Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Suhu Kian Panas Bukti Nyata Krisis Iklim, Walhi Jatim: Solusinya Bukan Menambah AC atau Kipas Angin
Ilustrasi Cuaca Panas. Dok. PIXABAY.COM

Suhu Kian Panas Bukti Nyata Krisis Iklim, Walhi Jatim: Solusinya Bukan Menambah AC atau Kipas Angin

Berita Baru, Surabaya – Dalam sepekan terakhir, cuaca di Kota Surabaya pada pagi hingga sore hari terasa panas atau sumuk. Namun, di sore hingga malam hari tiba-tiba mendung dan akhirnya turun hujan.

Kasi Data dan Informasi BMKG Klas I Juanda, Teguh Tri Susanto membeberkan, ada gangguan siklon dari Barat Sumatera yang membuat sejumlah wilayah Jatim khususnya Surabaya masih turun hujan.

“Kemarin ada gangguan siklon di Barat bagian Sumatera, sehingga berefek tidak langsung ke Jatim,” kata Teguh kepada detikjatim, Jumat (13/5/2022).

Teguh menjelaskan, secara umum wilayah Jatim sudah memasuki awal musim kemarau. Namun beberapa daerah masih terjadi hujan yang disebabkan oleh adanya pengaruh dari daerah pusaran angin (Siklonik).

“Pengaruh dari Siklonik di wilayah Kalimantan bagian selatan, sehingga wilayah Jawa Timur terjadi daerah belokan angin ditambah oleh SST (suhu permukaan laut) yang masih cukup hangat,” kata Teguh.

Namun, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur menilai bahwa cuaca yang kian panas merupakan bukti nyata dari krisis iklim. Dalam laman Instagramnya, mereka mempertanyakan terkait cuaca panas tersebut. “Apa iya ini cuma karena peralihan dari musim hujan ke kemarau?” tulisnya.

Mereka menerangkan bahwa kenaikan suhu ini menjadi pertanda bahwa krisis iklim yang dipengaruhi banyak hal sudah benar-benar terjadi. Krisis iklim ini akan menyebabkan curah hujan meningkat di sebagian wilayah Indonesia. Sedang di sebagian lainnya akan mengalami penurunan curah hujan.

“Sehingga bencana kekeringan dan kebanjiran akan mengancam kita,” imbuhnya. Menurut mereka krisis disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti kian massifnya industri, tingginya pola konsumtif yang membuat meningkatnya jejak karbon, hingga penggunaan energi kotor tidak berkeadilan.

Indonesia saat mengalami kenaikan suhu sekitar 0,96–1,27 derajat celcius hingga 2059. BMKG juga sempat mencatat anomali cuaca pada Maret 2022 dengan rata-rata subu 27,1 derajat celcius.

“Angka itu menjadi anomali suhu tertinggi ke-9 sejak tahun 1981. Sehingga BMKG memperingatkan suhu panas akan terus terjadi hingga Mei 2022,” jelasnya.

Kondisi tersebut, mereka melanjutkan, untuk segera membuat perubahan dari sekarang. Bagi mereka aksi nyata sudah seharusnya kita lakukan dari sekarang untuk mengatasi krisis iklim.

Mereka menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi krisis iklim. Seperti mengurangi jejak karbon dengan gaya hidup minim sampah, menggunakan transportasi publik, serta terha mengkampanyekan upaya energi yang berkeadilan.

Gerakan itu, mereka menilai, dapat mendukung anak cucu kita mendapatkan hak lingkungan yang baik dan sehat. “Jadi perubahan mestinya dilakukan dari sekarang, bukan malah menambah kipas angin atau AC untuk atasi kenaikan suhu,” tegasnya.

beras