Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Senyawa Bahaya di Udara Lumpur Lapindo
Delapan titik pemantauan udara oleh Pos Koordinasi untuk Keselamatan Korban Lumpur Lapindo. (Foto: Eko Widodo/Komunitas Lumpur Lapindo)

Senyawa Bahaya di Udara Lumpur Lapindo

beras

Berita Baru, Sidoarjo – Posko KKLuLa atau Pos Koordinasi untuk Keselamatan Korban Lumpur Lapindo mencatat senyawa tidak kasat mata yang berada disekitar semburan Lumpur Lapindo. Senyawa ini berpotensi membahayakan pernafasan yang menghirupnya apalagi jika menghirup dalam jangka waktu yang lama.

Eko Widodo, dari Komunitas Lapindo, mengatakan bahwa sejak 2016, Posko KKLuLa melakukan pemantauan kualitas udara di sekitar pusat semburan Lumpur Lapindo. Pemantauan menggunakan perangkat seperti kalender pantau dengan pelat perak dan tembaga, serta Gastech 400 FT dan anemometer multiguna.

“Masing-masing perangkat dapat mendeteksi senyawa yang berbeda di udara,” kata Eko Widodo menjelaskan metode pematauannya saat ditemui pada 29 Juni 2022 lalu.

Menurut Eko, pelat perak digunakan untuk mendeteksi hidrogen sulfida (H2S) dan pelat tembaga mendeteksi klorin (Cl2). Kedua pelat ditempelkan pada kalender pantau. Pada awal tahun 2021, imbuhnya, Posko KKLuLa mencetak 200 kalender pantau yang disebar pada para warga yang tinggal di sekitar semburan lumpur Lapindo.

“Harapannya, warga dapat terlibat dalam pemantauan udara menggunakan teknologi sederhana ini,” tuturnya.

Sementara itu, detektor gas digital (Gastech) digunakan untuk mendeteksi kandungan H2S dan polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH) dalam waktu lima menit. Pemantauan periodik menggunakan Gastech dilakukan di delapan titip pantau. Salah satu kelemahan Gastech adalah tidak bisa mengidentifikasi jenis PAH di udara.

“Dalam jumlah tertentu, kandungan H2S dapat menyebabkan hilangnya kemampuan sensori hidung untuk melakukan penciuman. PAH bersifat karsinogenik, artinya bila dihirup terus-menerus akan mengendap di paru-paru dan memicu kanker,” kata Eko.

Kemudian, anemometer multiguna digunakan untuk mencatat beberapa komponen tambahan, seperti kecepatan angin, kelembapan udara, suhu, dan H2S. Data-data ini akan menjadi pelengkap untuk mengetahui kondisi udara di sekitar pusat semburan lumpur Lapindo. Hasil pengamatan udara ditentukan oleh arah dan kekuatan angin pada saat pengambilan sampel.

Pemantauan kualitas udara di delapan titik menggunakan Gastech dan anemometer dilakukan secara rutin tiap bulan sejak Februari 2021 hingga Januari 2022.

“Pada pertemuan pembahasan hasil pemantauan bersama perwakilan warga tanggal 27 September 2021 ditemukan bahwa pencatatan harian mandiri pada kalender pantau tidak berjalan seperti yang rencana awal,” kata dia.

Dari delapan titik pantau udara hanya di tiga titik saja yang datanya diisi secara ajeg, yaitu Candi Pari, Boro, dan Gempolsari. Di lima titik lainnya, catatan pengamatan udara banyak yang kosong. Bahkan ada yang tidak mengisi sama sekali. Ini menjadi catatan khusus terkait tingkat partisipasi warga dalam pemantauan.

“Jika melihat fakta-fakta yang ditemukan tersebut, dikatakan para warga menyimpulkan bahwa kondisi udara di seputar pusat semburan lumpur Lapindo tidak makin membaik,” tuturnya.

Selain itu, menurut Eko, beberapa pertanyaan susulan muncul. Apakah kondisi udara semacam itu berkaitan dengan tingginya angka gangguan pernapasan yang dialami warga yang tinggal di sekitar semburan lumpur Lapindo?

Apakah kedua senyawa di udara tersebut (H2S dan PAH) bersifat akumulatif akan memiliki dampak jangka panjang bagi mereka yang setiap hari menghirupnya? Selain kedua senyawa tersebut, apa saja jenis senyawa lain yang juga terkandung di udara seputar semburan Lumpur Lapindo?

“Hingga kini belum ada pihak yang punya cukup kapasitas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut,” pungkasnya.

beras