Mengembalikan Khittah Perjuangan HMI

Puluhan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengibarkan bendera/FOTO ANTARA/Irwansyah Putra.
Puluhan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengibarkan bendera/FOTO ANTARA/Irwansyah Putra.

oleh: Hari Kusuma Dharmawan
(Pjs Ketua Umum Badko HMI Jateng-D.I.Yogyakarta Periode 2018-2020)


“Terbinanya Insan Akademis Pencipta Pengabdi yang Bernafaskan Islam dan Bertanggungjawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang Diridhoi Allah SWT”


Begitulah kutipan tujuan HMI yang tertera dalam Anggaran Dasar HMI Pasal 4. Tujuan tersebut menjadi ruh berjalannya organisasi yang sudah berusia 74 tahun. Tepatnya pada tanggal 5 Februari 1947 HMI didirikan oleh Prof. Lafran Pane, yang kala itu masih menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Islam (Sekarang UII) Yogyakarta (termasuk wilayah Badko HMI Jateng-D.I.Yogyakarta) beserta 14 orang lainnya.

Didirikannya HMI bukan tanpa sebab, para founding father’s HMI meyakini bahwa kemunduran umat Islam diawali dengan kemunduran berpikir. Ini lebih disebabkan umat Islam terlena dengan kebesaran dan kejayaan di masa lalu. Oleh karenanya muncul banyak gerakan untuk menentang hal tersebut demi mengembalikan ajaran Islam kepada ajaran yang totalitas. Gerakan ini disebut gerakan pembaharuan, yang memandang Islam tak hanya terbatas pada hal-hal sakral saja. Melainkan keseluruhan pola kehidupan manusia yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Gerakan ini banyak muncul di dunia Islam seperti di Turki (1720), Mesir (1807), Saudi Arabia (1707), India (1817) dan lain sebagainya.

Tahun 1947 Indonesia baru saja mendeklarasikan kemerdekannya. Tetapi Belanda belum sepenuhnya mengakui kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut menjadi kegelisahan bagi pemuda kala itu. Maka dengan didirikannya HMI, menjadi wadah bagi pemuda Islam untuk turut serta mengangkat senjata mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang telah diraih di atas cucuran darah para pendahulu.

Berita Terkait :  Jack Brown Bersama Timnas U-19 Berbuah Manis Dengan Ketekunannya

Kondisi umat Islam Indonesia yang dikategorikan menjadi 4 (empat) golongan juga menjadi penyebab kenapa HMI harus dilahirkan. Pertama: Sebagian besar umat Islam menjalankan ajaran Islam hanya sebatas menjalankan kewajiban sebagai yang diadatkan, seperti upacara kelahiran, upacara perkawinan dan upacara kematian (lebih dikenal dengan Islam KTP). Kedua: Sebagian Umat Islam yang mempraktikan ajaran Islam seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketiga: Sebagian umat Islam menjalankan agama Islam dengan terpengaruh pada mistikisme. Menganggap hidup ini adalah untuk kepentingan akhirat saja. Keempat: Golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Mereka berusaha supaya ajaran Islam bisa dipraktekan dan berbaur menjadi satu dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam usianya yang ke 74 Tahun, Spirit yang terkandung di dalam sejarah HMI harus menjadi tumpuhan bagi seluruh Kader HMI. Sehingga tidak menjadi salah arah, atau bahkan berbeda arah dari tujuan dan latar belakang HMI didirikan. Figur-figur besar seperti Lafran Pane, Ahmad Dahlan Ranuwihardjo, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Munir adalah uswatun yang menyedikan gagasan dan menyegarkan gerakan untuk terus berjuang bagi kemajuan agama, bangsa dan negara. Kader HMI juga perlu merefleksikan pesan Cak Nur untuk bertindak sebagai problem-solver dalam setiap persoalan keummatan dan kebangsaan.

Dengan semangat tersebut Kami memulai menyelenggarkan Kepengurusan Badko HMI Jateng-D.I.Yogyakarta Periode 2018-2020 yang mulai memasuki akhir tahun kedua. Meskipun belum ada hal signifikan yang bisa kami lakukan, kami berusaha semaksimal mungkin mengemban amanah sumpah jabatan dan proses perkaderan yang ada. Meskipun  dengan situasi di Internal Badko HMI Jateng-D.I.Yogyakarta periode 2018-2020 yang sedang dilanda konflik kepengurusan. Ketua Umum terdahulu yang sudah di Pjs kan oleh Pengurus cabang dilingkup Badko Jateng-D.I.Yogakarta melalui forum pengambilan keputusan tertinggi ditingkat Badko (Rapat Pleno I) enggan melepas jabatannya dan mempertahankan secara mati-matian. Sudah tidak selayaknya hal itu dilakukan setelah melakukan pelanggaran organisasi yang tidak bisa ditolerir kembali. Menelantarkan organisasi lebih dari setahun, menggunakan organisasi untuk memperkaya diri sendiri dan menggunakan uang organisasi yang bernilai puluhan juta untuk keperluan pribadi.

Berita Terkait :  Kampusku, bukan Kampus Teroris

Ketika seorang Ketua Umum Badko sudah tidak dipercaya kembali oleh Cabang di bawahnya dan oleh pengurus Badko yang diurusnya sudah seharusnya untuk melepaskan jabatan yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT dan tidak membawa nama jabatan Ketua Umum HMI Badko Jateng-D.I.Yogyakarta untuk kepentingan pribadinya dimanapun berada. Hal ini tentu demi kebaikan dan kemajuan HMI badko Jateng-D.I.Yogyakarta serta mengembalikan spirit perjuangan HMI sesuai yang diharapkan oleh para founding father’s.

Dalam situasi Bangsa yang tengah berduka karena sedang dilanda bertubi-tubi musibah, seperti Covid-19 yang tak kunjung melandai, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, menyebabkan ketidakstabilan kondisi sosial ekonomi bangsa Indonesia. Sudah seharusnya HMI sebagai anak kandung bangsa turut berperan aktif dalam situasi dan kondisi semacam ini. Perkuat struktur HMI, resapi kultur kebangsaan HMI, minimalisir konflik internal HMI dan sudah saatnya HMI keluar untuk turut serta berbuat nyata terhadap ibu pertiwi yang sedang tidak baik-baik saja.

Disisa waktu yang ada, kami akan menjadikan Badko HMI Jateng-D.I.Yogyakarta sebagai epicentrum perkaderan HMI secara Nasional. Karena disinilah HMI dilahirkan, dan sudah selayaknya disini pula tolak ukur proses Perkaderan HMI dijalankan. Mulai membangun dari awal, serta menyusun ulang rancangan perkaderan yang lebih adaptif di era pandemi menjadi prioritas yang harus kami lakukan jika tak ingin HMI kandas ikut ditelan ganasnya Virus Covid-19. Diam atau acuh dengan kondisi sama saja dengan kita membiarkan kehancuran generasi penerus HMI. Mengancurkan penerus HMI sama dengan mengahancurkan Harapan Masyarakat Indonesia.

Berita Terkait :  Pesantren dan Kurikulum Pandemi

Dengan 11 Cabang Penuh dan 2 Cabang Persiapan. InsyaAllah di penghujung periode ini akan menjadi 12 Cabang Penuh dan 2 Cabang Pesiapan yang kita miliki saat ini. Ditambah gandeng tangan alumni HMI Badko Jateng-D.I.Yogyakarta yang tersebar di hampir seluruh wilayah nusantara, maka sesungguhnya pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita bersama, yakni menyiapkan generasi unggul HMI untuk Indonesia yang lebih bermartabat akan bisa kita gapai dan kita wujudkan bersama. Latihan Kader III akan kita laksanakan setelah Covid-19 melandai. Karena ini bagian dari menyiapkan generasi unggul HMI.

Menjaga dengan penuh amanah warisan para leluhur yang baik untuk masa depan, dengan senantiasa menerima dan menyesuaikan perubahan yang ada saat ini serta mempesiapkan SDM unggul untuk masa depan HMI dan Indonesia lebih Maju.

Kita ditakdirkan Hidup dalam kondisi yang semacam ini, karena Allah percaya bahwa kita akan menjadi pemimpin yang mampu melakukan tugas khalifatullah fi ard untuk mewujudkan masyarakat adil mamur yang diridhoi oleh Allah SWT. Yakin Usaha Sampai…

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini