Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tim Periset UNJ bersama Disbudpar Kabupaten Banyuwangi Gelar FGD Pewarisan Seni Tradisi Gandrung Terob

Tim Periset UNJ bersama Disbudpar Kabupaten Banyuwangi Gelar FGD Pewarisan Seni Tradisi Gandrung Terob



Berita Baru, Banyuwangi – Tim Periset UNJ bersama Disbudpar Kabupaten Banyuwangi Gelar FGD Pewarisan Seni Tradisi Gandrung Terob pada hari Sabtu, (24/06/2023) di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. 

FGD untuk menghimpun respons dan harapan kalangan pelaku seni gandrung, budayawan, pelaku industri kreatif, DKB, LP2M Untag, dan tokoh masyarakat dengan menghadirkan dua puluh peserta dari berbagai kalangan.

Kergiatan ini sebagai salah satu wujud luaran penelitian terapan yang didanai DRTPM tahun 2023 dengan mengujicobakan hasil melalui pergelaran gandrung terob yang dikaitkan dengan Calender Banyuwangi Festival (BFes).

Pewarisan dilakukan melalui pelatihan gandrung terob dengan metode nyantrik, yaitu peserta pelatihan mengikuti kegiatan gandrung yang menjadi guru pilihannya. Dua penari gandrung (Lusi dan Rina) berada di bawah bimbingan Bu Temu Misti dan satu peserta (Fika) di bawah bimbingan Bu Mudaiyah.

FGD menghadirkan dua narasumber, yaitu Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (UNJ) sebagai ketua tim periset dan Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. (UNESA) sebagai pembahas. 

Dalam sambutan pembuka Anoegrajekti, menyampaikan produk dari pelatihan. 

“Hasil pelatihan ini telah melahirkan tiga penari gandrung yang akan meramaikan pergelaran gandrung terob di Banyuwangi. 

Gerak dan cengkok tembang gandrung Banyuwangi telah terasa, dan perlu terus diasah dan dikembangkan,” ujar Anoegrajekti.

PLH Disbudpar, Choliqul Ridha menyampaikan rasa senangnya menjadi mitra riset yang secara konsisten menggali dan mengembangkan seni tradisi di Banyuwangi. 

“Terima kasih kepada Prof Novi bersama tim yang terus melakukan inovasi dan kreasi melalui riset yang diselenggarakan di Banyuwangi,” jelas Ridha.

Metode “Nyantrik”

Dalam paparannya, Anoegrajekti menyampaikan perjalanan riset di Banyuwangi yang sudah berlangsung sejak tahun 1997. 

Pelatihan dengan metode “nyantrik” merupakan keputusan bersama yang dihimpun melalui observasi, wawancara, dan dialog dengan pelaku seni, budayawan, birokrat, dan DKB.

“Kang Purwadi sebagai mitra riset dalam serangkaian FGD dan pertemuan informal, secara konsisten berharap pelatihan dengan metode nyantrik yang memberikan tanggung jawab kepada pelatih untuk terus mendampingi agar menjadi penari gandrung yang berkualitas”, ungkap Anoegrajekti.

Dalam paparannya, Setya Yuwana memandang bahwa metode “nyantrik” yang memerlukan keterlibatan total murid dalam keseluruhan aktivitas guru dipandang efektif sebagai cara pewarisan seni tradisi.

“Pilihan metode nyantrik sesuai untuk model pewarisan seni tradisi gandrung,” ungkap Setya Yuwana. Dicontohkan juga seperti yang terjadi pada Prof. Suripan dan Prof. Teeuw yang melibatkan para muridnya dalam kegiatan sehari-hari di keluarganya, seperti berbelanja dan mengepel.

Selesai paparan dilanjutkan dengan diskusi dan pembahasan yang disampaikan oleh para peserta FGD. 

Kalangan youtuber mengalami kendala dalam mendokumentasi dan memublikasi pergelaran gandrung karena penggunaan minuman keras (bir dan sejenisnya). “Botol minuman keras yang tertangkap kamera menjadi citra negatif,” ungkap para youtuber.

Situasi seperti di atas memerlukan hadirnya negara (pemerintah kabupaten Banyuwangi) melalui regulasi yang mengikat seluruh anggota masyarakatnya, seperti yang disampaikan oleh Purwadi. Selanjutnya ketua DKB menyampaikan bahwa gandrung saat ini telah di terima di kalangan pesantren dan sekolah-sekolah berafiliasi Islam.

Keberterimaan tersebut menunjukkan keterbukaan masyarakat dan kemampuan para seni yang terus berinovasi dan berkreasi agar berterima di kalangan masyarakat.

Tim Periset UNJ bersama Disbudpar Kabupaten Banyuwangi Gelar FGD Pewarisan Seni Tradisi Gandrung Terob

beras