Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Selongsong Peluru dan 62 Tahun PMII

Selongsong Peluru dan 62 Tahun PMII



Kolom – Organisasi biru kuning itu mengajariku banyak hal. Baik dalam forum-forum resmi, lingkaran-lingkaran diskusi, hingga pendidikan jalanan berupa demonstrasi. Sekira 2013-2014 silam, kala itu, saya diamanahi untuk menjadi bagian dari Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gresik. Di tahun-tahun itu, Bahan Bakar Minyak (BBM) naik. Demonstrasi menolak kenaikan meletus di beberapa daerah. Aksi massa bergema dari pelbagai kalangan. Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur pun tak tinggal diam.

Di halaman gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur menjadi saksi. Kenaikan BBM menjadi musabab, aksi chaos. Gas air mata mulai ditembakkan. Massa aksi kocar-kacir. Aku adalah satu di antaranya. Kepolisian terus memukul mundur barisan. Tak dinyana, salah satu selongsong peluru mendarat di punggung. Sial, kaget setengah mati. Saat itu, darah rasanya berhenti mengalir. “Mati.” Ya, aku kira, medan aksi menjadi momentum terakhir, almamater biru itu ku kenakan. Namun, itu tak lain hanyalah selongsong peluru gas air mata.

Seketika, aku pun berlari menuju masjid depan gedung DPRD Jatim. Pasta gigi di wajah pun mulai dioleskan, berharap menjadi penangkal sementara perihnya gas air mana. Momen itu hanya satu di antara banyak kenangan-kenangan yang masih kental dalam kepala. Tak sedikit cerita-cerita seru itu mewarnai kehidupanku selama proses di PMII hingga PKC Jawa Timur 2015-2017.

Sebagai seorang yang bodoh, tak ada cara lain yang bisa saya lakukan kecuali belajar dan berproses. Dari situlah, benih kecintaan pada PMII mulai tumbuh. Kecintaan itu terus ku pupuk dengan semangat untuk terus belajar. PMII mengajarkanku banyak hal tentang wawasan organisasi, kebangsaan serta pelbagai disiplin ilmu-ilmu lain. Belajar untuk terus melakukan muhasabah diri, mendengar, serta meneguhkan tujuan besar organisasi.

2017 adalah tahun terakhir aku berposes dan belajar di PMII. Tentu yang ku maksud adalah belajar dan terlibat dalam struktural organisasi. Kini lima tahu sudah, alfaqir ‘keluar’. Namun, aku berusaha untuk terus ‘masuk’ ke dalam untuk lebih mengenal PMII. Ternyata, kehidupan ini nampaknya tak jauh berbeda seperti ketika menjadi seorang kader. Perjuangan, mental menghadapi setiap tantangan, dan gagasan harus terus dirawat dan diasah agar benar-benar menjadi insan seutuhnya. Maka hari ini, di mana PMII berumur 62 tahun, izinkan aku mengucapkan terima kasih. Sebab, dari PMII aku mengenal kehidupan. Dari PMII aku mengenal perjuangan. Dan dari PMII aku belajar banyak hal.

Selamat Hari Lahir PMII ke-62.

beras