
Pertarungan 3 Srikandi Berebut Grahadi, Simbol Emansipasi atau Strategi Populisme?
PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur 2024 semakin menarik atensi publik menjelang pelaksanaannya. Hal ini lantaran adanya fenomena pertarungan 3 srikandi berebut grahadi.
Tiga srikandi yang di sini adalah Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini dan Lulu Nur Hamidah. Ketiga tokoh perempuan tersebut akan bertarung memperebutkan kursi Gubernur Jawa Timur.
Pertarungan 3 Srikandi Berebut Grahadi di Pilkada Jawa Timur
Pendaftaran cagub-cawagub Pilkada 2024 yang berlangsung pada 27-29 Agustus 2024 silam resmi ditutup oleh KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah). Fenomena politik unik terjadi di Pilkada Jawa Timur, di mana seluruh calon gubernur yang akan berkompetisi dalam laga politik kali ini adalah perempuan.
Hal tersebut mengundang perhatian tersendiri bagi publik, baik lokal atau nasional. Tak hanya itu, fenomena munculnya 3 srikandi ini mampu membuka ruang diskusi baru terkait peran kaum perempuan di ranah politik tanah air.
Calon pertama yaitu Khofifah Indar Parawansa yang kembal iberpasangan dengan Emil Dardak merupakan calon dari Koalisi Indonesia Maju. Kedua ada calon usungan PDI Perjuangan Tri Rismaharini berpasangan dengan Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans. Calon ketiga merupakan dari partai PKB yaitu Luluk Nur Hamidah dipasangkan dengan Lukmanul Hakim.
Ketiga calon tersebut merupakan sosok yang familiar di ranah politik Indonesia. Mereka sama-sama mempunyai background yang kuat sebagai pemimpin, baik dalam organisasi, partaipolitik, maupun birokrasi.
Kemunculan 3 Srikandi Adalah Praktik Emansipasi
Pertarungan 3 srikandi berebut grahadi menjadi sorotan baru lantaran erat kaitannya dengan konsep emansipasi yang diprakarsai oleh R.A Kartini. Fenomena ini membuktikan keterwakilan perempuan, jumlah, dan keterlibatan perempuan dalam bidang politik semakin kuat adanya.
Hadirnya 3 tokoh perempuan di panggung Pilkada sekaligus merepresentasikan kemajuan signifikan dalam perjuangan kesetaraan gender. Perempuan bukan hanya bisa memanajemen rumah tangga, namun juga juga layak untuk menjadi seorang pemimpin di sebuah provinsi besar, seperti Jawa Timur.
Keberanian dan kemampuan para srikandi ini layak dijadikan inspirasi bagi perempuan lain untuk unjuk diri dan terlibat aktif dalam politik atau bidang lainnya.
Berkaitan dengan Strategi Populisme
Meski termasuk perwujudan emansipasi wanita di masa kini, pertarungan 3 srikandi berebut grahadi memunculkan spekulasi baru adanya strategi populisme untuk mengundang atensi publik.
Mengusung kandidat perempuan yang kuat dan dikenal luas oleh masyarakat konon katanya bisa menjadi strategi ampuh menarik simpati pemilih. Hal ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk memanfaatkan citra positif dan popularitas yang para kandidat miliki.
Di samping itu, melihat dari segi kampanye dan penggunaan media. Sekarang ini, kampanye yang menonjolkan figur perempuan berprestasi bisa meningkatkan daya tarik sekaligus engagement dengan pemilih, terlebih di media sosial.
Sebutan srikandi sebenarnya merujuk pada cerita dalam pewayangan yang menggambarkan perempuan-perempuan tangguh. Fenomena pertarungan 3 srikandi berebut grahad itidak sekedar mencerminkan kemajuan dalam kesetaraan gender, namun juga tentang strategi yang digunakan dalam kontestasi pemilihan. Apakah ini lebih tentang emansipasia tau strategi populisme. Bagaiamana menurut kalian?