Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Zumrotun Nafisah
Zumrotun Nafisah. (Dok. Foto: Istimewa)

Jalan Panjang Seorang Icha

beras

Berita Baru, Surabaya – Perempuan itu lahir di Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan 27 tahun lalu. Perkenalannya pada isu-isu sosial, politik, dan ekonomi bermula dari sebuah kampus swasta di Pantura Jawa Timur. Universitas Merdeka Pasuruan menjadi pijakan pertama perempuan kelahiran 19 Februari 1995 itu mengenal dinamika kehidupan organisasi mahasiswa.

Sekira 2014, ia mengenakan almamater kampus dan resmi menjadi seorang mahasiswi. Di tengah hiruk-pikuk kesibukannya belajar diktat-diktat ilmiah studi Manajemen di kampus, ia tak lupa untuk bergulat dan terlibat di sebuah organisasi mahasiswa bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Di organisasi itu, ia mulai belajar tema-tema keislaman dan pembebasan. Sebenarnya, pondasi dasar keagamaannya telah dibentuk dengan Al-Qur’an, Hadist, kitab-kitab klasik, di Pondok Pesantren Terpadu Miftahul Ulum Al-Yasini di Pasuruan. Secara akidah barangkali tak perlu diragukan.

Dasar keagamaan itu ia tebalkan dengan kajian-kajian kontemporer. Pelbagai pengetahuan anyar ia kantongi. Organisasi biru kuning itulah yang mengajarinya. Namun, sebagai perempuan yang haus pengetahuan, ia pun melibatkan diri dalam sebuah organisasi intra kampus.

Setahun setelah dirinya resmi menjadi mahasiswi, tepatnya 2015, ia diamanahi di Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Merdeka Pasuruan. Setahun periode pelbagai tempaan ia terima sebagai pelajaran berharga. Dinamika organisasi turut mewarnai kehidupannya di kampus.

Tak dinyana, setahun berikutnya, ia diminta untuk menggawangi politik kampus. Perempuan yang baru dua tahun menempuh studi itu resmi ditetapkan menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kongres Mahasiswa. Lagi-lagi, perjalanannya dalam berorganisasi ia jadikan sangu di masa depan.

Perlahan, ia mampu mendiagnosa pelbagai problem di organisasi. Kondisi itu membuat perempuan ini dikenal sebagai problem solver handal. Kerikil-kerikil masalah di organisasi itu ia atasi. Kemanpuannya dalam analisis dan berpikir kritis menjadi peluru emas. Terlebih keahlian komunikasinya semakin melengkapi.

Semakin menceburkan diri dalam kubangan dinamika organisasi, semakin membuatnya tertarik. Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menjadi tempat singgah berikutnya. Isu-isu perempuan dan anak kian menarik perhatiannya.

Bagaimana tidak, di sela proses belajarnya di BEM, ia mengambil bagian untuk terlibat di Pendampingan Program Feminisasi Kemiskinan. Tak hanya itu, ia juga melibatkan diri di Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Anak, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Pasuruan. Isu perempuan dan anak semakin menyita perhatiannya.

Hingga di tahun 2019 ia terpilih untuk menahkodai Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Putri (KOPRI). Di bawah kendalinya, racikan kaderisasi perempuan PMII Pasuruan ia ramu. Di tahun yang sama pula, ia kembali melibatkan diri dalam sebuah organisasi, Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) di Devisi Pendidikan dan Pelatihan.

Setahun sebelum ia terpilih sebagai Ketua KOPRI, asupan bergizi yang ia kantongi yakni ia mengikuti dua pelatihan. Pertama, Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama’ (NU) yang diadakan oleh Pengurus Cabang (PC) NU Kabupaten Pasuruan; Kedua, Training for Fasilitator, yang dilaksanakan oleh Pengurus Besar (PB) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU).

Pelatihan itu tak membuatnya puas. Posisi strategis di PMII pun tak lantas ia berhenti belajar. Pelatihan Paralegal yang dilaksanakan Lembaga Bantuah Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) tak luput menjadi wadah belajarnya saat menjabat Ketua KOPRI.

Pelbagai kegiatan mewarnai kehidupannya. Mulai dari Tim Pelaksana Inovasi Desa, Penyelenggara Pemilihan Kecamatan (PPK), Kader Pengawas Partisipatif Bawaslu Kabupaten Pasuruan, hingga hari ini tengah disibukkan di Tenaga Kerja Sukarela (TKS) Kementerian Ketenagakerjaan RI pendamping TKM Provinsi Jawa Timur.

Di samping itu, perempuan yang aktif di sebuah organisasi yang memiliki tokoh sekaliber Mahbub Djunaidi, tak membuatnya diam. Catatan-catatan Si Bung membuat perempuan itu pun menuangkan gagasannya di pelbagai essai-essai. Beberapa catatan kritis dan reflektifnya tersebar di banyak media.

Dan sekali lagi, perempuan itu tak diam saja. Kini, dengan seuntai basmalah, ia ingin belajar dan berproses untuk menguji ramuan kaderisasinya di KOPRI, Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur.

Perempuan itu bernama lengkap Zumrotun Nafisah. Perempuan yang akrab disapa Icha itu, akan terlibat dalam hajatan demokrasi Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) XXIV di Banyuwangi, Agustus mendatang sebagai Calon Ketua KOPRI.

beras