Jelang Pilkada, Perempuan Tak Boleh Takut Masuk Ruang Politik

Disusi Politik Jelang Pilkada (Beritabaru.co/Ahmad Rofi)

Berita Baru Jatim, Mojokerto — Menjelang Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) kaum perempuan harus berani masuk di ruang politik dengan kuota 30 persen yang dikhususkan bagi kaum perempuan.

Hal tersebut disampaikan oleh Anis Handayani Alumni Kops Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Mojokerto dalam diskusi politik dengan mengangkat tema “Representasi 30% Perempuan untuk Negara,” pada Minggu (02/08) di Kantor Sekretariat PC PMII Mojokerto.

“Dunia politik masih dianggap dunia kaum lelaki. Masih kuat persepsi yang memandang bahwa perempuan tidak pantas masuk kancah politik. Situasi ini berdampak pada dua hal, yaitu masih sedikitnya kader perempuan yang serius masuk ruang politik, dan rendahnya kesadaran dan partisipasi pemilih perempuan untuk memilih Calon Legislatif (Caleg) perempuan,” kata dia.

Perempuan yang juga Komisioner KPU Mojokerto ini menambahkan, sesuai dengan UU No. 7 tahun 2017 mengamanahkan pada partai politik untuk menyertakan 30% keterwakilan perempuan dalam kepengurusan tingkat pusat.

Dengan adanya aturan tersebut seharusnya cukup memberikan ruang terhadap perempuan sehingga dapat ikut serta berperan dalam kontestasi politik baik sebagai peserta maupun sebagai penyelenggara Pemilu, namun eskalasi tersebut belum cukup memenuhi kuota keterwakilan 30% perempuan.

Berita Terkait :  International Women's Day 2021: Perempuan Melawan Omnibus Law

“Namun, potensi suara perempuan yang demikian besar belum dapat menghasilkan keterwakilan 30% perempuan di parlemen yang diharapkan dapat melahirkan kebijakan yang benar-benar melindungi hak perempuan,” jelasnya.

Diskusi yang dikoordinatori Biro Kajian dan Dakwah ini sebagai bentuk kesiapan perempuan dalam ruang politik, lantas begitu tidak mengesampingkan kodrat perempuan itu sendiri.

Inani Sulfiyah Anggota Biro serta Moderator diskusi menyampaikan,”meskipun begitu perempuan mempuanyai peran ganda harus bisa menempatkan profesionalitas ketika tampil di hadapan publik,” ungakapnya.

Ia juga menyimpulkan dalam diskusi ini dengan mengistilahkan bahwa perempuan itu ibarat mutiara bila tersembunyi sinarnya akan terlihat, bila terus di rawat ia akan menjadi barang yg sangat indah.

“Kenapa demikian, karena perempuan lebih bisa adil dalam menyikapi setiap masalah, perempuan memiliki insting yang luar biasa serta adanya bakat terpendam untuk masuk dunia politik,” pungkas Inani Sulfiyah.

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini