Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tadarus Negeri

A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim
Bismillahirrahmanirrahim

Demi negeri yang lautnya menyanyikan senandung doa, riak ombaknya mengulum detak batu karang, ikan-ikan bersahutan memuja kuasa ilahi, lambai daun nyiur serta girang kanak-kanak berlarian dibibir pantai, mengantar para nelayan mengarungi samudra lepas, inilah surga dimana setiap harap bergemuruh pada gunung dan hamparan sawah yang birunya seindah pelangi, Indonesia katanya, “gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo”.

Tapi aneh! kini lautnya pekat, bangkai ikan berlimbah industri menjadi pemandangan indah saat berlayar, hutan yang semula menjadi penyanggah ekosistem gundul entah kenapa, sawah yang terhampar luas, darinya anak cucu kita dewasa rata dengan etalase kapitalis, tak lagi kunikmati seteguk air segar dari mata air pegunungan sebab meminumnya harus membayar upeti pada negeri asing.

Ditempat yang lain para birokrat sibuk menyusun anggaran rakyat, mengajari cara berpakaian, bercocak tanam, mengurus binatang bahkan sampai urusan ranjangpun menjadi topik perbincangan hangat menjelang akhir masa jabatan, korupsi dibiarkan merajalela, tanpa malu status sosial dipertontontan, para cendikiawan sibuk menyusun rumus sandang pangan, ekspor impor dengan sadisnya mencekik rakyat jelata, begitu juga dengan agamawan yang rela menjual dalil demi kemakmuran pribadi dan golongan, padahal diluar sana anak cucu kita bertikai atas nama Agama.

Aku rindu
Saat Bhineka Tunggal Ika menjadi rumah kebersamaan tanpa harus menjatuhkan satu sama lainnya.

Aku rindu
Saat orang-orang berbondong bahu membahu membersihkan selokan, menyisir sampah
disungai, menyapu halaman dan bertutur sapa saat berpapasan.

Aku rindu
Saat anak-anak bermain petak umpet, klereng, layang-layang tanpa terhegemoni gadget yang
setiap waktu bisa menjadi monster pemangsa.

Demi negeri yang tanahnya subur dengan beraneka ragam budaya didalamnya, biarlah aku mengaji mengeja setiap bait kemerdekaan.

Shadaqallahul Adzim

Penulis: Imron Amrullah (Penulis buku Kado untuk Istriku dan Dzikir Sajak)

Jakarta, 08.10.2019.

beras