Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Mengenang Didi Kempot
Cringe

Peristiwa Puitik dalam Lirik Lagu Didi Kempot



Esai — Musibah besar benar-benar sedang menimpa masyarakat musik Indonesia. Belum sempat kita menuntaskan kenangan seorang penyanyi Jazz Green Fredly yang baru saja meninggal sebulan lalu, kemarin belum genap seminggu, seorang penyanyi sekaligus sineman campursari Didi Kempot juga telah dikabarkan menghembuskan nafas terakhirnya di salah satu rumah sakit Solo. Dari seorang penyanyi Jazz ke Campursari, saya menyadari bahwa maut memang kejam, begitu lintas-genrenya ia mengambil nyawa seseorang. Jika dahulu, pada tahun 10 kenabian Rasulullah pernah mengalami bulan kesedihan (Amul Huzni), sebab 2 orang yang paling dikasihinya meninggal dunia. Istrinya, sayyidati khadijah dan pamannya, Abu Tholib. Maka jika boleh berlebihan saya menyebut, bulan ini adalah Amul Huzni-nya para penikmat musik Indonesia. Boleh kan?

Melalui lagu-lagunya yang begitu syahdu dan mbaperi, Didi berhasil membuat masyarakat kita menjadi jingkrak-jingkrak dan lebih hokya untuk lebih mencintai penderitaan. Mungkin dalam konteks sakit hati, Didi menjadi semacam superhero bagi jiwa-jiwa yang tersayat, tubuh-tubuh yang kesepian dan insan-insan yang patah. Ya, meski rata-rata penikmat lagu-lagu Didi Kempot adalah anak-anak muda yang kehilangan tema. Namun, Didi Kempot adalah aktor penting bagi anak muda yang mengajarkan agar bagaimana kita merawat perasaan.


Ketika saya pertama kali melihat konser Didi Kempot di Banyuwangi, Jujur saya merasa ada yang berbeda – dari sepengalaman saya melihat konser — ketika melihat suasana konser. Didi sangat menjaga agar tidak ada sekat antara dirinya dan penonton, sehingga iklim perasaan setiap masing-masing orang di konser menjadi sublim dan menyatu. Didi Kempot menginginkan penonton menjadi entitas yang benar-benar ada dan diakui. Semuanya boleh joget, semuanya boleh nyanyi dan semuanya sah-sah saja meluapkan segala isi perasaannya. Dengan lirik-liriknya yang sangat menyentuh dan penuh empirik, tak heran jika lagu-lagu Didi sangat mudah diingat dan secara tidak langsung mengendap di alam bawah sadar yang suatu waktu secara tak sadar sering kita nyanyikan.


Lagu-lagu Didi seperti punya ruh untuk mengajak siapa saja yang mendengarkan dan meresapinnya agar lekas move on dan siap untuk menantang getir manisnya kehidupan. Lebih-lebih jika menyangkut masalah hati dan perasaan. Meski terkadang lagu-lagu Didi mengajak kita untuk galau-galauan, tetapi ada hal yang tersimpan dalam spirit lagu-lagu Didi, yaitu nilai-nilai revolusi. Kenapa saya berani menyatakan bahwa lagu-lagu Didi Kempot adalah nyanyian-nyanyian revolusioner? Pertama, lagu-lagu Didi Kempot hadir sebagai bentuk wacana tanding di tengah-tengah maraknya budaya pop yang datang di masyarakat kita. Seperti gejala lagu-lagu Barat dan masifnya lagu-lagu K-pop. Didi berhasil membuktikan bahwa lagu-lagu dengan cita rasa lokalitas juga punya kekuatan dan layak untuk digemari. Terbukti dengan banyaknya “sobat ambyar” dari berbagai penjuru daerah, tidak hanya masyarakat Jawa.


Bahkan ketika saya bertanya pada kawan saya dari Madura. Dia berhasil merasakan apa yang disebut sebagai kegalauan-kegalauan di setiap lagu Didi. Ia mengatakan, ketika menonton konser Didi Kempot di Jember kemarin, seolah-olah perasaan sakit dan kenangan pahit saya ikut melebur ketika menyanyikan lagu-lagunya. Hal ini membuktikan bagaimana besarnya pengaruh lagu-lagu berbahasa daerah sebagai strategi dan tameng kebudayaan agar tidak punah.


Kedua, lagu-lagu Didi sedikit banyak telah merealisasikan cita-cita Marx dalam sosialismenya tentang masyarakat tanpa kelas. Hal ini bisa kita lihat di setiap konser Didi. Bagaimana satu tempat bisa mempersatukan masyarakat tanpa membedakan jabatan dan latar belakang. Mereka berbaur menjadi satu, menyuarakan kebahagiaan dan sejenak melupakan kekhawatiran. Didi adalah cerminan sosok yang sejak lama kita tunggu-tunggu. Didi adalah Imam Mahdi, seorang yang dikisahkan akan datang di akhir zaman sebagai pahlawan pemersatu umat. Mungkin saya terkesan hiperbolis, tetapi realitanya memang begitu. Didi berhasil mempersatukan anak-anak muda yang kemudian menyebut dirinya sebagai sobat ambyar.


Ketiga, lagu-lagu Didi Kempot adalah lagu-lagu yang menyerap aspirasi dan memperjuangkan orang-orang tertindas. Tahan sebentar, tertindas di sini jangan diartikan terlalu jauh, metafora tertindas di sini saya istilahkan sebagai orang-orang yang disakiti perasaanya. Orang yang patah cinta, orang yang ditinggal selingkuh, dan orang yang diberi harapan palsu oleh kekasihnya. Didi berhasil mengumpulkan orang-orang seperti ini untuk menyuarakan nada yang sama: nada sakit hati. Tetapi, apakah sakit hati itu hanya identik sebagai sunnatullah ataupun siklus alam? Tidak. Didi kerap menampilkan subjek-subjek tegar, sabar dan kuat dalam lagu-lagunya. Hal ini menunjukkan bahwa Didi Kempot adalah orang yang sangat peduli terhadap rakyat dan berpihak kepada kemanusiaan.


Sebelum berakhir, mari secara ikhlas kita kirimkan doa kepada Didi Kempot, semoga lantaran kebahagiaan yang dilahirkan lagu-lagunya dapat menghantarkannya ke tempat yang layak. Terakhir, Didi Kempot tidak benar-benar pergi. Dia tetap hidup di setiap detik ketika lagu-lagunya dinyayikan.

beras