Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Korban Lumpur Lapindo, Udara Rusak dan Nafas Sesak
Data penderita ISPA di 3 Puskesmas sekitar kawasan Lapindo (Foto: Eko Widodo/Komunitas Lumpur Lapindo)

Korban Lumpur Lapindo, Udara Rusak dan Nafas Sesak

beras

Berita Baru, Sidoarjo – Lumpur Lapindo, Porong Sidoarjo menyisakan dampak yang tak sudah-sudah. Pelbagai usaha untuk mengembalikan hak-hak pun telah dilakukan. 26 Mei 2022 lalu 16 tahun sudah tragedi semburan lumpur panas pengeboran perusahaan tambang, PT Lapindo Brantas. Meski belasan tahun berlalu, penderitaan warga terus berlangsung. Kondisi lingkungan hidup pun kian memburuk.

Warga melawan bau menyengat dari semburan Lumpur Lapindo, dan entah sampai kapan akan berhenti. Mereka pun langganan mengalami gangguan pernafasan atau dikenal ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Anggota Komunitas Lapindo bernama Harwati menceritakan banyak hal tentang kondisi terbaru warga sekitar Lapindo akibat bencana industri (sebutan dalam buku Kronik Lumpur Lapindo) itu saat ditemui pada Rabu (29/06/2022). Dia membeberkan data penderita ISPA yang didapat dari tiga Puskesmas yaitu Porong, Tanggulangin, dan Jabon.

Datanya menunjukkan bahwa penderita ISPA masih cukup tinggi, meski jumlahnya terus menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 2021 total ada 4.892, pada tahun 2020 ada 35.480, sementara tahun 2019 sekitar 43.222.

Namun demikian, menurut Harwati, penurunan jumlah pasien ISPA itu bisa jadi dipicu oleh masifnya kepindahan warga sejak tahun 2020 karena memang sudah tidak tahan dengan bau yang menyengat setiap hari.

“Warga yang pindah domisili itu berarti juga pindah ke fasilitas kesehatan lain, artinya tidak masuk dalam data 3 Puskesmas sebelumnya,” kata dia.

Selain itu, imbuh Harwati, penurunan angka itu bisa juga disebabkan oleh keengganan warga mendatangi fasilitas kesehatan pada masa pandemi Covid-19 yang terjadi selama hampir 3 tahun. Mengingat pandemi kali ini juga terkait dengan gangguan pernapasan.

Belum lagi warga yang merasa terbiasa dengan bau menyengat dari semburan Lumpur Lapindo tersebut. Banyak warga mengaku semakin jarang mencium bau lumpur dari gas yang ke luar bersama semburan lumpur Lapindo itu. Seperti pekerja ojek tanggul Lapindo, mereka terbiasa mencium bau tidak sedap atau hampir tidak mencium bau Lumpur Lapindo kecuali kalau sangat menyengat.

Namun bukan berarti, udara di sekitar Lumpur Lapindo sudah membaik, malah masih terbilang cukup berbahaya bagi pernafasan. Posko KKLuLa mengeluarkan hasil pemantauan udara yang menemukan peningkatan kadar polycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) di seputar pusat semburan. Kandungan H2S dapat menyebabkan hilangnya penciuman.

Karena itulah Harwati mengatakan bahwa kesehatan warga menjadi fokus perhatian yang digali lebih lanjut bersama warga lainnya di komunitasnya. Apalagi bila dikaitkan dengan kualitas air dan udara di sekitar semburan yang terus menurun.

“Pada saat yang bersamaan, permasalahan sosial yang dihadapi warga meningkat seiring kurang responsifnya pemerintah setempat, di level kabupaten dan desa,” kata dia.

Selama ini, imbuhnya, semakin banyak warga yang sering merasakan masalah kesehatan, seperti gangguan pernafasan, mual, pusing, keluhan percernaan, ataupun penyakit lain.

Lilik Umiyati, warga Gempolsari, mengaku bahwa dia mengalami gangguan lambung selama kurang lebih sebulan. Dia mencatat gangguan kesehatan setiap bulan pada kalender pantau. Selama perawatan dia sudah menghabiskan lima tabung oksigen yang dibeli sendiri. Dengan masalah kesehatan semacam itu, Lilik enggan datang ke puskesmas karena takut dirinya dicovidkan.

beras