Women’s March Jember Rerasan 2 Film di Oase Kopi dan Literasi

Berita Baru Jatim, Jember — Women’s March Jember menggelar Rerasan film SAWIATI karya sutradara Imam Muzaka dan film From Your Loving Fathers karya Nur Hadi di Oase Kopi dan Literasi, Jember pada Sabtu (07/03/2020).

Ketua Women’s March Jember, Saras Dumasari mengatakan bahwa Women’s March Jember adalah corong penyuara ketidakadilan gender.

“Kami menekankan pentingnya kesadaran dan pemahaman pentingnya melawan ketidakadilan gender,” kata Saras kepada Beritabaru.co.

Lanjut Saras, Rerasan film menjadi pre-event pertama untuk mengenalkan Women’s March Jember dan mengenalkan film sebagai media kacamata fenomena sosial.

“Bertemu dan berdialog dapat memberikan kami masukan apa sebenernya isu-isu lokal tentang ketidakadilan gender di Jember sendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Produser Film Nofita Sari mengungkapkan syukurnya atas acara Rerasan Film karena selain bisa bertemu dengan penonton juga bisa menambah referensi.

“Kami tidak hanya fokus pada satu platform tertentu untuk mempertontonkan karya kami. Tidak hanya mengejar ruang tonton festival saja. Forum semacam ini justru asik dan menambah preference baru bagi kami,” ungkapnya.

Berita Terkait :  Aksi International Women’s Day di Malang Direpresi Aparat, Ini Kronologisnya

“Kami berharap bisa menyampaikan suara-suara minor ini pada teman-teman di luarsana, bahwasanya isu yang disebut agak sensitif ini bisa terbuka dan di baca lagi oleh masyarakat luas,” ujarnya.

Selain itu, Nurul Masyithoh sekalu peserta acara Rerasan Film memberi apresiasi dan dukungan terhadap acara yang digelar Women’s March Jember.

“Di akhir-akhir ini sudah jarang mengadakan acara seperti ini. Kalau bisa sering-sering saja,” ungkapnya.

Masyithoh mengatakan bahwa masih banyak orang-orang yang belum peka dan belum sadar kesetaraan gender (gender a quality) bahkan bagi perempuan itu sendiri. “Sekarang pun masih banyak yang menyalahartikan feminisme, sehingga akhirnya their live a pointing fingers atau merasa perempuan berada pada strata paling atas, padahal tidak seperti itu,” terang mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Jember itu.

Menurutnya, kedua film tersebut lekat dengan kehidupan sosial sehari-hari. “Utamanya di desa-desa. Harapannya pada public an powering LGBT, respect each other,” pungkasnya.

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini