Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Pelatih

Pengamat Sepakbola Miris Melihat Pelatih Asing Kuasai Liga 1 2022/2023

beras

Berita Baru, Sepakbola – Seiring waktu, semakin sedikit pelatih lokal Indonesia yang menjadi juru taktik di kompetisi kasta Liga 1.

Musim ini, hanya ada enam pelatih lokal. Adapun enam pelatih tersebut adalah Aji Santoso (Persebaya Surabaya), Rahmad Darmawan (Rans Nusantara FC), kemudian ada nama Seto Nurdiyantoro (PSS Sleman).

Selanjutnya, masih ada Widodo Cahyono Putro (Bhayangkara FC), Nil Maizar (Dewa United FC), dan juga Djajang Nurdjaman (Persikabo 1973) yang melatih klub baru.

Sisanya, sebanyak 12 tim Liga 1 memilih untuk menggunakan pelatih asing di putaran awal kompetisi musim ini.

Ada yang merekrut pelatih asing sarat pengalaman, ada pula tim yang melakukan perjudian dengan mengontrak pelatih asing yang belum pernah menjajal Liga Indonesia.

Padahal, Indonesia sendiri memiliki 20 orang pelatih berlisensi AFC Pro per tahun 2019 lalu, dan mestinya setiap tahun ada peningkatan, walau terhalang pandemi.

Hal itu yang menjadi perhatian komentator dan pengamat sepakbola, Tommy Welly alias Bung Towel. Mengapa tim Indonesia enggan menggunakan pelatih domestik.

“Di Indonesia kita punya sekitar 20-an pelatih dengan level pro license, yang jadi persyaratan utama untuk menangani klub Liga 1,” ucap Bung Towel di kanal Youtube-nya.

Padahal, di level Eropa yang memiliki sepakbola maju, justru menggunakan mayoritas pelatih lokal di liganya masing-masing.

Pelatih Lokal Kuasai Eropa hingga Asia, Indonesia?

Komentator dan pengamat sepak bola, Tommy Welly, alias Bung Towel memberikan statistik dari negara Eropa yang mayoritas menggunakan pelatih lokal di liganya.

“Serie A Italia klubnya 20, pelatih lokalnya 14 orang. Begitu juga di La Liga Spanyol, ada 20 klub, pelatih lokalnya 14 pelatih,” ulasnya di Youtube Gocek Bung Towel.

“Begitu juga di Ligue 1 Prancis, 20 klub, pelatihnya ada 12 yang asli Prancis, lalu di Bundesliga, dari 18 klub, itu sebelas orang pelatih asal Jerman,” jelas Bung Towel lagi.

Rupanya, dengan berbekal pelatih lokal, pemain juga bisa mencapai performa yang diinginkan, sehingga memiliki statistik yang apik di timnas, kemudian juara Piala Dunia.

“Kalau kita kasih korelasi sederhana di empat Piala Dunia terakhir, 2006 Italia juara, 2010 Spanyol juara, 2014 Jerman juara, dan 2018 Prancis juara,” ungkap Bung Towel.

“Berarti ini ada korelasi, ketika sebuah negara memiliki banyak jumlah pelatih lokal, ada korelasi langsung dengan prestasi tim nasionalnya,” tegas sang komentator lagi.

Jika terlalu jauh di Eropa, maka Bung Towel juga menghadirkan statistik berapa banyak pelatih lokal yang sukses membawa liganya menjadi yang terbaik di level Asia.

“J-League itu 18 klub, pelatih domestik asli Jepang ada sembilan orang, jadi 50 persen klubnya masih dipegang oleh pelatih lokal.”

“Korean League, Liga Korea ada 12 klub untuk kasta tertingginya, pelatih Korea-nya ada sebelas, mereka mayoritas,” imbuhnya.

“Di negara Asia yang sepakbolanya sudah maju seperti Jepang dan Korea, pelatihnya yang lokal banyak memegang tim di kasta tertinggi kompetisi profesional,” tuntasnya.

beras