Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Heru S.P. Saputra Ketua Panitia
Heru S.P. Saputra Ketua Panitia. (Foto: Beritabaru.co/ Rizal Kurniawan)

FIB UNEJ Gelar Seminar Nasional Angkat Tema Era Disrupsi dan Humaniora

beras

Berita Baru Jatim, Jember — Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej) bekerjasama dengan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember), dan Asosiasi Tradisi Lisan Komisariat Jember (ATL Jember) usai selenggarakan Seminar Nasional daring dengan tema “Humaniora dan Era Disrupsi” bertempat di Aula Sultan Takdir Alisjahbana, FIB UNEJ.

Seminar diadakan selama dua hari, Senin dan Selasa tanggal 5-6 Oktober 2020.

Ketua Panitia, Heru S.P. Saputra, dalam laporannya menjelaskan bahwa Era Disrupsi dan Humaniora dipilih sebagai tema karena memang sedang ngetren. Pemaknaan Era Disrupsi merupakan bagian dari perubahan peradaban, yakni dari peradaban lisan, khirografik/tulisan, tipografik/cetakan, hingga peradaban elektronik.

“Era disrupsi merupakan revolusi yang berdampak pada perubahan tatanan, dengan basis perangkat digital dan media sosial,” tambahnya.

Pelantikan Pengurus HISKI Kokisariat Jember 2020-2024
Pelantikan Pengurus HISKI Kokisariat Jember 2020-2024. (Foto: Beritabaru.co/ Rizal Kurniawan)

Sementara itu, Dekan FIB Unej, Akhmad Sofyan, memberi sambutan sekaligus mendorong agar semua pihak mampu mengikuti perubahan zaman.

“Era sekarang banyak menggunakan sarana daring dalam berkomunikasi, sehingga harus berhati-hati, karena jejak digital dapat berimplikasi pada kejadian buruk bagi seseorang,” tegasnya.

Seminar nasional ini mengundang lima narasumber, di antaranya ada yang dari UI UNY, dan Unej, dan juga, menampung 61 makalah seleksi.

Ketua ATL Pusat, yang juga dosen Universitas Indonesia (UI), Pudentia MPSS, menekankan bahwa khazanah tradisi lisan merupakan pusaka budaya yang harus terus diberdayakan. Pusaka budaya mengandung nilai-nilai luhur bangsa.

Pudentia menggarisbawahi bahwa tradisi lisan merupakan kekayaan budaya, karena mencakup berbagai hal, yakni kearifan tradisional, sistem nilai, pengetahuan tradisional, sistem kepercayaan dan religi, kaidah dan struktur sosial, sistem pengobatan, sejarah, hukum adat, upacara adat/ritual, permainan tradisional, dan berbagai hasil seni.

“Untuk itu, tradisi lisan selalu beradaptasi dengan perubahan. Termasuk sesuai dengan perkembangan mutakhir, yakni era disrupsi,” jelasnya.

Mukhlis Paeni, seorang sejarawan dan budayawan, yang juga dosen UI, memaparkan fenomena revolusi industri yang melanda dunia. Banyak negara yang telah memasuki era revolusi industri 4.0.

Di antaranya adalah Amerika, berbagai negara Eropa (Jerman, Prancis, Itali, negara-negara Skandinavia, Belanda, Rusia) dan beberapa negara Asia seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan (Mungkin sekarang Cina), termasuk dalam urutan negara-negara yang sudah berada dalam Era 4.0.

Dijelaskannya bahwa negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, mungkin saja sudah mempraktekkan keharusan 4.0, tapi hanya pada sektor-sektor yang berhubungan dengan kepentingan internasional, terutama menyangkut bisnis dan keuangan.

Di sisi lain, Ketua Umum HISKI yang juga guru besar UNY, Suwardi Endraswara, menyebutkan bahwa untuk mengantisipasi Era Disrupsi, Sastra harus lebih kreatif dan eksploratif. Dia mencontohkan bahwa era disrupsi, hubungan sosio-kultural serba ‘dingin’.

Untuk itu, menurutnya, diperlukan rempah sastra, yaitu sejenis tanaman obat, yang menghasilkan kehangatan. Dijelaskannya bahwa rempah sastra memuat tiga hal, yaitu: (1) fitoterapi, teks memuat obat, (2) sastra botani terapi, berarti pembacaan sastra untuk pengobatan, healing, dan (3) cermin sastra rempah, artinya refleksi karya-karya sastra yang memuat pesan rempah-rempah.

e-prosoding gratis setebal 720 halaman
E-prosoding gratis setebal 720 halaman. (Foto: Beritabaru.co/ Rizal Kurniawan)

Sementara itu, pembicara kunci yang juga guru besar FIB Unej, Bambang Wibisono, memaparkan hasil risetnya terkait penggunaan bahasa dalam Era Disrupsi.

“Bahasa yang berkembang adalah bahasa ikonik atau simbolik dengan sarana emoji, gambar, digital, dan media sosial,” terangnya.

Pada akhir acara hari kedua, semua pemakalah dan peserta mendapat fasilitas gratis berupa e-sertifikat, e-prosiding setebal 720 halaman, dan file-file buku dan prosiding hasil seminar HISKI Komisariat Jember sebelumnya, yang dapat diunduh secara gratis di hiskijember.fib.unej.ac.id.

beras