Dirjen Bimas Hindu), Dr. Ruhaliah, M.Pd. (FPBS UPI), Dr. Jultje Aneke J. Rattu, M.Mktg (FIB UNSRAT), dan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (FBS UNJ) membahas perkembangan aktual tradisi lisan di perguruan tinggi masing-masing. FGD dimoderatori oleh Dr. Suma Riella Rusdiarti (FIB UI).

FGD dihadiri oleh para dosen FIB UI, Dr. Dhita Hapsarani, Dr. Suma Riella Rusdiarti, Dr. Turita Indah Setyani, dan Dr. M. Yoesoef

Dalam pandangan Sibarani dan Duija, tradisi lisan yang luas jangkauan ontologi dan beragam perspektif epistemologinya berpeluang untuk mengangkat potensi lokal ke dunia internasional.

Stigma berpikir bahwa tradisi sudah tidak relevan untuk dikaji karena kebermanfaatanya tidak signifikan dan sumber daya manusia (SDM) kajian tradisi lisan (KTL) yang terbatas merupakan tantangan bersama kalangan akademisi dan pemerhati tradisi lisan.

“Ke depan diperlukan pertama, indetifikasi ontologi KTL dengan memunculkan potensi lokal masing-masing PTN penyelenggara, sehingga melahirkan lulusan yang khas tiap PTN penyelenggara; kedua metode, pendekatan, dan teori yang menuju interdisiplin dan transdisiplin; dan ketiga membangun branding relevansi KTL terhadap perkembangan revolusi 4.0 dan 5.0,” ujar Duija.

Ruhaliah dari UPI menyampaikan bahwa telah ada penunjukan untuk promotor dengan fokus KTL UPI masih cenderung selalu mengaitkan KTL dengan pendidikan. Akan tetapi, secara bertahap semakin banyak yang berminat pada kajian tradisi lisan, termasuk mahasiswa yang menulis skripsi, tesis, dan disertasi.

“Pewarisan tradisi lisan carita pantun yang sudah berusia ratusan tahun merupakan tantangan besar mengingat juru pantun perlu menguasai olah vokal, musik, dan cerita,” ujar Ruhaliah.

Oleh karena itu, upaya Arif Firmansyah doktor baru alumnus UNJ menjadi kader akademisi yang perpotensi untuk melakuan pengajian, pelestarian, dan pengembangan carita pantun Sunda.

Jultje Rattu dari UNSRAT Manado berjuang memasukkan KTL kedalam kurikulum Sastra Inggris. Hal itu telah membuahkan KTL dengan mengomparatifkan yang ada di Indonesia dan di luar Indonesia.

“Pada saat ada perubahan kurikulum, saya akan memasukkan KTL menjadi mata kuliah umum untuk semua prodi di Fakultas Ilmu Budaya,” Jelas Jultje.

Anoegrajekti sebagai narasumber terakhir menyampaikan pengalaman risetnya selama sekitar dua puluh tahun di Banyuwangi dengan fokus seni tradisi dan ritual. Atas kesetiaannya tersebut ia mendapatkan hibah mulai dari Toyota Foundation, Japan Foundation, Ford Foundation, DRTPM, dan LPDP.

Penelitian tradisi lisan yang dilakukan secara interdiplininer dikaitkan dengan upaya revitalisasi, pengembangan industri kreatif, relasi kuasa (kontestasi pelaku seni, negara, pasar, dan ulama), alih wahana, dan ekowisata bahari.

“Tradisi lisan yang terbentang luas mengalami kerawanan ditinggalkan pendukungnya. Oleh karena itu, akademisi terpanggil untuk melakukan pengajian, penyimpanan, pewarisan, dan pengembangan yang dapat dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan masyarakat, birokrat, budayawan, dan pelaku tradisi,” ujar Anoegrajekti yang diperkuat oleh dua anggota tim riset yang hadir, Siti Gomo Attas (FBS UNJ) dan Sudartomo Macaryus (UST Yogyakarta).

Selesai paparan dilanjutkan tanya jawab untuk merancang kegiatan dalam menyikapi ruang KTL yang maha luas, seperti permasalahan revitalisasi, regenerasi atau pewarisan, alih wahana, kesejahteraan pelaku tradisi lisan, dan sosialisasi pada tataran lokal, nasional, dan internasional.

Salah satu kesepakatan yang ditelurkan dari FGD ini adalah akan ada tindak lanjut dengan penulisan buku bersama tentang penelitian tradisi lisan. Buku yang ditulis bersama tersebut untuk menandai adanya tanggung jawab dan keterlibatan bersama secara kolegial untuk memajukan tradisi lisan seperti yang diamanatkan UU Nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan.

beras