Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Makin-Candra: Saling Silang Sindiran Kritis

Makin-Candra: Saling Silang Sindiran Kritis

beras

Berita Baru, Trenggalek – “Saya melihat tadi Mas Candra waktu di sesi pertama, saya belum dapat esensinya, saya malah dapet tentang promosi-promosi dan doa-doa yang disampaikan di sesi pertama,” Ainul Makin Aminullah memulai dengan pedas. Pria yang akrab disapa Makin itu merupakan kandidat nomor urut 3 calon ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Jawa Timur. Debat putaran kedua yang berlangsung di Kabupaten Trenggalek bertajuk Hak Asasi Manusia dan Lingkungan Hidup.

Debat itu berlangsung dengan tiga segmen. Di segmen kedua, moderator debat memberikan kesempatan kepada masing-masing calon untuk saling bertanya satu sama lain. Seutas kalimat itu Makin lempar kepada Muhammad Dwi Candra Saputra, calon kandidat nomor 4.

Sebelum melempar pertanyaan, Makin menuturkan bahwa penyampaian Candra tidak ada korelasi dengan tema. “Sehingga saya juga tidak melihat kaitan dari presentasi pada sesi pertama tentang Human Rights dan Enviromental Ethics.” Sederhananya, Makin mulai mempertanyakan esensi tema, missal Candra diamanahi menjadi Ketua PKC Jatim.

“Dalam teknisnya bagaimana Mas Chandra untuk apa memberdayakan tema pada malam hari ini?”

Sembari tersenyum, Candra pelan-pelan mulai menjawab. Namun ia menyerang balik argumentasi Makin yang menganggap presentasi dirinya tak esensial.

“Saya kira sahabat makin ini lebih cakap untuk mendengarkan terkait esensi gerakan-gerakan ataupun presentasi. Di awal saya tadi sudah menjelaskan. Bagaimana gerakan-gerakan pergerakan mahasiswa Islam Indonesia ini sebagai wujud dari pada implementasi wacana ataupun bacaan-bacaan,” kata Candra menyitir Makin.

Ia menerangkan bahwa kerja-kerja konkrit yang akan ia lakukan menggunakan beberapa strategi. Pertama, PMII merupakan organisasi kaderisasi. Menurutnya, setiap cabang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pembahasan tentang agraria, lingkungan dan hak asasi manusia, kata Candra melanjutkan, akan diwujudkan dengan metode silang kaderisasi.

“Apa yang dimaksud dengan silang kaderisasi? Silang kaderisasi ini akan saya lakukan karena pertukaran-pertukaran ide dan gagasan ini sangat dibutuhkan,” terang Candra.

Tak Goyah Anggapan Utopis

Setelah menjawab pertanyaan Makin, Candra merespon dan menyikapi argumentasi Makin di sesi pertama. “Apa yang dijelaskan sahabat Makin tadi ini terlalu utopis, terlalu ambigu,” kata Candra. Serangan balik nan kritis itu disikapi oleh Makin. Bahkan Makin berterima kasih. Hanya saja, bagi Makin upaya yang dilancarkan Candra tak membuatnya goyah.

“Sampai saat ini saya belum merasa terserang sama sekali.” Ia pun menanggapi anggapan Candra bahwa argumennya utopis.“Yang dimaksud utopis itu mungkin hanya berkenaan dengan literasi, mungkin soal literasi,” ujar Makin.

Candra melanjutkan argumentasi pertanyaan yang hendak ia lontarkan. Kerja-kerja organisasi, kerja-kerja konkrit kaderisasi, kerja-kerja konkrit dari gerakan, Candra melanjutkan, harus dibuktikan. Posisi kader-kader PMII di tengah masyarakat, Candra mempertanyakan, berada di sebelah mana.

“Ada di tataran atas high-class, ada di tataran Tengah middle-class dan ada di tataran bawah low class. ini harus kita perjelas. Siapa yang kita perjuangkan itu harus jelas,” jelas Candra.

Candra menerangkan bahwa menyoal lingkungan hidup menyangkut, tentang energy, udara, tanah dan tentang air. Baginya hal-hal itu mesti dikawal. Candra melempar pertanyaan sederhana nan kritis.

“Ketika bapak makin diamanahi menjadi ketua PMII Jawa Timur program apa yang akan akan dilakukan ketika memimpin PMII Jawa Timur dibidang gerakan lingkungan dan sumberdaya manusia seperti itu?”

Pertanyaa itu seketika dijawab oleh Makin. Ia mengatakan bahwa dalam penyampaian di sesi pertama melacak kronologis istilah Hak Asasi Manusia. Bahkan terkait isu lingkungan hidup, salah satunya, kata Makin, berawal dari Paris Agreement pada tahun 2015.

“Yang saya maksudkan tadi itu bukan utopis Mas Candra. Itu suatu langkah yang sangat besar yang insya Allah sangat bermanfaat untuk kita kali ini,” ucap Makin.

Ia pun memaparkan solusi dari pelbagai problem HAM dan lingkungan hidup. Bagi makin, kader-kader PMII mesti berterima kasih kepada pendahulu di PMII yang sudah menyusun sedemikian rupa sistem yang sudah sangat baik di PMII. Hanya saja, Makin merefleksikan, kenapa hal ini masih belum bisa menjadi solusi. Ia menduga itu disebabkan karena kurang optimalnya kerja-kerja kaderisasi.

“Karena organisasi PMII ini adalah kerja-kerja intelektual, kerja-kerja penyadaran pada kader dan anggota seluruh PMII Jawa Timur. Kerja-kerja organisasi bagaimana kita memberikan unity and diversity nya kesadaran tentang perbedaan dalam kesatuan,” lanjut Makin.

Ikhtiar membangun kepedulian pada diri sendiri dan lingkungan sekitar, terutama kepada Kader PMII, Makin menjelaskan, salah satu jawabannya dengan optimasi kaderisasi, pergerakan dan spiritual. “Nantinya PMII Jawa Timur akan benar-benar terwujud untuk menjadi barometer pergerakan dan episentrum kaderisasi nasional,” ucap Makin mengakhiri.

beras