Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tim Peneliti UNJ Gelar FGD “Revitalisasi dan Pewarisan Seni Tradisi Gandrung dan Industri Kreatif”

Tim Peneliti UNJ Gelar FGD “Revitalisasi dan Pewarisan Seni Tradisi Gandrung dan Industri Kreatif”

Berita Baru Jatim, Banyuwangi — Tim peneliti yang diketuai Prof Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali data mengenai seni tradisi gandrung. FGD diselenggarakan di ruang Mini Teater Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Senin, 15 Agustus 2022.

FGD diselenggarakan dalam rangka menghimpun data mengenai seni tradisi gandrung sebagai bahan untuk memformulasikan model revitalisasi dan pewarisan seni tradisi gandrung dan industri kreatif.

Dalam sambutannya, Sekretasis Disbudpar menyampaikan terima kasih kepada tim peneliti yang terus melakukan kajian terhadap seni gandrung dan industri kreatif yang diperlukan di Banyuwangi. Gandrung sudah mendapat sertifikat sebagai warisan budaya takbenda.

“Beberapa waktu lalu telah berlangsung pelatihan sinden dan terakhir ditampilkan, keduan maestro mengajar,” ujar Ridha, bangga.

Sebagai ketua tim peneliti, Novi menyampaikan bahwa FGD “Revitalisasi dan Pewarisan Seni Tradisi Gandrung dan Industri Kreatif” diselenggarakan sebagai salah satu kegiatan penelitian yang didanai DRTPM Kemenristekdikti.

Mengawali pengantarnya, Novi menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mitra riset Disbudpar yang diwakili Pak Ridha dan Kiling Osing Banyuwangi, Pak Aekanu Hariyono yang bersedia menjadi mitra penelitian. Terima kasih juga kepada DKB, para gandrung senior, dan pemimpin sanggar.

Tim Peneliti UNJ Gelar FGD “Revitalisasi dan Pewarisan Seni Tradisi Gandrung dan Industri Kreatif”
Foto bersama peneliti dan stakeholder terkait

Terima kasih juga kepada anggota tim penelitian Pak Tomo yang akan memandu FGD ini, Mas Sriyono dari Papua dan Mas Agung dari Palembang yang bersedia hadir untuk mengikuti perjalanan penelitian ini.

“Saat ini gandrung profesional tinggal 5 orang dan tidak semua aktif. Oleh karena itu, dipandang perlu adanya pewarisan yang dikemas pelatihan.

Melalui FGD digali beberapa hal berikut. (1) Kondisi kesenian gandrung –khususnya gandrung terop– yang ada di masyarakat. (2) Upaya dan hasil kegiatan pelestarian (pemertahanan, pengembangan, dan pemanfaatan) kesenian gandrung terop yang telah dilakukan. (3) Harapan masyarakat terhadap kesenian gandrung terop dan bagaimana tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan harapan tersebut. (4) Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam mewujudkan harapan-harapan dan kemungkinan-kemungkinan cara mengatasinya.

Dalam pandangan Aekanu kostum, tembang, dan struktur gerak tari gandrung merupakan rangkaian doa. Gandrung wajib tampil indah dan memesona.

“Jika ada pemaju atau penonton yang tertarik dan terpesona sampai tergoda, jangan salahkan gandrung,” ujar Aekanu.

Pak Gatot yang mengenal gandrung sejak remaja menyatakan struktur pergelaran gandrung meliputi jejer, repen, paju, dan seblang subuh. Ia menyayangkan adegan seblang subuh saat ini cenderung ditinggalkan. Sedangkan Sunasih mengharapkan adegan jejer yang membawakan tembang “Podho Nonton” ditembangkan sampai selesai seluruh bait agar semua pesan tersampaikan.

“Adegan seblang subuh mengandung pesan edukatif dan religius. Mohon diri dan mohon maaf kepada tuan rumah, penonton, dan mengingatkan agar segera kembali ke kehidupan dan tugas sosial,” ujarnya.

Dalam rangka pewarisan, Fauzi dari Disbudpar menyampaikan sanggar secara periodik mengajak murid-muridnya datang dan berlatih di sanggar maestro. Ia juga menawarkan program “Gandrung Semi” ‘gandrung tumbuh’, yaitu festival gandrung berbasis sekolah.

Sedangkan menurut Purwadi maestro berpeluang diberi tanggung jawab untuk mendidik dan menjadikan murid serta mengawal sampai menjadi gandrung profesional yang ditandai dengan ritual “meras gandrung”.

“Dengan model nyantrik maestro akan bangga mila muridnya menjadi gandrung profesional dan tidak ditempatkan sebagai kompetitor,” jelas Purwadi.

Bu Temu sudah mendapat beragam penghargaan dari pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swasta serta mendapat kesempatan pentas di luar negeri. Hal tersebut tentu terbuka bagi gandrung lain yang berprestasi, utamanya yang menguasai dan setia mempertahankan poakem gandrung.

“Sanggar Wongsoarum, dengan adanya FGD ini akan merancang perjalanan kunjungan ke sanggar maestro,” respons Riyadi, pemimpin sanggar Wongsoarum.

Fauzi menganalogikan sudah selayaknya gentong mendatangi sumur dan bukan sebaliknya. Kunjungan ke sanggar maestro tersebut, sekaligus memperkenalkan kehidupan dan perjuangan hidup mereka.

Dalam pandangan Edi, revitalisasi dan pewarisan dimungkinkan berlangsung dengan adanya dukungan panjak, utamanya, kendang, biola, dan kluncing. Ia bersyukur dapat berguru pada ayahnya dan pada Pak Adenan yang piawai mengendang.

Dedi dan Eko dari Disbudpar memandang kontribusi masyarakat dalam memperhatikan penari gandrung yang lepas dari perhatian pemerintah, baik perhatian secara langsung maupun melalui aplikasi yang dirancang oleh Dinas.

Perwakilan dari Dewan Kesenian Banyuwangi, Momo menyoroti strategi yang dikembangkan dalam kegiatan ini, yaitu sinergisitas antara pelaku seni, budayawan, pemerintah, akademisi, dan pengusaha. Sinergisitas yang merasa tersebut menjadi peluang untuk meraih dan mewujudkan kemajuan, produktivitas, dan kesejahteraan bersama.

Formulasi Model

Melalui proses FGD yang dihadiri oleh peserta dari dinas, sanggar, budayawan, penari gandrung, dan akademisi Novi Anoegrajekti memformulasikan model revitalisasi pewarisan dan industri kreatif dengan cara nyantrik.

Nyantrik dimaksudkan sebagai model pendidikan dengan cara murid berlatih kepada guru sesuai dengan kesepakatan waktu dan setiap guru mendapatkan tanggapan, murid diajak dan diberi kesempatan praktik menari di depan publik.

Selanjutnya, fokus revitalisasi dan pewarisan terutama untuk vokal dan panjak, utamanya pemain kendang yang memegang kendali dan berperan sebagai leader.

Dalam hal industri kreatif dikembangkan melalui penerapan aplikasi untuk sosialisasi dan pemasaran pruduk serta inovasi yang ditawarkan kepada masyarakat.

beras