Diskusi Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Sulteng, Kepala DP3A: Laki-laki Harus Ikut Serta

Berita Baru Jatim, Surabaya – Sikola Mombine bekerjasama dengan The Asia Foundation, The David Lucile and Packard Foundation dan Beritabaru.co menggelar Podcast bersama dengan Ihsan Basir, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulawesi Tengah, Senin (29/03/2021).

Ihsan mengatakan, pemberdayaan pria upaya menggeser perspektif sekaligus pola pikir laki-laki tentang relasi gender. Banyaknya kekerasan berbasis gender di Sulteng dipicu dari ketidaktepatan memahami relasi tentang gender.

“Mudahnya begini, bagaimana mereka bisa tidak bertindak keras jika apa yang ada di kepalanya saja hal itu adalah wajar?” tanyanya.

“Bicara pemberdayaan dan kekerasan terhadap perempuan, hal awal yang pantas dicoba. Memberdayakan para bapaknya dan memberi mereka perspektif baru,” tambahnya.

Ihsan mengungkapkan 82-89 persen pelaku kekerasan perempuan dan anak di daerahnya adalah laki-laki. “Jumlah antara perempuan dan laki-laki di situ pun berjarak antara 100 banding 104. Dari 100 perempuan terdapat 104 laki-laki,” ungkapnya.

Ia menilai pemberdayaan untuk pria untuk menekan jumlah kekerasan berbasis gender menjadi kuncinya.

Berita Terkait :  RUU PKS Tak Kunjung Selesai, Tagar #SahkanRUUPKS Trending Topic di Twitter

“Ide soal pemberdayaan laki-laki untuk perempuan ini banyak terilhami oleh John Grey, penulis buku Men are from Mars, Women are from Venus (1992), seperti yang pernah ia tulis 10 tahun silam saat masih di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda),” ujarnya.

Lanjutnya, ia bermaksud mengoptimalkan idenya itu ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk melibatkan pria untuk memberdayakan perempuan dan anak.

“Program ini berhubungan dengan menjadikan para bapak ini corong di seminasi model relasi gender yang baik. Jika kita ingin memberdayakan Kartini, misalnya, maka kita coba lewat Kartono. Begitulah kira-kira gambarannya,” jelasnya.

Program diskusi rutin dengan melibatkan masyarakat, khususnya bapak-bapak, tentang relasi gender dan reproduksi. Sebab rupanya di lapangan, para bapak hanya sedikit yang punya pemahaman baik.

“Jadi, dari situ, kami malah bersemangat untuk memberdayakan mereka, para bapak, bahkan salah satu tema yang pernah kami pakai itu adalah ‘Aku, Perempuan, dan Kopi’. ‘Aku’ di sini ya menunjuk pada bapak-bapak,” imbuhnya.

Berita Terkait :  Jelang Pilkada, Perempuan Tak Boleh Takut Masuk Ruang Politik

Selalu belajar memahami pasangan adalah langkah penting untuk mencegah terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sebab tidak jarang, KDRT di picu oleh hal-hal sederhana, seperti kurang perhatian.

“Soal perhatian saja, saya pikir, sebagai laki-laki, kita harus bisa memahami bahwa perempuan atau istri, sebut saja, lebih suka pada intensitas, bukan kualitas. Daripada diberi satu tas mahal sekali tapi hanya satu tahun sekali, ia jauh lebih bahagia jika diberi hanya setangkai mawar tapi tiap hari,” jelasnya dengan gelak tawa.

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini