Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Notasi Keheningan
Ilustrasi (Foto: HiTekno.com)

Notasi Keheningan

   

Subuh merebah pada matamu yang jalang,

    Lalu hilang menjelma ingatan yang berpulang,

    Akulah seburuk-buruknya memoriam pada tubuhmu yang memeluh, kekasih.

Hari masih petang, tapi bahumu yang reot sudah memapah jalan memikul keranjang lusuh. Setandan pisang dan kelapa tua menjelma permata, bibirmu pun merekah menebas syurga. Napasmu berat, dadamu kembang kempis bak melati gagal menguncup. Punggungmu serupa gunung Merbabu yang landai, beserta matamu menyulap mentari yang sudah kenyang menghisap embun subuh di muka bumi. 

Lalu, kemanakah hendak melangkah?

Jika jalan raya sudah terlebih dulu dilipat oleh waktu, jika rumah-rumah sudah menutup pintu. Orang-orang berbondong-bondong masuk kamar kedap suara dan berselimut api. 

Lalu, bagaimana bisa mencari?

Sedang terik menggelitik pada pipimu yang ranum berbuah delima. Hujan yang katanya rahmat tak kunjung datang mengguyur perih di mata atas persembahan sembab yang gagal di akhir. Kerutan pada dahimu, bengkak di bawah kantong matamu, pipi yang sudah bergelambir, dan kulitmu serupa sisik ikan Kakap. Serenta ini, apa yang dicari selain menembus lorong-lorong waktu menuju keabadian?

Kehidupan hanyalah perihal menunggu, setiap musim yang berlalu akan menjadi kenang di kening. Tiadapun suatu petanda, termasuk denting pada notasi keheningan di frekuensi nol-nol titik nol-nol; kehilangan sebelum kematian lebih dulu menebus waktunya. Dan kau, belum tentu punya waktu di esok pagi.

Lumajang, April 2020 

Dian Purnawa

Diana Purnawati, Lumajang 23 Oktober 1998. Sedang berusaha menyelesaikan kuliah di jurusan Sastra Unej. Puisi adalah hidupnya yang kerontang seperti kemarau. Bisa dihubungi lewat Ig @dianapurnawati23 atau email [email protected]

beras