
Di Tangkai Waktu, Kau dan Aku
Di Tangkai Waktu, Kau dan Aku
oleh: Muhammad Syaifulloh Rizal
Di Tangkai Waktu
Di tangkai waktu…
Kita tak beranjak juga tak tinggal.
Hari ini hilang, kemarin yang tertinggal adalah tanggal.
Antara Kau dan Aku…
Diruang bilik sadar, jarak terbentang dalam hening.
Mata kita tak beranjak, tubuh kita mati.
Di tangkai waktu…
Tak disini dan tak disana,
Rindu itu masih bersarang.
Diantara dua lilin yang tak dinyalakan di atas kue ulang taun.
Pesta tak digelar…
Di jam 12 malam…
Ya, Jam 12 malam…
Jam 12 malam desah kita berjelamun di selah bantal, di atas ranjang tubuhmu terlelang tak tinggal apa.
Di tangkai waktu…
Merah, merah itu…
Semua tempat tak ada kita adalah ruang tunggu.
Di tangkai waktu…
Seburuk-buruknya rindu, Ada doa “Ingin bertemu”.
Kau dan Aku
Sekali lagi
Mari, kita bernyanyi…
Di atas dudukan besi, Sabtu malam itu.
Tentang mimpi-mimpi sedangkal kaki
Kau dengan teh tawarmu,
Sedangkan aku, setia pada kopi.
Sekali lagi
Ya, sekali lagi
Mari kita bicara
Di taman dekat bunga-bunga itu.
Tentang ia yang tak bernama dan bernama
Tentang bunga-bunga layu yang terbuang di antara kumbang-kumbang yang nakal.
Lalu, bunyi berisik parodi sirkus mengepung di taman dengan erat.
Sekali lagi
Sekali lagi
Ku inginkan bibir merah gelapmu,
Di antara pasir-pasir kau menyisir arus.
Sekali lagi
Mari, kita bernyanyi…
Di atas dudukan besi, Sabtu malam itu.
Tentang mimpi-mimpi sedangkal kaki
Kau dengan teh tawarmu,
Sedangkan aku, setia pada kopi.
Sekali lagi
Ya, sekali lagi
Mari kita bicara
Di taman dekat bunga-bunga itu.
Tentang ia yang tak bernama dan bernama
Tentang bunga-bunga layu yang terbuang di antara kumbang-kumbang yang nakal.
Lalu, bunyi berisik parodi sirkus mengepung di taman dengan erat.
Sekali lagi
Sekali lagi
Ku inginkan bibir merah gelapmu,
Di antara pasir-pasir kau menyisir arus.