Berita

 Network

 Partner

Asisten Staf Khusus Wakil Presiden Dr. Tri Chandra Aprianto
Asisten Staf Khusus Wakil Presiden Dr. Tri Chandra Aprianto. (Dok. Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto)

Perlawanan Santri di Bidang Ekonomi

Berita Baru, Surabaya – Asisten Staf Khusus Wakil Presiden Dr. Tri Chandra Aprianto mengungkapkan bahwa santri merupakan sebuah komunitas yang ada sebelum Republik Indonesia berdiri. Hal itu disampaikan dalam acara Podcast Talk Show FEMSTATION IPB bertajuk Hari Santri dan Santrinomic, pada Jumat 22 Oktober 2021 kemarin.

Menurutnya banyak orang keliru memahami santri. Anggapan bahwa santri semata-mata suatu entitas lembaga pendidikan, dakwah dan kaderisasi ulama. Padahal menurut Tri Candra, santri sebenarnya tidak seputar itu.

Catatan historis mendedahkan, santri juga terlibat dalam wacana-wacana ekonomi. “Banyak tidak melihat pesantren itu mempunyai dasar untuk bertahan. Nah, untuk bisa bertahan, ada basis ekonomi disitu,” terangnya.

Candra menceritakan konsep ekonomi di Kudus beberapa tahun lalu. Seminar yang dilakukan kawan-kawan Pondok Pesantren Qudsiyyah di Kudus membongkar sistem yang namanya Gusjigang.

“Gus itu bagus berprilaku dan akhlaknya, sedangkan Ji itu tetap ngaji. kemudian Gang, pandai berdagang. Ini adalah konsep ekonomi yang dikembangkan oleh Sunan Kudus di waktu itu,” jelasnya.

Berita Terkait :  Ketua PMII Jatim Bicara Periodisasi DPR

Ia juga melihat pergerakan santri pada kolonial akhir. Ada kelompok Nahdlatut Tujjar yaitu kekuatan ekonomi. “Sebelum Nahdlatul Ulama.” Candra menilai tak sedikit ilmuwan dan indonesianis gagal menangkap fenomena ekonomi di pedesaan.

“Ada satu ekonomi pesantren yang ikut berkembang di daerah yang dikenal di era cultuurstelsel,” jelasnya. Di wilayah Tapal Kuda, kata Candra, setiap pesantren memiliki basis ekonomi. “Ada ekonomi perkebunan. Tanaman-tanaman perkebunan, posisi pesantren pada saat itu terlibat dalam konteks ekonominya.”

Padahal sejak tahun 1916 Kiai Wahab Hazbullah mendirikan Nahdlatut Tujjar yang menjadi tatanan ekonomi baru. Sayangnya peta kolonial cukup keras untuk menghambat ini dan luput menangkap konteks saat itu.

Lahirnya Hari Santri ini, bagi Tri Candra, karena perlawanan yang dilakukan dengan basis ekonomi yang kuat. “Memaknai santri di masa Orde Baru yang luput dari sejarah, hampir ekonomi di pesantren itu terpinggirkan dan ditekan yang mengalami proses involusi ekonomi,” ungkapnya.