Pemerintah Banyuwangi Gelar FGD Pemajuan Kebudayaan dengan Launching Buku “Sri Tanjung Hidup Kembali”

Pemerintah Banyuwangi Gelar FGD Pemajuan Kebudayaan dengan Launching Buku
Pemerintah Banyuwangi Gelar FGD Pemajuan Kebudayaan dengan Launching Buku "Sri Tanjung Hidup Kembali" (Beritabaro.co/Rizal Kurniawan)

Berita Baru Jatim, Banyuwangi — Pemerintah Banyuwangi kembali gelar Focus Group Discussion (FGD) Pemajuan Kebudayaan Daerah Tahun 2020 yang berlangsung di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi pada hari Kamis, (23/7).

Acara tersebut diisi dengan mengadakan launching buku “Sri Tanjung Hidup Kembali” karya Aekanu Hariyono, budayawan asli Banyuwangi.

Turut hadir secara virtual Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., dari FIB Universitas Jember. Novi mengatakan bahwa buku tersebut merupakan hasil laku yang panjang dalam menyikapi tragedi Sri Tanjung yang meninggal secara tragis akibat fitnah dan mendapat perlakuan secara tidak adil oleh penguasa.

Menurut Novi, Sri Tanjung adalah perempuan setia yang berjuang menjaga kesucian cintanya kepada suaminya Patih Sidopekso. Sri Tanjung berhak hidup bahagia bersama suaminya Patih Sidopekso yang mengabdikan diri kepada negara.

“Tragedi, fitnah, dan ketidakadilan terhadap perempuan dan kaum marginal harus diakhiri,” ujar Novi pada paparannya yang disampaikan secara virtual conference.

Pemerintah Banyuwangi Gelar FGD Pemajuan Kebudayaan dengan Launching Buku "Sri Tanjung Hidup Kembali"
Pemerintah Banyuwangi Gelar FGD Pemajuan Kebudayaan dengan Launching Buku “Sri Tanjung Hidup Kembali” (Beritabaro.co/Rizal Kurniawan)

Novi juga menambahkan, kehadiran buku ini menjadi bukti sejarah mengenai proses kreatif penulis-penulis Banyuwangi yang terus berposes. Penulis-penulis yang peduli terhadap budaya dan identitas Banyuwangi yang masih menyimpan harta budaya di bumi Blambangan. Penulis-penulis yang jiwanya terus bergejolak dan terusik oleh berbagai fenomena alam, sosial, dan budaya Banyuwangi. Mulai Muhammad Arif dengan lagunya “Genjer-genjer”, Andang Cy, BS. Noerdian, MF Hariyanto, Endra Wilis, Hasnan Singodimayan, Armaya, Hasan Ali, Antariksawan Yusuf, dan Aekanu Hariyono. Kreator-kreator tersebut telah mewarnai jagad seni Banyuwangi yang terus tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu.

Berita Terkait :  Teras: Kisah Perjuangan Suku Naga dan Luka Bangsa

“Pak Aekanu yang risau terhadap tragedi, ketidakadilan, dan fitnah secara kreatif menghidupkan kembali sosok Sri Tanjung. Laku untuk menghadirkan dan menghidupkan kembali Sri Tanjung memerlukan perjalanan panjang. Berbagai peninggalan, manuskrip yang menyimpan kisah Sri Tanjung digali dari berbagai perpustakaan, dan peninggalan berupa relief-relief bersejarah ia kunjungi sampai mendapatkan sosok pribadi Sri Tanjung yang saat ini hadir dalam bukunya,” jelas Novi, salah satu guru besar FIB UNEJ.

Gerakan literasi dasar memerlukan bacaan-bacaan berkualitas yang menguatkan identitas dan membumi agar anak tidak tercabut dan asing dengan lingkungan alam, sosial, dan budaya yang mengelilinginya. Menghidupi dan mengenal potensi lingkungan alam, sosial, dan budaya menjadikan anak memahami potensi dan dapat memanfaatkannya untuk mengatasi berbagai persoalan hidup secara baik dan benar. Internalisasi melalui bacaan merupakan salah satu alternatif mewujudkan semangat tersebut.

“Hadirnya kisah Sri Tanjung yang hidup kembali ini semoga menginspirasi penulis-penulis Banyuwangi untuk terus menggali kekayaan cerita lokal Banyuwangi yang merupakan harta karun kearifan masyarakat yang diperlukan untuk mengatasi permasalah-permasalahan hidup secara baik dan benar,” pungkas Novi.

Berita Terkait :  Wisata di Lamongam dalam Ancaman Tambang

Sementara itu, Kepala Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo W menyatakan kebanggaannya. “Alhamdulillah atas kerja keras Pak Aekanu dan semua pihak yg membantu, akhirnya selesai buku Sri Tanjung Hidup Kembali. Ada 3 kata yg menggambarkan buku tersebut; KEREN, BEKEN & PATEN,” tandasnya.

Menurut keterangan press release, buku ini akan terbit dalam 6 bahasa, 2 bahasa lokal yaitu Using dan Jawa, bahasa Indonesia, dan 3 bahasa Asing, Inggris, Perancis, dan Spanyol. Buku ini berpotensi menjadi media informasi budaya Banyuwangi kepada masyarakat internasional. Dengan demikian, penerbitan buku Sri Tanjung Hidup Kembali memiliki nilai strategis dan sekaligus sebagai salah satu wujud diplomasi budaya Indonesia.

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini