Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Seorang Fotografer Jember Dilaporkan oleh Empat Orang Perempuan atas Tuduhan Pelecehan Seksual
Sumber Foto: Radar Jember

Seorang Fotografer Jember Dilaporkan oleh Empat Orang Perempuan atas Tuduhan Pelecehan Seksual



Berita Baru, Jember – Seorang fotografer asal Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember dilaporkan oleh empat orang perempuan atas tuduhan pelecehan seksual pada Kamis (23/05/2024).

Laporan yang disampaikan ke Polres Jember itu menyebutkan bahwa tindakan pelecehan tersebut dilakukan ketika sesi pemotretan.

Pengawas Penyidik (Pawasidik) Satreskrim Polres Jember, Iptu Naufal Muttaqin membenarkan adanya laporan dugaan pelecehan seksual tersebut. Atas laporan itu, pihaknya akan segera melakukan penyelidikan terhadap kasus itu.

“Saat ini sudah ada laporan yang masuk pada kami. Kebetulan pelapor datang ke Mapolres Jember sejumlah empat orang dan kasus ini akan segera kita selidiki,” kata Naufal.

Iptu Naufal menyebut, terdapat empat orang pelapor yang datang ke SPKT Polres Jember. Keempat pelapor tersebut yakni RR (19) asal Kabupaten Banyuwangi, R (20) asal Kecamatan Jenggawah, Jember, A (20) asal Kecamatan Balung, Jember dan M (23) asal Kabupaten Tuban.

“Nantinya apa yang dilaporkan oleh pelapor ini akan kita dalami untuk kemudian kita lakukan penyelidikan lebih lanjut,” kata Naufal.

Sementara itu, salah seorang pelapor menyebutkan, awal kejadian pelecehan tersebut bermula saat sang fotografer menghubunginya melalui akun Instagram untuk menawarkan kerjasama menjadi model.

“Awalnya itu gini, dia DM (direct message) di akun sosmed saya. Setelah itu dia tanya ke kita mau gak jadi model untuk foto di instagramnya dia. Setelah kita mengiyakan, pelaku itu minta kami datang ke studio dan membawa dress hitam. Dia juga basa-basi di DM itu, dan minta nomor WhatsApp ya kita kasih,” ungkap salah seorang pelapor dikutip dari detik.com.

Menurut pelapor, setelah di studio foto, ternyata bukan hanya sesi pemotretan saja, melainkan sang fotografer melakukan hal-hal yang mengarah ke tindak pelecehan seksual.

“Setelah datang ke studio, ternyata di sana gak sesuai ekspektasi. Di sana pelakunya melakukan hal yang gak senonoh pada kita, perempuan-perempuan yang diminta jadi model studio,” lanjutnya.

“Jadi beberapa korban sempat dilecehkan dipegang bagian payudara dan alat kelamin. Dan ada juga beberapa korban yang dipaksa untuk berbuat hal-hal seperti itu (asusila). Kalau saya hampir aja digitukan, tapi untung saat itu saya berada di Malang dan gak hadir ke sesi pemotretan,” imbuhnya.

Pelapor juga mengungkapkan bahwa ulah fotografer tersebut telah terjadi sejak tahun 2020 lalu. Namun, para korban baru memiliki keberanian untuk melaporkannya sekarang.
Diduga masih banyak korban lainnya yang belum melapor dan disinyalir jumlahnya mencapai puluhan.

“Sekarang ada empat orang yang laporan ke polisi. Selebihnya mungkin ada 30 orang lebih. Rata-rata mahasiswa perempuan yang dia incar. Dan setiap model yang diajak ke studio, pasti diminta bawa dress hitam seksi,” kata dia.

Tidak hanya itu, pelapor juga mengatakan, untuk melancarkan aksinya, biasanya distudio foto hanya ada dua orang saja.
Apabila studio ramai, maka pelaku akan meminta sesi pemotretan untuk dilakukan satu persatu dan model yang lain akan ditempatkan di lokasi lain sebelum sesi pemotretan.

“Biasanya itu sendiri-sendiri pak, dan yang gak lagi pemotretan, biasanya ditaruh di paling belakang agar situasi pemotretan tetap sepi dan sesi foto itu dilakukan hanya berdua antara fotografer dan satu orang model saja,” paparnya.

Bahkan, Ia meneruskan, model yang memakai jilbab acap kali diminta untuk melepas hijabnya oleh pelaku. Bahkan, pelaku juga tak segan untuk melakukan tindakan pengancaman hingga kekerasan pada korban yang menolak.

“Kalau dress hitam diminta oleh pelaku itu yang penting seksi. Yang berhijab malah ada yang disuruh lepas hijabnya. Bahkan ada unsur pengancaman dan kekerasan juga saat pelaku berbuat seperti itu,” sambungnya.

beras