Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Diskusi Solutif #6 Literasi Digital: Belajar Tanpa Batas di Ruang Virtual

Diskusi Solutif #6 Literasi Digital: Belajar Tanpa Batas di Ruang Virtual

Berita Baru Jatim, Lamongan – Alfa Learning Space (ALS) merupakan wadah bagi masyarakat dalam menunjang kapasitas diri dan belajar mengembangkan potensi. Wadah yang berisi akademisi, praktisi, serta pelajar.

Salah satu program utama yang dimiliki oleh ALS adalah Ruang Baca dan Diskusi yang kali ini diwujudkan dalam Diskusi Solutif #6 dengan tema Literasi Digital: Belajar Tanpa Batas di Ruang Virtual, Minggu (11/7).

Kegiatan diskusi ini dipandu oleh M. Saunan Al Faruq, M.Pd. Diskusi kali ini merupakan diskusi lanjutan yang telah dilakukan dengan komunitas-komunitas di Kabupaten Lamongan terkait pendidikan di tengah pandemi.

Pemantik pertama menyampaikan kultur dan etika belajar di ruang virtual. Dr. Winarto Eka Wahyudi, M.Pd.I. menyampaikan tantangan yang dihadapi saat belajar daring. “Diantaranya adalah kemandirian belajar, kemampuan menyelesaikan tugas, orisinalitas karya, serta perangkat dan koneksi internet,” ungkapnya.

Etika belajar belajar di ruang virtual, lanjutnya, bisa dimulai dari hal terkecil seperti berpenampilan sopan, kejelasan identitas, pengkondisian suara ketika pembelajaran berbasis video converence, fokus pada pembelajaran, berperilaku santun, dan menghargai waktu. “Kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut akan sangat terasa dampaknya dalam proses pembelajaran,” imbuhnya.

Dr. Abdul Ghofur, M.Pd sebagai pemantik kedua menyampaikan bahasan tentang akselerasi inovasi pembejaran di tengah Pandemi. Inovasi ini menurutnya merupakan perpaduan antara pengetahuan, pengalaman, dan kebutuhan.

Dalam pemaparannya, ia mencontohkan ojek online yang menuai protes dari ojok konvensional. “Nampaknya hari ini dunia pendidikan mengalami hal yang sama,” ujarnya. Guru, masyarakat, dan orang tua, menurutnya harus beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Hal senada juga diutarakan oleh Staf Milenial Komnas Pendidikan Jatim. Ia mengutarakan bahwa peran guru mungkin dapat tergantikan oleh teknologi. “Namun teknologi tidak bisa menggantikan perasaan atau sisi emosional yang tentu dibutuhkan dalam tumbuh kembang peserta didik,” ungkap Kartika Nur Umami, S.Pd.

Melihat kondisi tersebut, Agil Fitrah Febrianto membagikan cara yang dilakukan agar pembelajaran jarak jauh bisa menyenangkan dan bermakna. “Pertama, guru atau fasilitator perlu menumbuhkan mindset positif.” Kedua, mengenali potensi peserta didik dan menentukan minat mereka.

Ketiga, mulai dari apa yang ada saat ini, hal ini berarti melakukan pendekatan pada dunia peserta didik sebelum dilanjut ke inti pelajaran. “Keempat, mencoba dan berlatih, agar pengetahuan dan keterampilan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik,” imbuhnya.

Pemantik terakhir dipaparkan oleh Nurul Hidayatul Ummah. Ia menjelaskan Literasi Digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang diakses melalui piranti komputer.

Masyarakat Indonesia saat ini sudah cukup cakap dalam berliterasi digital. “Buktinya banyak dari kita yang sudah menggunakan bantuan aplikasi untuk memudahkan kegiatan sehari-hari, mulai dari belanja, memesan makanan, dan belajar hal baru melalui platform yang tersedia,” paparnya.

Dalam kondisi informasi yang sangat beragam ini, dia melanjutkan, tentu membutuhkan rambu-rambu agar tidak termakan oleh informasi hoax, rasis, dan hal-hal lain yang berbau negatif. “Literasi digital ini juga membantu kita untuk tetap bisa berkomunikasi jarak jauh dengan orang-orang terdekat.”

Pasalnya hari ini sangat tidak disarankan untuk bertemu secara langung. “Khusus untuk pendidikan, tantangannya adalah bagaimana kita bisa membuat proses belajar yang menyenangkan,” ujarnya.

beras