Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tindaklanjuti Publikasi Jurnal Terindeks Scopus, Jurnal Arif Gelar Workshop Putaran Satu

Tindaklanjuti Publikasi Jurnal Terindeks Scopus, Jurnal Arif Gelar Workshop Putaran Satu

beras

Berita Baru, Jakarta – Jurnal Arif Universitas Negeri Jakarta kembali adakan pertemuan diskusi dengan tajuk Workshop Tim 1 “Publikasi Menembus Jurnal Terindeks Scopus” putaran 1 pada Sabtu, (23/04) Via Zoom Meeting.

Workshop tersebut adalah tindak lanjut atau follow up dari acara yang sebelumnya diadakan Jurnal Arif. Selanjutnya, tema serupa akan berlangsung setiap dua minggu sekali secara berurutan untuk masing-masing kelompok yang berjumlah 10 tim. Masing-masing tim terdiri atas 5 anggota.

Menurut penjelasan koordinator workshop, pertemuan kali ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan para pembicara memaparkan draf artikel yang akan dipublikasi pada jurnal internasional terindeks scopus.

Tim 1 terdiri atas Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum (Universitas Negeri Jakarta), Prof. Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum. (Universitas Muhammadiyah Surakarta), Dr. Wigati Yektiningtyas, M.Hum. (Universitas Cendrawasih Jayapura), Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd. (Universitas Islam Malang), Ninawati Syahrul, M.Pd. (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan dimoderatori Sudartomo Macaryus, M.Hum. (Universitas Sarjana wiyata Tamansiswa Yogyakarta).

Presentasi diawali oleh Wigati dengan judul “Learning From Sentani Women Depicted in Folklore: Exploring Past, Observing Present, Defining Future”.

Wigati menjelaskan presentasinya pada bagaimana perempuan Sentani diceritakan dan dikisahkan dalam tradisi folklore.

“Perempuan Sentani sudah memiliki pembagian kerja yang jelas dengan laki-laki,” paparnya. Fenomena pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan tersebut berpotensi memperkaya khasanah kajian antropologi budaya mengenai peran perempuan.

Wigati juga mengambil beberapa syair-syair Papua yang mempunyai makna tentang keperempuanan.

“Artikel ini mencoba untuk mengeksplorasi, bisa nggak sih kita belajar melalui cerita masa lalu untuk memperbaiki kehidupan masa depan masyarakat Sentani, terutama bagi para perempuan” paparnya.

Presentasi selanjutnya adalah Novi Anoegrajekti, “Optimalisasi Potensi Budaya Lokal Menuju Global: Kajian Etnografi pada Festival dan Kearifan Lokal Using Banyuwangi, Indonesia.”

Di dalam abstrak dijelaskan, “Kami mencoba untuk eksplorasi festival dan kearifan lokal Using, lalu membandingkannya dengan festival-festival di dunia. Tentu, kami mengwali riset ini dengan meninjau sisi historisnya,” paparnya.

Novi juga menjelaskan metode penelitian artikelnya dengan pendekatan Culture Studies dengan data yang didapat dari sumber pustaka dan lapangan. Pemaknaan atau interpretasi dengan menempatkan setiap data dalam hubungannya dengan data lain secara keseluruhan.

Festival Banyuwangi sebagai media untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat global. “Festival sebagai peristiwa budaya tidak serta merta muncul tetapi merupakan akumulasi kebijakan yang sudah dimulai sejak masa pemerintahan Bupati T. Purnomo Sidik,” ujar Novi.

Presentasi ketiga dipaparkan oleh Ambarwati dengan judul artikel “Menuliskan Ulang Cerita Rakyat Mbok Delimo: Suara Baru Perempuan Superhero Banyuwangi dalam Konteks Sastra Anak”.

“Mbok Delimo jarang dijadikan rule model, dan tidak pernah diceritakan sebagai perempuan yang hadir sebagai aktor tunggal dalam satu cerita utuh mengenai kesaktiannya. Padahal masyarakat Using sangat menghormati posisi perempuan,” ungkapnya.

Tokoh Mbok Delimo muncul dalam cerita rakyat “Panji Gimawang”. Hadirnya tokoh Mbok Delimo berpotensi melengkapi cerita rakyat yang menghadirkan tokoh perempuan, seperti Sri Tanjung dan Surati yang menjadi legenda asal-usul nama Banyuwangi.

Presentasi keempat disampaikan oleh Ninawati Syahrul dengan judul artikel “Pemberdayaan Tradisi Lisan Manjujai: Fungsi dan Saluran Ekspresi Budaya Suku Minang di Sumatera Barat”.

Lagu pengantar tidur yang dihidupi oleh masyarakat Minang memiliki beragam fungsi, mulai fungsi sosial, religius, dan edukatif.

“Beragam fungsi lagu Manjujai merepresentasikan kearifan dan perhatian masyarakat dalam pendidikan karakter yang dimulai dari keluarga dan masyarakat,” jelasnya.

Presentasi kelima adalah Prof. Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf yang memfokuskan kajian mengenai Ronggeng Dukuh Paruk, yaitu novel karya Ahmad Tohari yang mengambil latar di daerah Banyumas.

“Data yang terhimpun dari sumber pustaka dan hasil wawancara dengan informan menunjukkan bahwa seni tradisi ronggeng masih terus dihidupi oleh masyarakat Banyumas,” ucar Ali Imron.

Mantra dan ritual masih dihidupi dan gending-gending juga masih dipertahankan. Namun ritual “bukak klambu” sudah tidak ada karena tidak sejalan dengan akidah agama dan norma susila, khususnya yang berkaitan dengan martabat perempuan.

Acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif antarpembicara dan audience yang berlangsung dialogis. Seluruh partisipan mengikuti diskusi dengan antusias sampai selesai. Pada akhir sesi muncul masukan yang disampaikan oleh kolega dosen mengenai kemungkinannya membuka pembentukan tim tambahan.
Hal tersebut direspons Novi dengan mengatakan, “Karena kegiatan ini bertujuan saling menginspirasi dan menyemangati para kolega penulis yang tergabung dalam grup wa “Sastra Humaniora”, setelah genap 5 anggota tim akan dimasukkan menjadi Tim 11.”

Keinginan anggota grup untuk ikut bergabung dan membentuk tim tambahan menunjukkan bahwa kegiatan ini inspiratif dan dipandang bermanfaat untuk kemajuan bersama dan masing-masing anggota tim.

Tindaklanjuti Publikasi Jurnal Terindeks Scopus, Jurnal Arif Gelar Workshop Putaran Satu

beras