Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tradisi Salah Kaprah Maulid Nabi

Tradisi Salah Kaprah Maulid Nabi



Oleh: Nabila Maulidia, Mahasiswi Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan.


Nabi Muhammd SAW merupakan figur utama dalam agama Islam. Beliau merupakan Sayyeed al-Anbiya` wa al-Mursaleenyaitu pemimpin para nabi dan para utusan. Beliau juga yang diberi Risalah oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh ummat manusia tanpa batas waktu. 

Bukan hal yang tabu lagi untuk diperbincangkan terkait keistimewaan yang di anugerahkan Allah pada Nabi Muhammad SAW. Bahkan seseorang yang namanya termaktub dalam al-Qur`an bahwa ia kekal di neraka, siksanya di ringankan setiap hari Senin karena ia pernah merasa bahagia akan lahirnya Sang Baginda Nabi SAW. Ia adalah paman beliau yang bernama Abu Lahab.

Ummat muslim merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW semata-mata demi mengharap syafaat dari beliau kelak di akhirat nanti. Juga sebagai salah satu bukti cinta kepada sang revolusioner dunia tersebut.

Selain itu mereka berlomba-lomba merayakan hari kelahiran sang Nabi yang kerap disebut Maulid Nabi karena adanya perintah dari Allah SWT.

Penggalan Kalam-Nya dalam al-Qur`an yang berbunyi:

الاية… فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ…

“…berloma-lombalah kalian semua (dalam membuat) kebaikan …” (Q.S. al-Baqarah/2:148)

Kendati demikian, terdapat hal yang kurang dipahami terkait tradisi dalam pelaksanaan perayaan Maulid Nabi. Seperti contoh di kalangan penduduk Madura yang acapkali merayakan Maulid Nabi dengan mewah. 

Bukan mewah tidaknya yang menjadi permasalahan dan bukanlah menjadi masalah sekalipun merayakan Maulid Nabi dikonsep dengan mewah. Karena untuk orang yang di cintai pasti apapun akan dikorbankan dan akan diberikan. Namun, terkadang seseorang terlalu memaksakan diri untuk merayaan Maulid Nabi dengan mewah, padahal ia hanya mampu merayakan dengan sederhana, misalnya. 

Hal tersebut yang tidak diperbolehkan. Bahkan Allah-pun berfirman dalam al-Qur`an 64:16 bahwa “bertakwalah kalian semua menurut kesanggupanmu…”. 

Janganlah melakukan hal yang berada diluar batas kemampuan. Karena Allah-pun memerintahkan agar supaya bertakwa sesuai dengan kemampuan atau kesanggupan manusianya masing-masing. Hal itu-pun mencakup dalam perayaan Maulid Nabi.

Perayaan Maulid Nabi bukanlah ajang perlombaan paling unggul dalam acara yang diadakan ataupun ajang pamer kekayaan. 

Akan tetapi, perayaan Maulid Nabi merupakan salah satu cara menunjukkan bentuk cinta pada sang panutan kehidupan yang sangat dirindukan. Konsep yang dituangkan dalam perayaan Maulid Nabi, baik sederhana seperti bersholawat bersama keluarga hingga dikonsep dengan mewah bukanlah hal yang mendasari dari inti perayaan Maulid Nabi. 

Inti dari perayaan Maulid Nabi ialah bentuk pengungkapan rasa syukur pada Allah atas diutusnya Nabi Muhammad sebagai rahmat semesta alam, juga mengharap syafaat kelak di akhirat melalui rasa cinta terhadap Nabi SAW. Jika perayaan Maulid Nabi hanya memandang seberapa mewah acara yang digelar, maka hilanglah esensi kesakralan dalam perayaan Maulid Nabi.

beras