Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tangkap layar diskusi virtual "Ngobrol Onlen2an Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM). (Foto: Beritabaru.co/ Rizal Kurniawan)
Tangkap layar diskusi virtual “Ngobrol Onlen2an Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM). (Foto: Beritabaru.co/ Rizal Kurniawan)

Kritisi Teori Kelisanan, Pusat Studi Kebudayaan UGM Gelar Ngobrol Online

Berita Baru, Yogyakarta — Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM) baru saja menggelar acara diskusi virtual via Google Meet bertajuk Ngobrol Onlen2an dengan tema “Mengkritisi Teori-teori Kelisanan”, pada Kamis (24/9).

Acara tersebut menghadirkan pembicara Sainul Hermawan dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan dimoderatori oleh Novi Anoegrajekti dari Universitas Negeri Jakarta.

Novi membuka acara dengan penjelasan umum bahwa kelisanan dimiliki oleh setiap masyarakat di seluruh muka bumi. Mulut dan bagian-bagiannya berpotensi memproduksi tuturan lisan secara tak terbatas.

I Nyoman Darma Putra dari Universitas Udayana juga menyatakan bahwa lebih dari 80% kegiatan manusia adalah kelisanan.

Sementara itu, Hermawan memfokuskan perhatian pada kelisanan yang dispesifikkan pada refleksi pedagogis. Ia bertolak dari pandangan mazhab Toronto, seperti Eric A. Havelock, Harold Innis, Marshall McLuhan, dan Walter J. Ong, yang mendikotomikan kelisanan dengan keberaksaraan.

Kelisanan memiliki cakupan bidang yang luas, seperti kajian bahasa, sastra, media, komunikasi, sejarah, budaya, seni pertunjukan, sosiologi, antropologi, dan pendidikan.

Obrolan online tersebut berlangsung dinamis, dialogis, dan saling menginspirasi. Berbagai permasalahan kelisanan mulai dari mantra, seni tradisi, dan ritual dimunculkan oleh peserta yang telah melakukan penelitian.

“Keragaman pandangan menjadi bukti dinamika kelisanan yang terus dihidupi oleh masyarakat pendukungnya. Kelisanan juga sebagai gejala alami dan primer yang dimiliki setiap masyarakat dengan beragam bahasa, budaya, dan tradisi,” terang Hermawan.

Novi menyimpulkan, dalam perspektif akademis, bahwa kelisanan berpotensi menjadi sumber data penelitian dan pengkajian untuk mengungkap berbagai fenomena sosial, budaya, seni, dan beragam gejala yang dihidupi oleh masyarakat pendukungnya.

Sedangkan dalam perspektif politis, kelisanan berpotensi dimanfaatkan sebagai propaganda politik untuk mengokohkan kekuasaan yang didukung oleh aparatus negara.

“Telekonferen, Sambung-Rasa yang mewarnai tayangan televisi pada tahun 1980-an menjadi salah satu bukti propaganda politik tersebut,” simpulnya.

Novi juga menambahkan “Sebagai media yang terbuka, kelisanan terus mengalami dinamika sejalan dengan perkembangan budaya masyarakat pendukungnya. Kegiatan nonton bareng, jumpa darat, ngopi bareng, temu kangen, reuni, dan pertemuan trah menjadi bukti dinamika kelisanan yang dihidupi masyarakat pendukungnya,” terangnya.

Dalam bidang pendidikan, kelisanan digital, menjadi media alternatif yang cenderung tidak menjadi pilihan pada masa “PRA-COVID 19” karena merasa nyaman dengan kelisanan tatap muka. Kelisanan digital yang menyediakan ruang virtual mengalami akselesati atau pemaksaan pada masa pandemi COVID-19. Masyarakat perlu waspada karena media digital merupakan pisau bermata dua. Ia berpeluang meningkatkan kualitas dan sumber daya manusia sekaligus berpeluang memerosotkan kemanusiaan.

Di akhir acara, Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM, Aprinus Salam berharap, dari diselenggarakannya acara ini, media canggih yang menawarkan kelisanan digital dan menyediakan ruang virtual untuk mengkritisi lebih lanjut teori-teori kelisanan.

Kritisi Teori Kelisanan, Pusat Studi Kebudayaan UGM Gelar Ngobrol Online
Pamflet Ngobrol Onlen2nan Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. (Foto: Beritabaru.co/ Rizal Kurniawan)

beras