Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Peringati Harlah ke-59, Lesbumi Jember Gelar Pangkalan Budaya
Dok. Foto: Lesbumi Jember

Peringati Harlah ke-59, Lesbumi Jember Gelar Pangkalan Budaya

Berita Baru Jatim, Jember – Tahun ini, Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) menggelar harlah ke-59 dengan meluncurkan program Pangkalan Budaya, Senin (29/03/2021) di Aula Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember.

Siswanto, Ketua Lesbumi Jember mengungkapkan program tersebut memiliki orientasi sebagai wadah untuk saling sapa, srawung dan merespon peristiwa-peristiwa kebudayaan di Jember. Selain itu, harlah kali ini dapat dikatakan monumental, setidaknya dari dimensi spiritual dan kemanusiaan.

Pertama, harlah kali ini bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban, suatu titik spiritual yang agung khususnya bagi warga Nahdhiyin. Kedua, dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan, Indonesia diguncang peristiwa bom bunuh diri di halaman Gereja Katedral Makassar.

Agenda Pangkalan Budaya ini banyak dihadiri komunitas seni budaya, pengamat, pemerhati dan pelaku seni budaya di Jember. Ada beberapa komunitas yang menjadi mitra dalam penyelenggaraan Pangkalan Budaya edisi perdana ini, yakni Boemi Puger, Komunitas Sarjana Kuburan (SarKub) dan An Nasr yang kesemuanya memiliki konsen terhadap perkembangan kebudayaan di Jember.

Akhmad Taufiq menyampaikan 2 poin dalam pandangan umumnya. Pertama, secara subtantif, diharapkan program ini dapat menggerakkan semangat berkebudayaan di Jember dan menghindari syahwat politik praktis, karena seksisme dalam berkebudayaan sering beirisan dengan seksisme yang lain, khususnya politik praktis.

“Jadi, pesan saya harus hati-hati dalam menggerakkan kebudayaan, fokus pada peran partisipatif Lesbumi dalam mengawal kebudayaan di Jember,” katanya.

Kedua, mengutuk keras peristiwa bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar. Negara harus memastikan keamanan rakyatnya dan aparat harus mengusut tuntas kasus tersebut, sampai ke akar-akarnya.

“Semua elemen bangsa jangan terkecoh dengan peristiwa tersebut, jangan terjebak untuk diadu domba sesama anak bangsa,” imbau dia.

Selain itu, Dwi Pranoto, Pemerhati Budaya Jember, menyampaikan bahwa kebudayaan di Jember seharusnya dikelola dengan memandang kebudayaan sebagai kompleks hasil pemikiran, baik bersifat material maupun non-material, sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan secara interaktif.

“Artinya, sebagai misal, pengelolaan kebudayaan yang berangkat dari bidang kesenian tidak dapat dipisahkan dari bidang pendidikan, ekonomi, dan politik yang diletakan dalam totalitas waktu pertumbuhan dan perkembangannya. Pengelolaan bidang kesenian bukan hanya tentang produk kesenian dan seniman, tapi sekaligus juga kondisi aktual dan kondisi historis yang melingkupinya. Problem pengelolaan kebudayaan di Jember adalah kebudayaan dipandang melalui wacana dominan ekonomi liberal sehingga kebudayaan hanya dilihat sebagai elemen-elemen kebudayaan yang terpisah/terisolasi dan kemanfaatannya diukur laksana institusi bisnis,” pungkasnya.

beras