Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Aktivis dalam Lingkaran Kekuasaan: Idealisme Tertanam atau Memudar?

Aktivis dalam Lingkaran Kekuasaan: Idealisme Tertanam atau Memudar?



Berita Baru, Jakarta – Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar diskusi dengan tajuk “Aktivis dalam Lingkaran Kekuasaan: Idealisme Tertanam atau Memudar?”, Sabtu 12 Agustus 2023 di Sekretariat PB PMII yang berlamat di Jl. Salemba Tengah, Jakarta Pusat.

Diskusi ini mendatangkan empat narasumber, di antaranya, Aktivis 98 Budiman Sudjatmiko, Staff Ahli Wakil Presiden H Arif Rahman, Sekertaris Nasional FK-GMNU Oky Tirto dan Staff Ahli Kementerian Desa PDTT Syamsul Widodo.

Budiman mengawali paparannya dengan menyampaikan posisi aktivis dalam melihat persoalan serta mengurai bagaimana peran aktivis di dalam parlemen. Menurutnya aktivis yang masuk dalam sistem itu harus menjadi episentrum sistem. “Anda harus menjadi nomor satu di level apapun,” paparnya. Jika tidak menjadi di episentrum, lanjut aktivis 98 itu, maka tidak akan menjadi pendorong. 

“Bagaimana untuk menjadi core inti? Harus menawarkan cara pandang yang relevan. Bawalah ide yang relevan dan ekosistemnya–tidak hanya sistem–harus berubah. Jika orang baik masuk pada sistem yang buruk, pun bisa tenggelam. Bukan karena dia jahat tapi dia tidak bisa menawarkan sesuatu terhadap kekuasaan. Tidak menjadi faktor diterminan. Orang baik yang masuk kekuasaan akan menjadilipsting jika tidak hanya menghasilkan terobosan. Maka akan tertinggal,” terangnya.

Budiman menanggapi tema yang diangkat dalam diskusi ini, apakah idealisme tetap tertanam atau memudar ketika di parlemen? Bagi dia kedua pilihan tersebut ini terlalu ekstrem.” Tugas manusia tidak hanya mempertahankan idealisme tetapi mewujudkan idealisme,”ucapnya.

Segendang seirama dengan hal itu, Arif Rahman menceritakan pengalamannya sejak aktif di dunia gerakan mahasiswa sampai saat ini. “Aktivis itu harus memiliki integritas, totalitas dan loyalitas,” katanya. “Membangun komunikasi dengan pelbagai pihak itu penting.”

Tidak hanya itu, ia menambahkan bahwa aktivis harus membangun kemandirian ekonomi agar mampu menjaga indepedensi serta memperkuat posisi organisasi agar tidak mudah diintervensi. “Aktivis hari ini harus mempersiapkan diri untuk berperan di masa mendatang,” tambahnya.

Okky Tirto berpadangan bahwa dalam menstransmisikan idealisme itu agak sulit untuk menghasilkan suatu kebijakan, kecuali berpatner dengan sesama aktivis yang ada di parlemen.

Bagi dia aktivis itu bukan profesi, tetapi pola pikir dan nilai. “Yang kerap disalahpahami adalah aktivis dianggap sebagai profesi, sehingga ketika mereka berada di dalam lingkar kekuasaan dianggap berbeda, ucapnya.

Di sisi lain, tantangan ke depan menurut Syamsul Widodo itu berbeda. “Kita harus punya aktivis yang ahli nikel, aktivis yang ahli batu bara, aktivis yang ahli cyber scurity, aktivis yang ahli artificial intelligence.”

Lebih lanjut, dia menyarankan aktivis mahasiswa ekstra kampus, Cipayung harus merubah orientasi gerakan untuk menjawab tantangan ke depan. “Di orde baru lawannya jelas, kalau sekarang mau melawan siapa? Anggota DPR, itu kan senior-senior kalian juga. Kan iya?”

Kemudian, ia mengungkapkan partai menang tapi tidak bisa menguasai pejabat eselon satu dan eselon dua. “Menang terus, serius! Menang terus. Tetapi saat masuk pada birokrasi isinya marah-marah terus karena birokrasi tidak bisa dikuasai,” ungkapnya.

beras