Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Pengamat: Sikap Presiden Tak Tegas dan Bersayap
Sumber: Biro Pers Sekretariat Presiden

Pengamat: Sikap Presiden Tak Tegas dan Bersayap

Berita Baru, Jakarta – Sikap Presiden Joko Widodo terkait polemik penundaan Pemilu 2024 dan perpanjangan masa jabatan presiden sudah tegas. Sikap itu disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Ia meminta polemik itu tak lagi diributkan. Menurut Moeldoko, Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah memiliki sikap yang jelas akan taat pada konstitusi.

“Sudahlah cukup, jangan lagi berpolemik tentang jabatan tiga periode lah, perpanjangan lah. Presiden sudah tegas mengatakan seperti itu (taat konstitusi). Jangan jadi bahan gorengan yang nggak berkualitas,” ujar Moeldoko di Kantor KSP, Jakarta Pusat, Rabu, 6 April 2022.

Presiden kembali menyinggung soal wacana tersebut saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa (05/04/2022). Presiden meminta semua menterinya tak lagi menyuarakan wacana itu dan diminta fokus mengatasi efek dari situasi ekonomi global yang bergejolak dan berimbas ke masyarakat.

Moeldoko mengatakan, pemerintah tidak pernah membicarakan masalah perpanjangan masa jabatan Presiden ataupun penundaan Pemilu 2024. Politikus senior Golkar ini berdalih tengah fokus menanggulangi pandemi Covid-18 dan dampak perang Rusia-Ukraina.

“Langkah-langkah presiden dalam menghadapi situasi ini sangat diperlukan. Itu lebih diperlukan daripada berbicara soal itu (perpanjangan masa jabatan),” kata Moeldoko seperti dilansir Tempo.co

Sikap Presiden Bersayap

Feri Amsari, Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas, menilai, pernyataan Presiden Jokowi belum cukup menghentikan polemik di masyarakat. Ia melihat Jokowi tidak tegas menyinggung terkait perpanjangan tiga periode masa jabatan presiden.

“Jadi ada satu hal yang luput, apakah itu sengaja atau tidak sengaja memang harus ditanyakan kepada Presiden, kenapa Presiden mengomentari selalu tidak lengkap,” kata Feri kepada Kompas.id. Polemik terkait perpanjangan masa jabatan, penundaan pemilu, dan penambahan tiga periode masa jabatan presiden, kata Feri, diyakini akan berhenti jika Presiden tegas mengucapkan: saya cukup dua periode saja.

Namun, kata Feri, sejauh ini Presiden tidak pernah mengeluarkan ucapan itu. Ia curiga presiden seolah-olah menyimpan sesuatu. “‘Senjata’tertentu untuk kemudian suatu waktu akan bisa digunakan dan Presiden oleh publik dinyatakan tidak berbohong. Presiden harus bersikap lebih tegas,” tutur Feri.

Menurut Feri, Presiden harus memberikan pernyataan lengkap demi menghormati konstitusi. Pernyataan Presiden Jokowi yang menyatakan taat dan tunduk kepada konstitusi juga disebut masih bersayap. “Konstitusi yang mana? Yang berlaku saat ini atau yang sedang direncanakan akan diubah. Nah, itu yang kemudian selalu menyisakan sesuatu,” ucap Feri.

beras