Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Perempuan dalam Ingatan Sejarah

Perempuan dalam Ingatan Sejarah

Iklan PMB ITB Tuban


oleh: Dinda Khoirunnisa (Ketua Kopri PMII Rayon Syariah IAIN Jember)

OpiniLiterasi ini bersifat subyektif dan hanya menyorot perempuan dalam nuansa sejarah demi terbangunnya perempuan dari kesenyapan, literasi tentang pahlawan perempuan.

Pahlawan, pada serangkaian sejarah menjadi hal yang tidak pernah boleh terlupakan. Siapa itu pahlawan? Jika kita berbicara sejarah tentu kita tidak dapat melupakan perjuangan Adam dan Hawa. Karena cikal bakal peradaban tetap bersumber pada rahim ibu Hawa, juga meski hal ini masih menjadi perdebatan namun gemerlap dan keteduhan sikap hawa tetaplah menjadi kebutuhan yang melengkapi kehidupan.

Hawa bukanlah makhluk yang perlu dijadikan sebab turunnya Adam dari tanah surga, fakta bahwa perjuangan hawa yang melewati begitu banyak rintangan demi bertemu Adam juga merupakan representasi bahwa Hawa juga turut andil dalam keberlangsungan peradaban manusia. Maka demi melangsungkannya, Hawa juga turut berjuang menemukan Adam di tengah ketakutanya melewati hutan belantara. Dalam hal ini, berjuang merupakan suatu keharusan bagi Adam ataupun ibu hawa. Tanpa keperkasaan Adam, Hawa akan sangat kesulitan. Dan tanpa kesabaran hawa, Adam tidak akan kuat menjalani kehidupan di kesendiriannya.

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita pahami perbedaan diksi wanita dan perempuan terlebih dahulu, karena dalam hal ini kita akan lebih sering bertemu dengan perbedaan-perbedaan berikut. Dalam filosofi jawa wanita dimaksudkan sebagai seorang yang wani ditoto atau mau di tata. Sedangkan Perempuan dimaksud sebagai Empu atau empuan yang berarti tuan/ seorang yang dapat memimpin. Dalam ruang selanjutnya, mengapa terlalu banyak literasi yang hanya menjelaskan pahlawan laki-laki? Padahal tidak sedikit perempuan dalam balutan sejarah yang menjadi baground kekuatan peradaban pada masanya. Jawabanya tentu, karena kurangnya minat baca di kalangan kita sendiri.


Tak perlu rasanya kita beranjak lebih jauh pada teori-teori feminis, karena saya rasa dengan pertanyaan berikut akan cukup mewakili gelitik bagi keperempuanan kita saat ini. Siapa pahlawan perempuan yang sangat kau idolakan?, atau berapa jumlah nama dan kisah mereka yang kau pahami?. Sudahkah kita menghargai jasa mereka?. Apakah sesederhana itu cara kita menghargai jasa mereka?. Satu hal terpenting, jika kita hidup di masa perempuan-perempuan ini bisakah kita mejadi pahlawan yang lebih besar jasanya atau paling tidak bermanfaat bagi sesama?. Bukti sejarah serangkaian kisah dan dilema pahlawan perempuan Indonesia, mari kita ingat bersama.

Jika Kartini berjuang dengan emansipasi melawan kebodohan dan keterbatasan belajar bagi wanita lokal, lalu kemudian mendirikan sekolah bagi perempuan pada masanya. Menjadi pegiat literasi yang bahkan saat ini hanya menjadi angan bagi kita sendiri. Sesederhana itu bagi kita saat ini, namun tidak untuk saat itu. Butuh perjuangan menghadapi monarki kadipaten, apakah kemudian kita juga tidak bisa dan becus untuk sekedar menjaga budaya belajar dan membaca dengan kayanya sumber saat ini?. Atau kita berselancar saja di dunia Nyi Malahayati dan Cut Nyak Dien yang dengan perkasanya turut andil di Medan perang?. Akankah kita akan diam saja ketika tangan-tangan perkasa itu menjamu pedang yang bertebaran?. Bisakah kita kembali pada masa Rajapatni Gayatri seorang tokoh di balik kerja keras suaminya Raden Wijaya dan kejayaan kerajaan Mitreka Satata, Majapahit yang putri, menantu dan cucunya menjadi Raja dan Ratu agung. Dialah sosok ibu dan istri yang menjaga tidak tanduk keluarganya sendiri. Dibalik balutan kenangan, sifat alamiah Hawa juga dapat menjadi bomerang tersendiri bagi manusia di sekitar. Maka pendidikan perempuan merupakan hal mutlak yang mesti diperhatikan oleh perempuan itu sendiri. Tidak sedikit Hawa yang menjadi sebab runtuhnya kejayaan dan tidak sedikit pula Hawa yang menjadi sebab kejayaan. Karena sifat wani ditoto ini, kaum Hawa menjadi sosok yang kalem, perfectionis dan lebih memilih gemerlap. Sedangkan jiwa yang dimiliki perempuan menjadikanya sosok yang ambisius, lebih cerewet dan sosok yang sangat pas untuk dijadikan komentator dari hal kecil hingga besar. Baik sifat alamiah filosofi perempuan dan wanita pada dasarnya menjadi hal yang mesti dimiliki oleh kita semua. Karena menjadi seorang yang hanya mau ditata saja tidak cukup, namun seorang yang tidak mau ditatapun akan sangat kekurangan keseimbangan.

Seorang yang tak mau mencoba menjadi pemimpin karena tak mau belajarpun merupakan kecacatan, namun menjadi seorang yang hanya mau menjadi tuan akan menjadi budak akan nafsunya sendiri. Menjadi pahlawan, tidak hanya melalui peran, namun hati juga turut andil di dalamnya. Selamat hari pahlawan.

beras