Berita

 Network

 Partner

Rayakan Isra Mi'raj, Lesbumi dan ISNU Jember Gelar Sekola Mamaca
Lesbumi NU Jember menggelar kegiatan Isra Miraj dengan konsep berbeda.

Rayakan Isra Mi’raj, Lesbumi dan ISNU Jember Gelar Sekola Mamaca

Berita Baru Jatim, Jember – Banyak cara dalam memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw. Salah satunya adalah cara unik yang di lakukan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Jember, yaitu Sakola Mamaca.

Sakola Mamaca merupakan program Lesbumi Jember sebagai upaya pelestarian salah satu kesenian tradisional di Nusantara, yaitu mamaca atau macopat. Program tersebut bertujuan untuk meneruskan tradisi-tradisi para leluhur kepada generasi muda kaum milenial. Sehingga akan tercipta generasi penerus yang handal dalam melakukan, memahami, dan menginterpretasi macopat.

Acara yang berlangsung di Masjid Nurus Shobirin Ponpes Asy Syifa Cumedak, Sumberjambe di dukung penuh oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jember.

Dr. Hobri, M.Pd, ketua ISNU PCNU Jember mengatakan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama dan oleh berbagai pihak. Salah satu budaya yang di maksud yaitu budaya mamaca atau macopat di masyarakat terutama masyarakat Madura dan Jawa. Komunitasnya saat ini semakin langka bahkan hanya di tekuni sebagian kecil masyarakat.

“Ini tidak bisa kita biarkan begitu saja, harus ada kesadaran bersama. Saya, melalui lembaga kami, berupaya agar tradisi mamaca masuk dalam kurikulum lokal. Kita siap menerbitkan sertifikat atau surat keterangan kompetensi atau keahlian sebagai bukti kelulusan, saya kira cara ini efektif dalam melestarikan tradisi mamaca,” pungkasnya.

Berita Terkait :  Eko Teguh Paripurno: Tambang dan Tambak Memberi Jalan Masuk Tsunami ke Rumah Warga

Hal tersebut di amini oleh KH Nisful Laily Iskamil,Pengasuh Ponpes Asy-Syifa yang mengatakan bahwa Sakola Mamaca merupakan program yang tepat pada saat ini, sebab sangat dibutuhkan untuk pelestarian tradisi mamaca.

“Setelah saya amati dan pahami, ternyata dalam teks mamaca itu terkandung nilai-nilai luar biasa yang bersumber dari Islam. Baik yang terkait dengan sejarah Nabi Muhammad maupun terkait ajaran Islam yang lain. Ini adalah bukti bahwa tradisi mamaca tidak berseberang dengan pokok-pokok syariat Islam,” ujarnya.

Sementara itu, Siswanto, ketua Lesbumi Jember menyampaikan bahwa Sakola Mamaca adalah program yang akan terus bergulir menjadi pertemuan rutin.

“Akan ada pertemuan berikutnya yang nantinya lebih fokus pada teknik-teknik dasar membaca teks mamaca, mulai mengenal metrum atau tembang, latihan membaca, pembukuan dan dokumentasi naskah mamaca,” ungkapnya.

Dengan adanya program itu, Bapak Nurul dan Bapak Nursia pelaku tradisi mamaca yang di dapuk sebagai pemateri mengaku sangat senang jika ada generasi muda yang ingin belajar mamaca.

“Kami sudah 30 tahun mengabdikan diri (melestarikan tradisi mamaca). Sering di undang setiap ada hajatan nikah, selamatan rumah dan lain-lain. Semoga dengan adanya program ini, ada yang kelak meneruskan kami. eman-eman, ini (tradisi mamaca) adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama,” ungkap Bapak Nursia.