Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

PC PMII Jember Tolak Segala Bentuk Industrialisasi di Kawasan Pesisir Pantai Selatan

PC PMII Jember Tolak Segala Bentuk Industrialisasi di Kawasan Pesisir Pantai Selatan

beras

Berita Baru Jatim, Jember – Penolakan pelebaran wilayah perusahaan tambak milik PT Delta Guna Sukses oleh warga Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Sabtu (09/01/21) berlangsung memanas. Pasalnya penolakan tersebut diwarnai dengan adu mulut antara warga dengan pihak perusahaan. Diduga alat berat yang didatangkan pada dini hari pukul 02.00 WIB tanpa adanya pemberitahuan kepada warga.

Sebelumnya warga telah menolak keberadaan tambak di daerah Kepanjen lantaran dampak-dampak yang selama ini dialami warga. Baik dampak secara ekologi, ekonomi, sosial dan lainnya.

Ketua Bidang Advokasi dan Gerakan Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Jember, Gandys Nanda I, menyebutkan bahwa kawasan pesisir selatan Kabupaten Jember telah di kapling oleh sejumlah perusahaan.

“Banyak perusahaan. Perusahaan Tambang PT. Agtika Dwi Sejahterah di Paseban. PT. Pantai Sumber Rejeki di Paseban. PT. Sarang Madu di Kepanjen, PT. Windu Marina Sukses di Kepanjen, PT. Anugrah Tanjung Gumukmas di Kepanjen, PT. Pandawa Lima Sejahterah Bersama di Kepanjen dan di Puger Kulon”. Tuturnya

Pada dasarnya kawasan pesisir pantai Jember selatan diperuntukkan untuk pembangunan industri ekstraktif pertambangan.

“Bila kita lihat data kementrian ESDM di momi.minerba.esdm.go.id kawasan pesisir pantai Jember selatan, masuk kedalam wilayah peruntukan pertambangan. Membentang dari ujung timur ke ujung kulon. Mulai dari Kecamatan Tempurejo sampai Kecamatan Kencong dengan kandungan paling banyak yaitu pasir besi. Selain itu ada kandungan mangan di Gunung Sadeng dan Gunung Watangan di Puger”. Imbuhnya

Ia menegaskan bahwa adanya narasi tambak hanya sebuah pengalihan isu strategis yaitu yang sebenarnya kawasan pesisir pantai Jember selatan nantinya akan dijadikan sebagai objek pertambangan.

“Bila kita bandingkan antara data ESDM dengan realita hari ini, pesisir pantai Jember selatan dalam narasi tambak itu hanya pengalihan saja. Selanjutkan akan dijadikan objek pertambangan pasir besi. Ini yang bicara data lho mas”. Paparnya saat di wawancarai via Whatss App.

Ia juga menyebutkan bahwa kawasan pesisir pantai Jember selatan masuk dalam kawasan rawan tsunami serta berada pada zona likuifaksi (penurunan dan pergeseran lapisan tanah).

“Dalam peta RTRW Jember (Perda No. 1 tahu 2015) kawasan pesisir pantai Jember selatan masuk kedalam wilayah yang berpotensi tsunami. Apalagi berdasarkan data Badan Geologi Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan kawasan tersebut masuk ke dalam zona likuifaksi tinggi. Rentan terhadap penurunan dan pergeseran tanah akibat volume air yang tinggi dibawah tanah. Ini merupakan tanda bahaya. Apalagi berdiri industrialisasi disana. Seperti apa nantinya”. Imbuh Gandys

Pihaknya akan terus melakukan upaya penolakan bersama warga terhadap adanya industrialisasi.

“PC PMII Jember akan terus konsisten melawan keberadaan industrialisasi bersama masyarakat setempat demi keberlangsungan hidup. Karena kita sebagai abdun kholifatullah fil ard mempunyai kewajiban untuk menjaga, merawat, memelihara, serta melestarikan pemberian Tuhan. Bukan sebaliknya merusak. Karena industri tambak maupun tambang sangat merusak lingkungan sekitar serta rawan terhadap konflik horizontal yang berkepanjangan. Kita cegah itu agar tidak terjadi”. Ujarnya.

Menurutnya tambak hanya meresahkan masyarakat dan keuntungannya hanya dinikmati oleh segelintir orang (investor) saja. Karena dampak-dampak negatifnya hanya diterima oleh masyarakat sekitar tambak.

“Dampak tambak itu banyak. Pencemaran terhadap lahan pertanian dan lahan para nelayan akibat limbah tambak yang mengakibatkan berkurangnya pendapatan warga sekitar yang mempunyai lahan disekitar tambak dan bagi para nelayan yang menurun hasil tangkap ikannya disekitar tambak. Dampak lain seperti pada erosi air yang mengakibatkan air dipemukiman warga sekitar tambak menjadi asin dan mengancam produktifitas tanah dikemudian hari.” Ujarnya.

“Hal ini sangat mengancam ekosistem di darat maupun di laut yang berada disekitarnya. Selain itu juga berdampak pada sisi ekologis yaitu: mengganggu biota laut, nelayan mengalami kesulitan untuk mencari ikan karena air sungai dan laut kotor, dan udara yang kotor dan tak sehat yang mengeluarkan bau tak sedap yang jika mengenai kulit akan menyebabkan gatal-gatal”. Tambahnya.

Untuk itu pihaknya senada dengan masyarakat pesisir pantai Jember selatan seperti masyarakat Desa Kepanjen untuk menolak adanya industri tambak maupun tambang.

“Kami (PC PMII Jember) bersama masyarakat Kepanjen. Baik yang sudah ataupun belum mereka (industri tambak dan tambang) bercokol, kita tetap menolak dan berupaya agar mereka angkat kaki dari wilayah pesisir Jember selatan”. Pungkasnya.

beras