Berita

 Network

 Partner

HISKI Jember Gelar Webinar Nasional Bahas Komodifikasi Sastra dan Film

HISKI Jember Gelar Webinar Nasional Bahas Komodifikasi Sastra dan Film

Berita Baru Jatim, Jember – Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember) bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UNEJ) dan Kelompok Riset Pertelaahan Sastra Konteks Budaya (KeRis PERSADA) usai menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tajuk NGONTRAS (Ngobrol Nasional Metasastra) pada Sabtu, (14/08).

Diselenggarakan via Zoom Meeting, Webinar kali ini mengangkat tema tentang “Komodifikasi Sastra dan Film”, dengan menghadirkan pembicara dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dr. Umilia Rokhani, M.A. dan dari FIB UNEJ, Dr. Bambang Aris Kartika, M.A., dan dimoderatori oleh Ketua HISKI Jember, Heru S.P. Saputra.

Sebelum membuka acara, dalam sambutannya, Sukarno, Dekan FIB UNEJ menyampaikan bahwa Webinar Nasional merupakan medium yang baik untuk mengembangkan kerja-kerja akademik, hingga mewujudkan karya dalam bentuk artikel di jurnal.

“Dengan mendiskusikan dan mendialogkan berbagai ide dan tema-tema mutakhir, para dosen hendaknya mampu mewujudkan publikasi ilmiah sebagai wujud kinerja yang dapat direkognisi oleh banyak pihak,” harapnya.

Sebelum memandu acara, Heru S.P. Saputra menjelaskan bahwa program NGONTRAS akan dilaksanakan secara rutin-bulanan, baik dalam format seminar, bedah karya, seperti bedah buku dan bedah film, atau kuliah pakar. Dirinya juga mengajak para sarjana sastra yang berada di wilayah Tapal Kuda (Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan) untuk bergabung menjadi anggota HISKI Jember.

Dalam sesi pertama, Umilia Rokhani menegaskan bahwa film mengalami perkembangan nilai akibat perubahan fungsi, bukan sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi lebih menekankan pada perspektif masyarakat. Fungsi film bukan hanya memberi informasi dan mendidik, tetapi juga membimbing, mempengaruhi, mengkritik, bahkan memproduksi ulang perspektif yang menumbuhkembangkan produk kultural lainnya.

Dalam kasus film indie ke-“tionghoa”-an, Umilia mencontohkan bahwa para sineas Tionghoa memilih jalur indie untuk menyuarakan realitas yang dihadapi dan harapan atas posisi masyarakatnya. Melalui film yang diproduksi tersebut terjadi upaya membuka pikiran penonton dengan membangkitkan rasa empati dan simpati penonton terhadap permasalahan ke-“tionghoa”-an. Upaya tersebut membawa perubahan dan pergeseran penerimaan masyarakat, baik pada jalur indie, tema-tema terkait, sineas selaku pemroduksi film, maupun posisi masyarakat Tionghoa itu sendiri. “Film menjadi gerakan kultural dalam mencapai perubahan cara pandang masyarakat,” tegas Umilia.

Berita Terkait :  Tingkatkan Imun, Mahasiswa KKN Back to Village 3 UNEJ, Gelar Pelatihan Pembuatan Jamu dari Kunyit

Sementara itu, Bambang Aris Kartika menjelaskan bahwa sastra biografi dan film biopik merupakan produk komoditas media dan seni, industri berbasis kreativitas dan teknologi sinematik, dan adaptasi dari teks sejarah biografi menjadi komoditas. Sastra biografi dan film biopik diorientasikan bagi kepentingan praktik komersialisasi di industri perfilman dan perbukuan. Praktik komodifikasi menjadi salah satu strategi dalam memproduksi film agar diterima oleh publik dan menjadi film dengan kategori box office dan buku best seller.

Praktik komodifikasi strategi yang memposisikan teks narasi sejarah biografi menjadi produk komoditas film dan novel. Ada empat hal penting terkait proses strategi komodifikasi film biopik dan novel biografi, yakni riset sejarah sebagai keharusan, pemilihan tokoh dengan menghadirkan kebenaran sejarah dan realitas filmis, konten cerita berisi puncak-puncak peristiwa dramatik, potensi segmentasi pasar mempertimbangkan segmen penonton yang memiliki ikatan psikologis, emosional, identitas, dan ideologis.

“Dengan strategi komodifikasi, maka karya yang semula tidak bernilai komersial diproduksi menjadi produk bernilai komersial,” tegas Bambang.

Acara dilanjut dengan diskusi interaktif antara audience dan pembicara. Ada sekitar 200 peserta dari berbagai latar belakang yang masih menyimak sampai akhir diskusi.

HISKI Jember Gelar Webinar Nasional Bahas Komodifikasi Sastra dan Film