Gus Yaqut, Pesantren dan Agama sebagai Inspirasi

Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden

Oleh Ach. Taufiqil Aziz

(Dosen Pancasila di Institut Sains dan Teknologi Annuqayah)

Kolom — Kejutan penting dalam reshuffle kabinet Presiden Jokowi adalah Gus Yaqut. Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang dipilih sebagai menteri agama. Dalam beberapa hari ini, sosoknya trending di media sosial. Dari netizen kelas curhat sampai yang ahli berharap Gus Yaqut mampu menjawab tantangan keberagamaan di Indonesia. Mampukah ia melakukannya?

Gus Yaqut menjadi sorotan sejak diperkenalkan oleh Jokowi Selasa lalu (22/12). Dalam pidato singkatnya ia ingin menjadikan agama sebagai inspirasi. Bukan sebagai aspirasi. Trending berlanjut, saat Gus Yaqut secara fasih mengucapkan selamat natal untuk umat Kristiani, dan kini ia kembali menjadi sosok yang menyita perhatian atas maksudnya membangun dialog dengan kelompok minoritas Ahmadiyah dan Syiah.

Sebelumnya, ramai komentar dari netizen bahwa keberadaan Gus Yaqut dipasang untuk berhadapan dengan jaringan islam keras yang selalu “berisik”. Yang jelas, pola perbedebatan sudah terlihat bagaimana posisi Gus Yaqut diharapkan melawan radikalisme di satu sisi dan pada sisi lain melindungi minoritas.

Masalahnya dari semua asa publik, kita melupakan beberapa hal. Pertama, isu tentang radikalisme dan yang sekitarnya ini nyaris berhasil menenggelamkan isu lainnya. Termasuk dalam soal kerakyatan. Kedua, isu agama yang mengemuka adalah tentang harapan untuk menghadapi yang ada di “luar”. Bukan pada penguatan yang sudah ada di dalam kementerian agama itu sendiri.

Berita Terkait :  Analisis Sosial sebagai Instrumen Perubahan Sosial

Kalau mau jujur, tantangan akan mudah dihadapi, manakala kekuatan yang ada di dalam kementerian agama bisa dimaksimalkan. Yang mana ceruk penting dari kekuatan kementerian agama adalah keberadaan pesantren dan perguruan tinggi yang ada bawah naungannya.

Bagi saya, kalau penguatan pesantren dan perguruan tinggi yang berada di Kemenag ini berjalan efektif, maka kerja Gus Yaqut akan lebih mudah untuk menghadapi tantangan di luar. Tetapi nyaris, pesantren dan perguruan tinggi yang berada di Kemenang belum menjadi bahan serius diskusi pasca Gus Yaqut jadi menteri.

Nilai Agama dan Kekuatan Pesantren

Menyelesaikan radikalisme hanya dengan variabel agama sebenarnya tidak cukup. Karena munculnya radikalisme memiliki variabel yang sungguh kompleks. Selain karena pemahaman yang keliru tentang agama, tetapi pada sisi yang lain juga bertemali dengan politik, ekonomi dan juga persepsi tentang ketidakadilan.

Saya kira, Gus Yaqut harus komitmen dengan cara-cara mengembangkan kementerian agama sebagaimana yang ditunjukkan oleh latar belakangnya sebagai Ketua Ansor. Yakni dengan cara merangkul dan bukan memukul. Dengan Amar Ma’ruf bil Ma’ruf. Nahi Munkar bil Ma’ruf.

Untuk mewujudkan itu semua, Gus Yaqut tidak bisa sendiri. Penguatan pesantren sebagai pendidikan agama saya kira adalah pilihan tepat untuk menghadrikan nilai agama sebagai inspirasi. Bukan hanya aspirasi semata. Untuk itu, pemberdayaan pesantren mesti menjadi program prioritas dari kementerian agama.

Berita Terkait :  Mengentaskan Kemiskinan Melalui Jalan Perhutanan Sosial

Urusan islam garis keras biasanya hanya berisik berdasarkan momentum. Yang paling sering adalah urusan politik dan pergantian kepemimpinan. Sementara basis pesantren adalah yang sebenar-benarnya kekuatan. Ia berdimensi pendidikan, ekonomi, sosial, dan agama itu sendiri. Sepanjang berdirinya pesantren, lembaga ini adalah sumber inspirasi agama yang tak pernah habis. Cuma perlu disentuh lebih dekat lagi oleh program kementerian agar bisa tambah memiliki energi. Sebagaimana yang pernah diteladankan oleh Gus Dur yang memiliki program pemberdayaan pesantren di Indonesia. Tentu hal itu juga harus diterapkan oleh kementrian agama di bawah kendali Gus Yaqut.

Tampaknya Gus Yaqut sudah memulainya. Terlihat di media sosialnya, Gus Yaqut keliling pesantren untuk menemui sejumlah kiai dan tokoh pesantren. Kita berharap ia akan melahirkan kebijakan konkret untuk penguatan agama sebagai inspirasi di pesantren di Indonesia.

Penguatan Perguruan Tinggi

Dimensi kekuatan lainnya adalah perguruan tinggi yang berada di bawah koordinasi Kemenag. Bagi saya, berisiknya kelompok garis keras adalah karena kelompok yang moderat kurang ramai mengisi ruang sosial kita. Perguruan tinggi yang berada di bawah Kemenag sebagaimana UIN, IAIN, dan Institut lainnya lebih terlihat sepi daripada teriakan kelompok garis keras di media sosial.

Berita Terkait :  Podcast Alat Propaganda Baru Berdakwah

Ketika yang sedikit bergerak dan yang banyak memilih diam maka seolah-olah ancaman radikalisme semakin berbahaya. Padahal sebenarnya adalah soal pilihan saja. Inilah saatnya bagi Gus Yaqut agar agama visi agama sebagai inspirasi terwujud konkret, maka perlu menggerakkan perguruan tinggi yang ada di bawah Kemenag untuk lebih aktif dan ramai mengkampanyekan islam yang ramah, moderat dan rahmatan lil alamin.

Tidak hanya dalam kerangka seminar yang ilmiah, tetapi juga penguasaan di media sosial. Pengalaman Gus Yaqut di Ansor yang memahami peta gerakan agama tentu saja akan membantu memudahkan kerangka penguatan perguruan tinggi yang ada di bawah lingkungannya. Tinggal menunggu mesin birokrasinya untuk bergerak efektif.

Saya kira, penguatan perguruan tinggi dan juga pesantren akan menjadi variabel untuk mewujudkan visi misi dari Gus Yakut di Kemenag. Sebagaimana yang disampaikan oleh Gus Mus lewat akun media sosialnya, bahwa menjadi menteri agama adalah amanah dan tanggung jawab. Bukan dianggap anugerah. Tentu saja di pundak Gus Yakut tantangan untuk menghadirkan agama sebagai inspirasi tidaklah mudah. Kita semua memang harus menjadi bagian dari gerakannya.

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini