Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Perkuat Solidaritas dan Ibadah Sosial di Bulan Ramadan
(Sumber Foto: budiluhur.ac.id)

Perkuat Solidaritas dan Ibadah Sosial di Bulan Ramadan



KolomSelama ini kita mungkin merasa sangat gembira jika mendapat undangan buka bersama (bukber) di rumah teman, kerabat, atau sanak saudara. Tetapi, mulai sekarang mari kita ubah mindset atau cara berpikir, bagaimana agar bulan puasa tahun ini dan seterusnya tidak hanya menerima undangan bukber ‘gratis’, tetapi juga menjadi tuan rumah yang mengundang orang lain untuk menikmati hidangan bukan puasa.  

Jika belum bisa memberi banyak, paling tidak mentraktir sahabat sendiri untuk sekadar takjil puasa seadanya. Toh, nilai sedekah tidak saja diukur dari kuantitasnya, besar atau kecilnya, melainkan juga keikhlasan dari pemberi. Malah jika kita berusaha memberi yang banyak tapi tidak ikhlas, sedekahnya akan percuma. Tentu, akan lebih sempurna jika kita bisa memberi banyak dan dibarengi niat yang ikhlas pula.  

Menunaikan ibadah puasa Ramadhan merupakan bentuk ketaatan seorang Muslim kepada Allah swt. Namun puasa tidak saja berbicara soal hubungan antara hamba dengan Tuhan, melainkan puasa juga mampu menumbuhkan dan memperkokoh solidaritas sesama muslim. Lebih-lebih sesama manusia tanpa memandang latar belakang agama.  

Dilansir dari NU Online, Muhamad Abror, menerangkan ibadah yang baik adalah juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Bahkan di bulan Ramadan sebenarnya memiliki dampak sosial yang tinggi. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw bersabda,

مَنْ اَفْطَرَ صَائِمًا فَلَهُ اَجْرُ صَائِمٍ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ.

Artinya, “Siapa yang memberi makanan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang puasa tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang puasa tersebut.” (HR at-Tirmidzi).

Hadist diatas secara gamblang, katanya, mendorong manusia untuk bersedekah dengan memberi makanan atau minuman kepada sesama Muslim untuk berbuka puasa. Pahala yang diperoleh yaitu sepadan dengan orang yang menjalankan puasa. Ini merupakan bukti bahwa dalam ibadah puasa terdapat solidaritas sosial yang sangat tinggi.  

Dalam satu hadits yang mendorong umat Muslim untuk memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan disebutkan,   عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ Artinya, “Dari Anas ra dikatakan: ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama?” Nabi menjawab: ‘Sedekah di dalam bulan Ramadhan’” (HR at-Tirmidzi).  

Berangkat dari hadits di atas, Abror mengutip, Syekh Muhammad Abdurrauf al-Munawi dalam kitabnya, Faidhul Qadiî, yang menjelaskan, anjuran memperbanyak sedekah selama bulan Ramadhan merupakan bentuk tercurah ruahnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebab itu pula, Rasulullah akan menjadi orang yang paling dermawan saat bulan suci ini tiba. (Muhammad Abdurrauf al-Munawi, Faidhul Qadîr, 1972: juz II, h. 38).

Puasa juga mendidik seorang hamba tidak saja memiliki empati kepada sesama Muslim, tetapi juga manusia pada umumnya, tanpa melihat latar belakang agama. Orang yang berpuasa seharian di bulan Ramadhan akan merasakan beratnya menahan lapar dan dahaga. Apalagi jika sudah memasuki waktu dzuhur, rasanya badan sudah lemas-lunglai, terlebih jika memiliki profesi yang bekerja di jalan seperti ojek online, sopir angkot, dan lain sebagainya.

Dengan pengalaman demikian, menurut alumni Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta itu, seharusnya bisa menumbuhkan rasa empati kepada diri seorang Muslim bahwa menahan rasa lapar itu begitu berat. “Dan hal inilah yang selama ini dirasakan oleh orang-orang yang hidup serba kekurangan, yang bahkan untuk mengganjal lapar saja mereka harus mengais makanan sisa di tong sampah,” jelasnya.

Syekh ‘Izzuddin bin Abdissalam dalam kitabnya, Maqâshidush Shaum, pernah menjelaskan,   لِأَنَّ الصَّائِمَ إِذَا جَاعَ تَذَكَّرَ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْجُوْعِ فَحَثَّهُ ذَلِكَ عَلَى إِطْعَامِ الْجَائِعِ Artinya, “Karena sesungguhnya orang berpuasa ketika dia merasakan lapar, dia mengingat rasa lapar itu. Hal itulah yang memberikan dorongan kepadanya untuk memberi makan pada orang yang lapar” (Imam Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqâshidush Shaum, t.t: 16).  

“Kita masih mending menahan lapar hanya kurang lebih 13 jam dalam satu hari saat berpuasa, setelah itu bisa menikmati ragam hidangan bergizi yang kadang sampai kekenyangan hingga sulit beranjak dari tempat makan. Sementara saudara-saudara kita yang hidup serba kekurangan bisa saja merasakan lapar sepanjang hari dan entah kapan akan berakhir. Jika mereka bisa mengganjal lapar pun, kadang hanya bisa dengan makanan sisa yang diperoleh dari hasil mengais sampah,” imbuhnya.

Abror menilai, jika kita betul-betul mau mengamalkan kedua hadits Nabi di atas, tentu angka kemiskinan di negara ini perlahan akan menurun. Ia mewanti-wanti di bulan yang suci ini justru ‘membutakan’ kita dari ibadah sosial seperti memperbanyak sedekah di atas. Semakin manfaat ibadah bisa dirasakan banyak orang, semakin besar pula pahalanya.  

“Lebih jauh lagi, prinsip dasar empati dan solidaritas sosial dalam ibadah puasa juga bisa diterapkan dalam banyak hal. Misalnya solidaritas dalam menciptakan lingkungan yang sehat dengan bersama-sama menjaga menjaga protokol kesehatan selama pandemi Covid-19 masih berlangsung, menanamkan prinsip gotong-royong dalam bermasyarakat, dan sebagainya.”

Sekilas puasa memang hanya mendidik rasa empati seseorang untuk memiliki sifat tenggang rasa kepada orang-orang yang hidup berkekurangan. Namun, ia menjelaskan, jika ditarik ke nilai solidaritas universal, maka puasa juga mengajarkan kepedulian sesama dalam aspek kehidupan sosial yang lebih kompleks.

beras