Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Gerakan Mahasiswa: Dari Mana Hendak Kemana?
FOTO: Antara

Gerakan Mahasiswa: Dari Mana Hendak Kemana?

beras

Mahasiswa merupakan salah satu entitas penting di dalam nuansa gerakan perlawanan yang pernah ada dan akan terus ada. Sebagai kelas menengah dengan identitas ‘intelektual’ yang melekat padanya secara otomatis menempatkannya sebagai satu bagian kelas menengah dalam hirarki sosial. historisitas gerakan mahasiswa terentang sejak sebelum kemerdekaan hingga saat ini; walaupun kondisi itu tidak linier. Hal itu disebabkan setiap masa memiliki persoalannya.

Kondisi gerakan mahasiswa tidak selalu sama di masing-masing masa. Pada tahun 1912-1926 merupakan peristiwa awal yang dikultuskan dengan sebutan ‘zaman bergerak’ istilah yang dipopulerkan oleh Takashi Shiraishi. Konteks perjuangan pada saat itu adalah terwujudnya kemerdekaan rakyat yang berada di bawah dominasi kolonial Belanda dengan bentukan koloninya, Hindia Belanda. Saat itu, ada tiga varian karakter idelogis yang menjadi Jiwa kaum pergerakan: Islam-Sosialisme yang dimunculkan oleh Tjokroaminoto, Sosialisme yang dibawakan oleh Henk Sneevliet; lalu berubah menjadi Komunisme di tangan Semaoen, dan Komunisme itu sendiri. Ketiganya bekerja mengorganisir kesadaran dan perjuangan dalam upaya untuk mewujudkan kemerdekaan. Hanya saja ketiganya memiliki stategi perjuangan yang berbeda.[1]

Kendati di awal-awal SI (sarekat islam) adalah organisasi dagang yang bergerak di bidang ekonomi, namun pada akhirnya tidak murni melulu dalam persoalan aktivitas ekonomi, lebih tepatnya dari ekonomi bergerak ke ranah politik parlementer. Semaoen yang kemudian muncul sebagai tokoh utama (bersama rekannya Haji Misbach ) dari aktivitas perlawanan  yang revolusioner—di bawah pengaruh besar Sneevliet—kemudian mengambil jalan yang berbeda dari pendahulunya. Islam dan komunisme menemukan titik temu dalam kontruksi nilai ‘kemanusiaan’. Pendekatan semacam itu sangat dominan di tubuh Sarekat Islam afdeling Semarang dan Surakarta

Gerakan non-co adalah karakter utamanya. Komunisme tampil sebagai salah satu organisasi yang revolusioner melalui pendekatan Marxisme dengan perspektif metodologis; Materialisme Historis dan Materialisme Dialektis (MDH) dikenalkan secara lebih massif oleh Datuk Ibrahim alias Tan Malaka. Sementara di sisi lain kalangan nasionalis-radikal mendapatkan pijakannya ketika Soekarno menjadi poros utama dalam gelanggang kaum pergerakan, Marhaenisme –yang diadopsinya dari Marx-Engels— dikenalkan dengan pendekatan historis dan cultural masyarakat Jawa pada saat itu. Petani adalah kelas penting sebagai bagian dari entitas kolektif perjuangan. Narasi politik soekarno langsung berhubungan dengan kondisi kehidupan dan kesadaran wong cilik atau orang-orang kecil yang dieksploitasi oleh kapitalis-kolonial lewat perombakan lahan petani menjadi perkebunan raksasa.

Sejarah pergerakan kemerdekaan adalah sejarah perjuangan kelas bumiputra melawan kapital kolonial. Akan tetapi, narasi semacam itu nyaris lenyap pasca kemerdekaan utamanya saat-saat menguatnya kalangan islam reformis yang dipimpin oleh kalangan Masyumi. Meskipun, pada tahun 1950-an ketika Aidit dan Lukman kembali dari Vietnam dan melakukan re-mobilisasi kembali partai Komunis setelah dibubarkan pasca pemberontakan Madiun.

Diskursus kesadaran ideologi politik di dalam elit parlemen (partai) turut mempengaruhi corak diskursif di kalangan mahasiswa[2]. Gerakan mahasiswa tahun 1960-1965 adalah gerakan reformis di satu sisi untuk menggantikan orde lama menuju era orde baru—sebuah era yang diimpikan menjadi penyelamat bagi rakyat untuk keluar dari keterpurukan ekonomi meskipun pada akhirnya Seoharto sebagai orang nomer wahid di era Orde Baru tampil dengan tangan besi untuk mereorganisasi pembangunan yang bertumpu pada neoliberalisme— namun di sisi lain, gerakan itu adalah gerakan politis elit yang memanfaatkan kalangan pemuda/mahasiswa untuk melancarkan aksi-aksi massa. 1965 adalah priodeisasi yang cukup kelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Kontradiksi di dalam gerakan mahasiswa sangat mencolok.

Orde baru adalah istilah politis yang dimunculkan dari politik bahasa ‘eufisme’ seolah-olah menempatkan era ini sebagai penyelamat dari keterpurukan bangsa di masa sebelumnya. Alih-alih muncul sebagai penyelamat, pada kenyataannya orde baru gagal untuk itu. Demokrasi sebagai instrument utama dalam sistem politik-pemerintahan lumpuh sama sekali di bawah panji-panji bendera pohon beringin. Soeharto tampil dengan mentalitas kawanan militer. (Military network in internal government) Diktator ulung yang mampu menekan segala kritik yang kritis. Semua elemen oposan ditekan. Kelompok oposisi adalah mereka yang berada di luar kroni-kroninya, termasuk kalangan ‘Nahdlatul Ulama’ ormas besar yang memiliki pengaruh kuat di kalangan rural urban.

Di sepanjang Orde Baru ini, diskursus teoritis yang kritis –walaupun ditekan oleh pelbagai rupa upaya dan daya— muncul mulai dari cara yang paling halus hingga vulgar sekalipun. Mahasiswa kembali hadir sebagai penantang arus utama dari rezim yang penuh kedzoliman itu. Rentetan dari tragedi semanggi hingga reformasi adalah monumen yang membentuk ingatan bahwa mahasiwa hadir sebagai penekan utama untuk mengembalikan subtansi dari demokrasi. Kendati demikian, tidak ada satu pun tokoh ’98 yang mampu menjadi tokoh populis di internal pemerintahan dengan membawa gagasan revolusioner saat mereka berjuang di akar rumput.

Para mahasiswa bersama rakyat yang telah berhasil melengserkan Soeharto setelah 32 tahun memimpin pada mei 1998, tidak mampu turut menyingkirkan orang-orang dalam lingkaran orba. Mereka tidak menghasilkan tokoh populis yang menuntun agenda besar revolusi nasional bersama rakyat. Akibatnya gerakan mobilisasi massa yang begitu besar, yang telah dibangun lama dibajak oleh tokoh konservatif yang masih dalam enclave orba […] (Novianto, 2015)

Reformasi adalah tapal batas kekuasaan Orde Baru. Di era ini diksi civil society sebagai pengarus utamaan demokratisasi muncul. Demokrasi adalah interpretasi kesadaran rakyat. Demokrasi harus bertolak dari kesadaran itu agar menyentuh pada kepentingan rakyat yang menyeluruh. Kendati demikian, orde baru yang ditopang oleh predator sebelumnya tidak sepenuhnya punah. Sebagai spesies—dalam istilah biologis— parasit obligat para predator itu abadi dan terus menempel pada tubuh demokrasi itu sendiri. Menggerogoti dan membajak dengan vulgar pelbagai sumber daya yang ada. Jangan ditanya berapa jumlahnya, sebab hal itu tidak terhitung. Bayangkan saja jika setiap harinya perampasan ruang dan kasus-kasus penelantaran terus terjadi.

Pasca reformasi, Mahasiwa kini senyap. Ia hidup dalam bayang-bayang euphoria masa lalu tanpa hadir dengan gagasan yang cukup signifikan di masa saat ini. Alex sartono dalam artikelnya yang dimuat di harian Indoprogress menuliskan dengan telanjang kondisi ironis mahasiswa millennial.

“Gaya hidup hedonis ini juga telah merambah ke dalam ruang-ruang kampus, baik negeri maupun swasta. Mahasiswa lupa menyadari perannya sebagai agen perubahan sosial. Tidak ada lagi keinginan untuk ‘blusukan’, berempati atau bahkan berkolaborasi mencipta sebuah gerakan bersama masyarakat. Kita seolah ingin mempertegas status kita sebagai middle class elite, sebuah kelas yang, kata Karl Marx, dipandang serupa dengan elite borjuis. Kita memang sudah benar-benar tinggal di menara gading, hingga suara-suara masyarakat yang tertindas oleh sistem hanya terdengar sayup-sayup sampai” (Sartono, 2014).

Pola hidup hedonis meretas kohesi ideologis mahasiswa dengan akar rumput. Ia tercerabut dan terhempas dari persoalan-persoalan kerakyatan. Sementara penguasa mengangkangi rakyat dengan telanjang, mahasiwa sibuk rasan-rasan.

Kampus hadir sebagai sarana industri-industri besar yang siap menyerap tenaga ahli dengan nilai lebih yang siap mereka pakai. tidak hanya itu, problem akut lainnya saat ini mahasiswa lebih paham tentang komposisi makanan dan style daripada komposisi diskursus idelologis. Antara praktik konsumtif dengan praktik gerakan yang revolusioner terdapat kejumplangan yang menganga. Absennya kritisme secara metodologis dan gerakan yang cukup mengakar adalah fenomena kejumudan di seperempat abad ini.

Tulsian singkat ini merupakan upaya pencarian kembali sejarah, diskursus teoritik yang ideologis, dan metode-metode gerakan yang tepat untuk memutus kealpaan dan status jahil murakkab pada diri mahasiswa. Dari apatis menuju partisipatif-aktif dalam persoalan kehidupan umat .

Pencarian sejarah menjadi penting sebab sejarah memiliki peran yang signifikan untuk mempertegas status politis mahasiswa dengan rerangkai bangunan sistem-sosial di Negara ini serta peran apa yang kemudian perlu ia jalankan. tidak ada gerakan politik yang signifikan tanpa mendasarkan dirinya pada sejarah masa lalu. Diskursus teoritik yang ideologis adalah upaya pencarian rumusan nilai yang tepat untuk menggambarkan kondisi masa dan situasi yang melingkupinya sebab tanpa nilai yang ideologis gerakan apapun akan hampa. Ia timbul tanpa roh yang menghidupinya.


[1]  Perlu ditegaskan di sini bahwa Tjokroaminoto (dalam gerakan plotiknya yang moderat dan terkadang kooperatif dengan kolonial di dalam parlementer) menekslusi gerakan SI dibawah Semaoen. Sejak itu perseteruan dua pemikir beserta pengikutnya terjadi. Keduanya berjuang di jalan masing-masing. Seperti Wawancara yang dilakukan Rio Apinino terhadap Muhammad Al-Fayyadl. Fayyadl  menegaskan bahwa “Tjokroaminoto mengeksklusi Semaoen dkk dari Sarekat Islam dan muncul friksi ‘SI Putih’ dan ‘SI Merah’. Sejak saat itu, Islam dan Komunisme menjadi dua gagasan yang seolah-olah tidak dapat bertemu, dan ‘menjadi Komunis’ seolah-olah mustahil pada saat saat yang sama menjadi ‘Muslim yang baik’. (Al-Fayyadl & Apinino, 2015). Kita melihat adanya kecenderungan diferensiasi yang muncul antara Semoaen dan Tjokroaminoto. Menarik sebenarnya jika kita meninjau kembali gagasan Tjokro terkait Islam dan Sosialisme untuk menakar kembali bagaimana upayanya untuk menjembatani Sosialisme dengan Islam.

[2] Pada priode awal ada tiga partai yang memiliki pengaruh besar dalam diskursus sosial-politik. Partai Nasional Indonesia (PNI) di bawah kendali pemikiran Soekarno. Partai Sosialis Indonesia (PSI) di bawah dominasi pemikiran Sjahrir dan Mohammad Hatta, Masyumi (Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Menjelang akhir priode tepatnya tahun 1950-an lima belas tahun sebelum peristiwa kudeta 1965, Partai Komunis Indonesia kembali hadir sebagai partai politik yang mampu melakukan mobilisasi akar-rumput di kalangan pedesaan; sebuah referensi penting penting sebagai penguat gerakan mahasiswa di tahu-tahun 1970 hingga 1998. Partai Rakyat Demokratik (PRD) menempuh jalan yang sama. Kecenderunganya yang mengorganisir petani, buruh tani,di basis-basis desa dan buruh di perkotaan.

Referensi

Al-Fayyadl, M., & Apinino, R. (2015, Agustus 28). Muhammad Al-Fayyadl: “Pada Level Aksiologis, Islam dan Marxisme menjadi Sangat Kompatibel”. Retrieved Januari 19, 2020, from Indoprogress.com: https://indoprogress.com/2015/08/fayyadl-pada-level-aksiologis-islam-dan-marxisme-menjadi-sangat-kompatibel/

Novianto, A. (2015, Maret 25). Kemana Arah Gerakan Mahasiswa Sekarang?: Dari Refleksi Menuju Aksi. Retrieved Januari 19, 2020, from Indoprogress: https://indoprogress.com/2015/03/kemana-arah-gerakan-mahasiswa-sekarang-dari-refleksi-menuju-aksi/

Sartono, O. A. (2014, Desember 16). Gerakan Mahasiswa, Riwayatmu Kini! Retrieved Januari 19, 2020, from Indoprogress: https://indoprogress.com/2014/12/gerakan-mahasiswa-riwayatmu-kini/


beras