Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Jurnal Arif Kembali Gelar Workshop Bahas Publikasi Menembus Jurnal Terindeks Scopus

Jurnal Arif Kembali Gelar Workshop Bahas Publikasi Menembus Jurnal Terindeks Scopus

Berita Baru, Jakarta — Jurnal Arif FBS Universitas Negeri Jakarta bekerja sama dengan HISKI UNJ kembali selenggarakan pertemuan diskusi tim 7 dengan tajuk Workshop ke-9 “Publikasi Menembus Jurnal Terindeks Scopus” putaran satu pada hari Sabtu, (13/08/2022) Via Zoom Meeting.

Workshop tersebut sebagai rangkaian kegiatan yang diadakan Jurnal Arif dengan tema yang sama. Workshop diselenggarakan setiap dua minggu.

Dalam pengantarnya, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., sebagai koordinator, mengatakan bahwa sebagai bagian dari masyarakat dunia, kita bertanggungjawab menyebarkan ide, ilmu, gagasan, dan hasil penelitian untuk kemajuan zaman sesuai dengan hal yang ditekuni.

“Acara ini juga sebagai perjalanan dan peziarahan akademik kita bersama meraih publikasi di jurnal internasional,” ungkapnya.

Novi menambahkan, melalui bincang ini, semoga publikasi ini dapat menjadi rekam jejak perjalanan akademik kita. Ia juga mejelaskan bahwa tema besar pada tim-7 membahas seputar kolakalan 4 (empat) artikel dan kemodernan 1 (satu) artikel.

“Kesetiaan Ibu-Bapak berbagi melalui Bincang Arif ini menjadi perjalanan ziarah akademik kita bersama. Ditolak redaksi, diminta revisi minor atau mayor, sampai akhirnya diterima dan publish menjadi kekayaan pengalaman kita bersama dan masing-masing,” harapnya.

Jurnal Arif Kembali Gelar Workshop Bahas Publikasi Menembus Jurnal Terindeks Scopus

Ada 5 pemakalah yang hadir dalam workshop kali ini, yaitu Dr. Siti Gomo Attas, M. Hum (Universitas Negeri Jakarta), Dr. Latifatul Izzah, M.Hum (Universitas Jember), Dr. Marwiah Pala, S.Pd., M.Pd. (Universitas Muhammadiyah Makassar), Dr. Imam Qolyubi, S.S., M.Hum (IAIN Palangka Raya), Sarwo Ferdi Wibowo, S.Pd., M.A (PR Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN) dengan pembawa acara Dr. Ari Ambarwati, M.Pd. dan moderator Sudartomo Macaryus, M.Hum.

Pemakalah pertama, Siti Gomo memaparkan artikelnya berjudul “Budaya Bugis Mandar:
Alat Pengembang Pariwisata di Pulau Tidung Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Indonesia.

Siti mengatakan bahwa budaya Bugis Mandar di Pulau Tidung sudah mendapat tempat sejak zaman kolonial Belanda dalam ajang pelayaran orang Mandar ke Batavia.

“Tradisi lisan Silat Mandar masih berlangsung dan dipelajari. Begitu pula dengan tradisi pembuatan kapal yang diperkenalkan dalam pelayaran Nusantara Suku Mandar. Kedua budaya Bugis Mandar ini telah menjadi alat untuk mengembangkan wisata Pulau Tidung sebagai pulau yang maju dan banyak dikunjungi wisatawan,” jelasnya.

Dilanjut ke pemakalah kedua, Latifatul Izzah membawakan artikel berjudul “Robinah: Perempuan di Balik Kesuksesan Investor George Birnie pada Era Kolonial Belanda”

Izzah mengatakan bahwa kajiannya membahas perempuan Hindia Belanda (sebutan nama Negara Indonesia pada zaman Kolonial Belanda) yang memiliki status terhormat dan istimewa dibandingkan perempuan-perempuan lain pada eranya.

“Kajian ini dibedah dengan menggunakan pendekatan feminisme yang diformulasikan dengan metode sejarah. Mengambil lingkup spasial di Regentschap Bondowoso tahun 1860-1935,” jelasnya.
Robinah sebagai representasi perempuan pribumi yang mendapat status istri dari Birnie. Hingga akhir hayatnya, ia hidup dengan Robinah yang setia menjadi istrinya.

Pembicara ketiga, Marwiah Pala membawakan artikel dengan judul “Transformasi Budaya Sinrilik Makassar Menuju Global di Era Masyarakat 5.0.”
Sinrilik merupakan kisah yang dituangkan dalam bentuk puisi yang dibawakan secara berirama. Pembaca sinrilik memerlukan penguasaan bahasa, nada, dan irama. Saat ini peminat yang mampu membawakan sinrilik cenderung semaki menurun.
Strategi yang dilakukan untuk mewariskan dengan mengajak para mahasiswa membawakan sinrilik dengan versi bahasa Indonesia dan bahasa Makasar.

Pemakalah keempat, Imam Qolyubi mempresentasikan artikelnya dengan judul “Garing dalam Memori Kolektif Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah”.
Garing merupakan pohon kehidupan sebagai representasi pandangan masyarakat Dayak Ngaju yang memiliki nilai keuniversalan. Secara simbolik garing berpotensi dibedah dengan menggunakan teori semiotik dengan segala variasi dan pengembangannya.
Teori yang disampaikan para ahli dunia berpotensi disederhanakan untuk diadaptasi dan digunakan untuk membedah beragam fenomena budaya masyarakat Nusantara, termasuk garing pada masyarakat Dayak Ngaju.

Sementara itu, pemateri terakhir, Ferdi Wibowo membawakan materi dengan judul “Konstruksi Ruang Pascakolonialisme dalam Novel Pasar Karya Kuntowijoyo”.

Wibowo mengawali presentasinya dengan mengatakan meski tidak mutlak, penelitian pascakolonialisme acap kali diidentikkan dengan penelitian sejarah yang berbasis kronologi peristiwa.

“Penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui pembacaan heuristik kemudian dilakukan pembacaan ulang secara hermeneutik terhadap novel Pasar karja Kuntowijoyo,” jelasnya.

Selesai paparan yang disampaikan para presenter, acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Beberapa masukan untuk para presenter memberi wawasan baru untuk pengembangan dan penyempurnaan artikel.
Para presenter pada umumnya menguasai data yang beragam. Kekayaan data tersebut berpotensi sebagai basis pengembangan teori baru yang layak ditawarkan untuk membedah karya sastra lokal Nusantara.

Hingga akhir acara, 38 masih terus setia berada di ruang Zoom untuk mengikuti paparan dan diskusi yang inspiratif.

beras