Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggandeng Queen Mary University of London (QMUL) dan Universitas Jember (UNEJ), selenggarakan Webinar Internasional, kemarin, Selasa (10/11)
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggandeng Queen Mary University of London (QMUL) dan Universitas Jember (UNEJ), selenggarakan Webinar Internasional, kemarin, Selasa (10/11)

Wujudkan Program Merdeka Belajar, UPI Gandeng QMUL dan UNEJ selenggarakan Webinar Internasional

beras

Berita Baru Jatim, Jember — Untuk mewujudkan Program Merdeka Belajar, khususnya edisi Kampus Merdeka, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggandeng Queen Mary University of London (QMUL) dan Universitas Jember (UNEJ), selenggarakan Webinar Internasional, kemarin, Selasa (10/11). Tema yang diusung adalah Studi Budaya dalam Perspektif sastra Bandingan.

Ketua Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dr. Isah Cahyani, M.Pd., dalam pembukaan menjelaskan bahwa Program Merdeka Belajar perlu segera diterapkan. Salah satunya diisi dengan seminar ini, dengan melibatkan peserta dari mahasiswa UPI dan UNEJ.

Pembicara pertama, Prof. Angus J. Nicholls dari QMUL, memaparkan kajian tentang posisi Pramoedya Ananta Toer dalam konteks sastra Dunia. Disebutkannya bahwa ketenaran Pram dalam sastra Dunia berangkat dari karya Tetralogi Pulau Buru-nya, yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Angus juga menjelaskan bahwa novel pertama dari Kuartet Buru, yakni Bumi Manusia diterbitkan dalam bahasa Indonesia tahun 1980 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda di 1981, Mandarin tahun 1982, Bahasa Inggris tahun 1983, Bahasa Jerman tahun 1984.

“Novel Bumi Manusia mampu menarik perhatian kritikus Barat. Oleh sebab itu, karya-karya Pramoedya cukup penting dalam pemetaan kajian sastra dunia,” terangnya.

Pembicara kedua, Dr. Sumiyadi, M.Hum. dari UPI, membahas deviasi nilai-nilai budaya dalam legenda dengan perspektif sastra bandingan. Dijelaskannya bahwa legenda Malin Kundang telah diadaptasi ke dalam berbagai genre kultural, mulai dari karya sastra modern, cerita lisan, komik, animasi, sinetron/FTV, sinema, tik-tok, hingga media sosial.

“Semua produk kultural tersebut secara umum dapat memberi gambaran tentang isi legenda Malin Kundang. Namun, ada deviasi nilai-nilai yang beragam. Dalam bentuk komik, animasi, dan tik-tok, nilai-nilai yang dikandung lebih disederhanakan. Dalam bentuk sinema dan film, nilai-nilai yang ditampilkan lebih kompleks,” jelasnya.

Wujudkan Program Merdeka Belajar, UPI Gandeng QMUL dan UNEJ selenggarakan Webinar Internasional
Saat, Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum. memaparkan materinya dalam Webinar Internasional. (Dok. Foto: Beritabaru.co/Rizal Kurniawan)

Pembicara ketiga, Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum. dari UNEJ, membahas tradisi jaran goyang dalam konteks mantra, puisi, musik, dan tari. Kajian bandingan tersebut terkait dengan bidang yang digelutinya, yakni tradisi lisan Using. Disebutkannya bahwa mantra Using, khususnya Jaran Goyang, telah menjadi inspirasi bagi penyair dan seniman untuk mencipta karya dalam genre puisi, musik, dan tari dengan tema pengasihan.

“Inspirasi dan adaptasi dari mantra ke bentuk puisi modern, musik atau lagu, dan tari menunjukkan adanya perkembangan peradaban di Banyuwangi. Perkembangan peradaban dari peradaban lisan, khirografik, tipografik, hingga elektronik,” pungkasnya.

Kegiatan webinar dalam mewujudkan Merdeka Belajar akan dilanjutkan Selasa depan dengan kerja sama antara UPI, UNEJ, dan UGM. Tema yang diusung adalah kajian bahasa dalam perspektif linguistik antropologis, dengan pembicara Dr. Mahmud Fasya, M.A., Dr. Ali Badrudin, M.A., dan Dr. Suhandano, M.A.

Wujudkan Program Merdeka Belajar, UPI Gandeng QMUL dan UNEJ selenggarakan Webinar Internasional
(Dok. Foto: Istimewa)

beras