Surat untuk Masku Tersayang di Malaysia

Assalamualaikum Mas,

Salam rindu dari aku yang hanya bisa memeluk fotomu dikala resah. Nyatanya, gambarmu di ruang tamu sudah berdebu. Maafkan adikmu yang lupa membersihkannya ini. Oh ya, Apakabar dirimu? Lama sudah tak saling berbalas surat. Kau pasti sangat sibuk dengan dua keponakan kembarku ya? Atau kau pasti disibukkan dengan pekerjaan proyek gedung-gedung bertingkat di Malaysia? Kau pasti betah hidup ditengah-tengah orang melayu muslim di sana. Aku dengar dari istri pak Sakem yang lebih dulu pulang dari Malaysia, di sana orang-orangnya baik. Tuan-tuannya suka bersedekah dan pastinya suka memberi bonus tambahan gaji bagi siapa saja yang kerjanya ulet. Kau salah satu orang yang beruntung itu kan Mas? Semoga dirimu dilimpahkan keberkahan hidup oleh Allah SWT. Amiin

Ah ya Mas, boleh sekejap saja dengarkan adik bungsumu ini bercerita? Tentu ini tentang keluarga di Jawa, Bapak dan Emak kita. Terhitung sejak lima tahun keberangkatanmu ke Malaysia, Bapak dan Emmak fokus bekerja untuk mebiayaiku sekolah hingga sarjana. Bapak bertekad untuk menyewa ladang untuk di tanami pohon sengon, cabai, singkong dan umbi-umbian lainnya. Bapak semangat merawat ladang itu Mas, katanya untuk bekalku sekolah sarjana. Hasil panennya juga melimpah, tidak rugi jika dihitung-hitung dengan tenaga bapak yang terkuras habis.

Emak saat itu tetap istiqomah dengan pekerjaannya. Menjadi ketua arisan barang khusus ibu-ibu di desa. Waktu itu kehidupan keluarga kita sangat makmur Mas. Tapi tidak lama, semuanya berubah sejak aku mulai menginjakkan kaki di sebuah Perguruan Tinggi Negeri kebanggaan Bapak dan Emak. Mereka sangat bangga melihatku melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Aku ingat betul waktu itu selepas aku registrasi ulang, bapak berpesan “Nduk, sekolah pe pateng, jek engak cacak en ruah gagal tenga’an. Been riah anak dibudinah, ben arepan keluarga. Cacak en wak lah tak ning arep”(Nduk, sekolah yang rajin, jangan seperti Masmu itu yang gagal dipertengahan. Kau ini anak bungsu yang diharapakan oleh keluarga. Masmu sudah tidak bisa diharapkan) begitu kata bapak. Sedikit aku menggenangkan air mata rasa tidak terima kau diremehkan seperti itu. Tapi aku sadar, setiap orang tua pasti menginginkan anaknya sukses. Tujuan lain dari Bapak dan Emak memperjuangkan sekolahku yaitu untuk memperbaiki status sosial kita di mata masyarakat di sini. Orang akan memandang kita terhormat apabila berpendidikan dan sukses. Tentunya tolok ukur sukses bagi masyarakat di desa kita adalah siapa-siapa yang berhasil menjadi PNS, guru, dokter, pegawai bank, pengusaha, karyawan atau hal-hal yang tidak berkenaan dengan membajak sawah, ngarit dan nyabit rumput untuk hewan ternak dan tidak menjadi buruh di rantau, seperti kau ini mas. Disayangkan sekali, kita terlahir di tengah masyarakat yang masih konservatif. Maklumi saja.

Berita Terkait :  Pembukaan SKK, Kopri Mojokerto Komitmen Menangkal Kekerasan Terhadap Perempuan

Kembali pada ceritaku Mas. Semester ketiga aku kuliah, bapak menjual mobil pribadi kesayangannya Mas, pastinya kau sudah tahu kan. Aku yakin, uang hasil penjualan mobil itu untuk membayar Uang Kuliah Tunggalku (UKT). Lalu pada semester 5 dan 6, bapak dan emak kita bersepakat untuk menambah hewan ternak kita di kandang. Ladang itu juga dijual Mas. Kehidupan kami mulai tak enak, tidak senormal biasanya. Hal itu juga menjadi buah bibir tetangga. Kata mereka “Deyyeh sarah ye a merjuang agin anak sekola tenggih. Guk lagguk padahal gitak etemmuh bekal deddih oreng ontong apah njek. Nisera sampek ajuel muntor bik sabenah” (Begitu kerasnya dalam memperjuangkan anak agar bisa sekolah tinggi. padahal masih belum tau nanti akan jadi orang sukses atau tidak. Kasihan, sampai jual mobil dan sawah). Lagi-lagi orang tua kita jadi nyinyiran orang sekampung. Panas kupingku Mas, panas.

Di tambah lagi, di dapur bahan-bahan sembako sudah tidak selengkap dulu, pasti emak nyicil membeli bahan keperluan di warung sebelah. Kadang juga ngutang. Sungguh, kadang aku juga tak tega mas. Pernah, tak sengaja aku melihat mama mojok di kamar menghitung uang arisan. Ia memakai kacamata karena sudah tak sebinar dulu penglihatannya. Emak berunglangkali mengecek, menjumlahkan uang-uang itu. Selalu, setiap kali aku hendak balik ke perantauan. Emak menghitung penghasilannya keliling desa setiap seminggu dua kali. Pekerjaan yang melelahkan. Emak berangkat jam 1 siang lalu balik ke rumah jam lima atau kadang jam enam sore dengan basah kuyup seperti musim hujan sekarang ini. Emak suka lupa tidak membawa payung mas.  

Berita Terkait :  Ratna Juwita: Sahkan RUU PKS

Lalu ia memberiku uang, dua ratus, tiga ratus, tiga ratus lima puluh bahkan lima ratus sesuai kebutuhan. Emak selalu bilang, “segini cukup?” Aku tidak mampu menjawab. Aku menghibur diriku sendiri kadang bilang sejuta, dua juta cukup maaak Hehheee. Emmak ikut tertawa meskipun ia tahu bahwa uang yang diberikannya sebenarnya kurang untuk bulananku. Lalu ia melanjutkan perkataannya, “segini dulu ya nanti kalau kurang Emak kirimkan lewat pos.”  Hatiku bergemuruh… Aku tau Emak tak ada uang. Mama harus menunggu beberapa minggu lagi untuk berkeliling menagih arisan di desa, menjajakan baju-baju yang dihutangi, kadang jika mendesak menjual ternak-ternak seperti ayam, bebek, kambing bahkan perhiasan. Emmak kita hanya memakai anting dan cincin pernikahannya sekarang. Sekarang, ia adalah tulang punggung keluarga setelah Bapak sering jatuh sakit. Ia benar-benar perempuan hebat yang tak punya apa-apa lagi selain tenaga dan senyumannya yang paling sabar.

Kabar Bapak, kakinya sudah tak sehat. Kata dokter terkena kolesterol. Jalannya bapak sudah pincang. Tapi ia memaksa sehat, ia dibantu dengan obat-obatan dari dokter, pengobatan alternatif, tradisonal seperti jamu pahit. Ah aku tak kuasa melihat tubuhnya yang ringkih.  Bapak berusaha untuk embantu Emak dalam melakukan rutinitas mencari makan kambing dan sapi-sapi kita. Kalau tidak salah ada dua belas kambing (itupun milik tetangga yang dirawat bapak), sapi limusin tiga. Itupun juga sama milik tetangga. Sebenarnya Bapak sudah tidak kuat menyonggol rumput-rumput yang besar talinya. Tapi ia memaksa. Katanya, “bapak wes ga kerja apa-apa yangg bisa menghasilkan uang. Hanya ini yg bisa dilakukan. Untuk tabunganmu nanti, untuk uang kuliah tunggalmu atau tabungan nikahmu.” Seketika aku menangis, betapa takutnya aku tidak dapat mewujudkan harapan besar mereka Mas.

Berita Terkait :  Diskusi Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Sulteng, Kepala DP3A: Laki-laki Harus Ikut Serta

Mas, setelah mendengar ceritaku ini apakah kau akan pulang bersama istri dan anak-anakmu? Apakah kau akan memutuskan untuk melanjutkan hidup di tanah kelahiran kita ini demi menjaga bapak dan emak kita yang sudah mulai ringkih. Bukan apa-apa Mas, ini sudah waktunya kau memaafkan kesilapan mereka. kemarahan yang dipendam bertahun-tahun tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Yang ada hanya menimbulkan kebusukan hati yang mengkarat. Ingat mas, surgamu masih ada pada mereka.

Akulah yang bertanggung jawab atas keberlanjutan hidup keluarga ini. Kau tak perlu berkecil hati karena tidak mampu mewujudkan keinginan mereka memiliki anak yang sukses. Kaulah laki-laki sejati yang harusnya tangguh. Dan akulah perempuan itu, adik kecil yang sering kau sebut mungil ini akan bertaruh pada kerasnya hidup ini. Demi menyatunya keluarga kita. Aku adalah seonggok daging yang kesepian melihat pengorbanan bapak dan emak, sudah saatnya kita bergegas menghidupi mereka Mas. Membiarkan mereka hidup tenang menikmati senja dan kopi diteras rumah, atau sekedar menyiram bunga di pagi hari dan beristirahat. Kitalah kedua manusia yang dituntut untuk bekerjasama untuk menyelesaikan semuanya.

Jadi pintaku saat ini mas, pulanglah. Kau tak rindu kami?

Lihat tanda tanya itu yang berisikan lirihnya doa bapak dan emak selepas maghrib. Untukmu,

Tertanda,

Adikmu tercinta
Maria 

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini