Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Yulia Aswaty
Yulia Aswaty

Sebuah Pengantar: Perbedaan Seks dan Gender

Oleh: Yulia Aswaty


Dalam pembahasan seks dan gender, orang seringkali masih membagi perbedaan keduanya dalam tempat yang kurang tepat. Bukan sekedar pemahaman tentang definisi, tetapi perkembangan dan kemajuan pengetahuan, zaman, serta teknologi yang kurang diikuti kaitannya dengan seks dan gender itu sendiri.


Apa itu Seks?

Seks/jenis kelamin biologis adalah perbedaan biologis laki-laki dan perempuan yang berkaitan dengan alat dan fungsi reproduksinya. Alat dan fungsi ini adalah pemberian Tuhan yang tidak bisa dipertukarkan (kodrat).

Misalnya; laki-laki memiliki penis, testis, jakun dan sperma. Sedangkan perempuan memiliki vagina, rahim, dan indung telur. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki payudara, yang membedakan keduanya adalah payudara perempuan memiliki kelenjar mammae (kelenjar susu) di mana merupakan sekumpulan kelenjar kulit yang berfungsi menghasilkan susu/ASI sedangkan laki-laki tidak memiliki kelenjar demikian.

Di lansir dari alodokter.com, sebelum mancapai masa pubertas tidak ada perbedaan yang bermakna antara payudara wanita dan pria. Namun pada saat pubertas, hormon estrogen berkembang pada wanita yang mengakibatkan berkembangnya kelenjar air susu di payudara, namun hal ini tidak terjadi pada pria. Jadi dalam hal ini payudara bukanlah kodrat biologis perempuan semata tetapi juga laki-laki.

Selain itu terkait fungsi reproduksi yakni; laki-laki lewat spermanya membuahi indung telur perempuan. Sedangkan perempuan mengalami menstruasi (dimulai sejak masa pubertas dan di luar adanya penyakit tertentu seperti kanker rahim/ovarium), mengandung/hamil (jika menyepakatinya), dan melahirkan. Jika tadi hanya perempuan yang memiliki kelenjar ASI, apakah menyusui juga termasuk dalam seks/ kodrat? Mari kita bahas perihal gender terlebih dahulu.

Apa itu Gender?

Gender secara etimologi berasal dari bahasa inggris yang berarti ‘jenis kelamin’. Sedangkan secara terminologis bisa didefinisikan sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Gender dipandang sebagai suatu konsep sosial dan kultural yang dipakai untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat dan sifatnya dapat dipertukarkan.

Gender juga bisa disebut dengan jenis kelamin sosial/konstruk sosial/kesepakatan sosial. Misalnya; dalam peran domestik dan publik, perempuan diidentikan dengan mengurus anak, memasak dan bersih-bersih rumah. Sedangkan laki-laki diidentikan dengan bekerja dan memangku jabatan kepemimpinan. Padahal keduanya bisa dipertukarkan, laki-laki bisa memasak, mengurus anak dan rumah. Perempuan boleh bekerja, perempuan bisa rasional dan bisa memimpin di publik.

Menyusui itu Seks atau Gender? Gender.

Seperti dituliskan di atas, payudara perempuan memang memiliki kelenjar mammae/susu namun tidak lantas membuat peran menyusui menjadi paten, menjadi kewajiban atau menjadi hal yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan saja (kodrat). Dengan adanya alat pompa Air susu Ibu (ASI), ASI dapat dikeluarkan, ditaruh diwadah, disimpan dalam kulkas, dan dihangatkan kembali, adanya berbagai macam susu formula yang diperjualbelikan di mana-mana, serta adanya Bank ASI, maka peran menyusui juga dapat dilakukan oleh laki-laki.

Stereotype Gender :Apakah Perempuan itu selalu Feminim dan Laki-laki selalu Maskulin? Tidak.

Identitas gender mengenai stereotip (pelabelan); perempuan diidentikan dengan feminim –feminine/:keperempuanan (cantik, seksi, menawan, bersuara lembut, penuh kasih sayang, penuh rasa simpati, lembut, sensitif, sentimentil, imajinatif, intuitif, dsb), sedangkan laki-laki diidentikan dengan maskulin –muscle/:otot (atletis, besar dan tegap, berotot, tinggi, bersuara tinggi, kuat, selalu ingin bersaing, kurang sensitif, mendominasi, petualang, agresif, berani, analitis (logika), pintar memberi alasan, tidak berdasar intuisi, dsb).

Padahal pada dasarnya perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki sifat feminim dan maskulin dalam dirinya. Jadi bisa dikatakan juga bahwa individu yang feminin adalah seseorang memiliki angka yang tinggi pada sifat feminin dan memiliki angka rendah dari sifat maskulin, individu yang maskulin adalah seseorang yang memiliki angka yang tinggi pada sifat maskulin dan memiliki angka yang rendah pada sifat feminin. Seseorang yang hanya berkembang sifat maskulinnya saja akan melihat orang lain bukan sebagai partner melainkan pesaing bagi kepentingannya ataupun dianggap akan melunturkan rasa harga dirinya ketika orang lain memiliki pandangan yang berbeda dengannya.

Bagaimana Jika Porsi Feminim dan Maskulin itu Seimbang dalam Diri Seseorang?

Diantara maskulin dan feminin ada androgini yakni laki-laki atau perempuan yang memiliki angka tinggi pada sifat maskulin dan feminin alias bisa dianggap maskulin maupun feminin sekaligus. Orang yang bersifat androgini mengombinasikan dalam dirinya sifat-sifat maskulin maupun feminin. Misalnya rajin memasak di dapur tapi bekerja sebagai buruh kapal atau sangat tegas ketika bekerja tapi sangat lembut ketika di rumah.

Banyak androgini yang diidentifikasi berada di antara laki-laki dan perempuan dan juga disebut tidak memiliki gender. Berdasarkan Sandra Bem, psikolog Universitas Stanford, 1977, individu androgini lebih fleksibel dan lebih sehat secara mental daripada individu maskulin atau feminin. Biasanya, orang kreatif dan cerdas cenderung androgini karena mereka lebih adaptif. Mereka berperilaku dalam cara yang lebih tepat sesuai dengan situasi yang diberikan. Misalnya, ketika mereka ditempatkan dalam sebuah situasi yang menekan, perempuan androgini lebih asertif dan independen daripada perempuan feminin. Sedangkan Individu undifferentiated memiliki angka yang rendah pada sifat maskulin dan femininnya.

beras