Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Sumur Air sekitar Lumpur Lapindo, Warga: Air Asin, Keruh, dan Berbau Karat
Lokasi Titik Pantau Air. (Foto: Eko Widodo/Komunitas Lumpur Lapindo)

Sumur Air sekitar Lumpur Lapindo, Warga: Air Asin, Keruh, dan Berbau Karat

beras

Berita Baru, Sidoarjo – Kondisi air sumur warga di sekitar Lumpur Lapindo tidak bisa digunakan saat ini. Pasalnya, air tiba-tiba berbau karat, berwana coklat dan baunya busuk. Hal ini dikemukakan oleh Harwati dan Eko Widodo anggota Posko KKLuLa atau Pos Koordinasi untuk Keselamatan Korban Lumpur Lapindo saat ditemui pada 29 Juli 2022.

Harwati menjelaskan bahwa secara kasatmata, air sumur yang sebelumnya digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari warga di seputar lokasi semburan Lumpur Lapindo kini tidak lagi dapat digunakan karena perubahan tersebut.

“Air berbau karat, berwarna keruh coklat-kekuningan, dan asin,” kata dia.

Selain itu, imbuh Harwati, air sumur meninggalkan rasa lengket di kulit. Sering kali, bau busuk tercium ketika air pertama mengalir dari kran. Bahkan penggunaan air tersebut meninggalkan rasa gatal di kulit.

Sementara Eko Widodo mengatakan bahwa di Penatarsewu terjadi penurunan keberagaman jenis ikan di tambak warga sejak 2006 akibat perubahan air tersebut. Hanya ikan jenis tertentu yang dapat dibudidayakan menggunakan air yang sudah terkena limpasan Lumpur Lapindo.

Sementara, untuk masak dan minum, warga lebih memilih untuk membeli air jerigen daripada menggunakan air PDAM.

Uji kualitas air selama ini, lanjut Eko, dilakukan Posko KKLuLa bekerja sama dengan akademisi dari Universitas Brawijaya. Hasilnya disandingkan dengan dua regulasi dari pemerintah, yaitu: PP 82/2001 tentang Pengelolaan Air Kelas I dan Permenkes 492/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Selain uji lab, PoskoKKLuLa juga menggunakan metode biotilik yang dikembangkan oleh LSM ECOTON sebagai cara sederhana mendeteksi kualitas air dengan memperhatikan jumlah dan keberagaman jenis makro-invertebrata di air.

Menurut Eko, hasilnya menunjukkan bahwa air warga sekitar Lumpur Lapindo tercemar sedang hingga berat. Pada 2019, PoskoKKLuLa memantau sampel air di Kali Porong. Lalu pada 2020 dan 2021, pemantauan dilakukan di 16 titik, yang terdiri dari 8 titik di Kali Porong dan 8 titik di saluran irigasi di sekitar Kali Porong.

Hasil dari pemantauan yang menggunakan beragam metode tersebut memiliki kesimpulan yang sama, bahwa air warga di situ tercemar. Mayoritas titik pantau kondisinya tercemar berat dan beberapa terpantau tercemar sedang. Mengerikannya, tidak ada sampel yang termasuk dalam kategori aman.

“Ini berarti pemanfaatan air yang ada perlu melalui tahapan-tahapan tertentu, seperti filtrasi dan penjernihan air melalui mekanisme fisika, biologi, dan kimia. Tanpa itu, air akan berbahaya bagi manusia,” katanya.

beras